Kamis, 25 Juli 2024

Mencari Damai

Aku kenapa? Selalu merasa tidak bermakna, aku sering merasa terasingkan. Ada yang membuncah di dalam sanubari, tidak tahu apa. Apakah ini penyakit? Sepertinya bukan karena ragaku tak kurang satu apa pun, bahkan amat bugar.

            Aku berlabuh di satu pemberhentian yang tak pernah kulalui sebelumnya. Ini adalah rute baru yang sangat mengesalakan. Semua teramat asing, bahkan manusia-manusianya. Akan tetapi, aku tidak punya pilihan. Hidupku sudah ditentukan dan bukan akau yang membuat keputusan. Ini adalah suatu keharusan.

            Perjalanan ini akan berlangsung amat panjang. Kuanalisis, setidaknya ragaku mampu menopang jiwa hingga satu abad ke depan. Kuharap tidak sia-sia. Jujur, akan terlalu membosankan jika setiap detiknya aku hanya harus berjuang untuk menjadi lebih baik. Akan sangat melelahkan jika setiap aku menarik napas, yang ada hanya sesak dan sakit. Aku ingin oase. Akan tetapi, apakah rasanya akan lebih menegangkan jika ada masa-masa penuh pengharapan? Seprtinya, kalau hidup hanya begitu-begitu saja, akan sangat memuakkan, bukan?

            Bau amis menyeruak, menyentuh indera paling sensitif dalam diriku. Aku mencium yang tak seharusnya. Seandainya itu amis dari ikan yang lama dibiarkan, aku masih bisa tahan. Ini lebih seperti amis yang membuat mual. Ini adalah bau darah manusia yang mengering terpapar panas matahari. Aku muntah.

            “Kau harus terbiasa, Kirana. Dunia luar memang semerbak!”

            Suara yang amat berat, tetapi begitu akrab di telingaku membuatku menghentikan usahaku untuk mengeluarkan sisa makanan dari dalam perutku. Dia adalah Abah Ageung, kakek yang sudah lama menjadi pengganti Bapak bagiku. Dia adalah sosok renta yang sudah berani mengambil alih peran orang tua. Mamah sudah lama pergi, pun dengan Bapak. Mereka telah kembali ke haribaan Yang Maha Pencipta. Raga mereka sudah terpendam di dalam tanah, tetapi jiwa mereka senantiasa membersamai setiap liku hidupku. Sejak itu, Abah Ageung lah yang bersedia memungut anak yang kosong ini. Sebenarnya, dialah yang paling berhak karena dia adalah ayah dari Mamah.

            “Perutku mual sekali. Baunya sangat menusuk. Aku tidak terbiasa,” ujarku.

            “Beginilah bau dunia, Kirana, menyengat dan memabukkan. Kau harus terbiasa dengan segala jenisnya,” nasihat Abah Ageung sambil memijat-mijat leherku.

            Bak profesional seorang pemijat, Abah Ageung membuatku merasa nikmat yang amat. Perutku bereaksi, semua isinya terkuras habis. Seperti yang kumakan tadi pagi sebelum berangkat, nasi goreng dan ikan tongkol sudah berubah menjadi bubur dan terhidang bagi bangsa hewan yang menginginkanya. Muntahanku berbau busuk, membuatku lebih mual dari sebelumnya. Abah Ageung membawaku menjauh darinnya. Aku kini duduk di sebuah dipan panjang.

            Warung ini penuh debu yang terpenjara dalam lengketnya angin laut. Menempel dan menggumpal, debu itu menimbulkan kusam dan suram. Ada pola yang terpatri di atas meja sebagai tanda bahwa manusia datang silih berganti ke warung ini. Teh hangat mengepul di hadapaku di bagian paling bersih dari meja warung itu. Abah Ageung meraba gelas itu dengan punggung tangannya.

            “Hangat, minumlah segera!”

            Seteguk sudah membuat perutku nyaman. Manis dan hangat seperti kata Abah Ageung. Aku mulai bertenaga. Nyawaku perlahan berkumpul kembali.

            “Tidak semua penghuni bumi ini peduli dengan luka yang terpatri di tubuhnya, Kirana. Tidak semua sakit diseriusi. Bukan karena tidak merasakannya, melainkan itu tidak sebanding dengan tuntutan perut-perut yang minta diisi. Luka itu tidak dapat mengalihkan lapar yang menyeruak dari usus yang kosong,” jelas Abah Ageung.

            Aku mengangguk. Benar kata Abah Ageung. Sakit masih bisa ditahan hingga luka mengering, tetapi lapar akan menjadi semakin parah jika tak didengar. Lapar hanya akan menjadi semakin kronis seiring waktu, tetapi luka di kulit akan membaik. Sayangnya, lapar tidak beraroma sehingga aku tak dapat membedakan mereka. Jika mengeluarkan bau, rasa-rasanya aku akan lebih mabuk daripada ini. Sungguh, aku tidak akan mampu membayangkan dahsyatnya aroma kelaparan.

            “Bah, mualku telah hilang. Sekarang, aku menjadi sangat lapar. Percuma tadi pagi aku sarapan,” ucapku sembari mengusap-usap bagian perutku.

            “Kau lebih tahan terhadap bau darah atau lapar yang sekarang kau rasa?” Abah Ageung malah bertanya.

            Diam. Aku tidak punya jawaban. Keduanya sangat memuakkan. Keduanya membuatku tidak tenang. Bau darah membuatku mual dan lapar mmembuatku tidak mampu berpikir dengan jernih. Dengan keduanya, aku bisa saja mati. Apakah sudah ada berita tentang orang yang meninggal karena membaui darah secara berlebihan? Sejauh ini, aku tak pernah mendengarnya. Sementara itu, manusia yang meninggal karena kelaparan? Kurasa banyak meskipun hanya sampai gorong-gorong. Bukankah mati kerena bunuh diri lebih bermartabat ketimbang mati karena kelaparan?

            “Perutku minta diisi. Namun, aku masih bisa bertahan. Mari kita beranjak dan pergi ke tempat tujuan kita, Bah,” pintaku kemudian.

            Abah Ageung menyeringai. Rokok yang semula akan dia nyalakan, dimasukkannya kembali ke dalam wadahnya. Abah tidak pernah membeli bahan bakar untuk memproduksi banyak asap itu, Dia melintingnya sendiri. Sering kudapati Abah menjilati kertas-kertas papir untuk membalut tembakau yang telah dia iris sendiri. Entah dari mana asal mula daun-daun itu. Abah Ageung selalu tidak pernah kehabisan stoknya.

            Abah Ageung beranjak dari duduknya dan aku mengikutinya. Dari belakang, aku melihat tengkuknya yang hitam legam, kontras dengan kulit tangan bagian atasnya. Sehari-hari, Abah bekerja melaut. Sebagai sosok renta, dia belum pensiun dari profesi yang dia geluti sejak usianya dini itu. Pernah kutanya, alasannya bertahan mengelana di laut lepas. Katanya, hanya ini cara yang kutahu untuk memberi hidup. Padahal, aku tahu bahwa tanggung jawabnya terhadapku yang teramat itu lah yang membuatnya selalu bertempur dengan ombak di lautan. Sejak itu, aku tidak pernah bertanya lagi.

            Langkahku terhenti saat Abah Ageung juga menghentikan langkahnya. Apa yang membuat Abah berhenti tanpa memberi aba-aba? Kusejajarkan poisis tubuhku dengan tempat Abah berdiri. Kulihat arah pandangnya, lalu kuusahakan untuk melihat yang Abah pandangi. Seperti lalat hijau yang mengerubungi bangkai, puluhan manusia berkumpul entah untuk apa.

            “Sedang apa mereka, Bah?”

            Abah menggelengkan kepalanya. Aku penasaran. Kupalingkan pandangan dari Abah Ageung. Aku telah menjadi lalat hijau yang ingin segera hinggap di bangkai berbau menyengat. Sayangnya, tangan Abah Ageung menghentikan langkahku.

“Apa yang membuatmu menjadi begitu bersemangat, Kirana?” ujar Abah Ageung sembari menurunkan tangannya.

“Yang ada di balik kerumunan orang-orang itu, Bah!”

“Rupanya kau tak ubahnya lalat buah. Kau ribut tatkala ada bising dan berkeinginan untuk turut serta mencabik daging buah yang ranum.”

Kali ini, aku tak memahami perkataan Abag Ageung. Pikiranku menyerbu untuk memburu sumber kerumumnan. Perkataan Abag Ageung kuhiraukan. Serampangan, aku berlalri. Terkesiap. Aku menyelusup di antara tubuh berbau peluh. Kini di hadapanku tergolek seonggok bangkai. Manusia. Lelaki. Muda. Jasad yang ditutup dengan koran. Berbau. Aku hampir lepas kendali. Abah Ageung segera menarikku keluar dari kerumunan itu. Aku telah diselamatkan, pikirku.

“Manusia itu rentan, Kirana. Kau tidak pernah tahu seberapa kuat dirimu sesungguhnya, juga sebaliknya. Kadang, kau hanya perlu tahu batasan diri. Kadang juga, kau hannya perlu tahu waktunya untuk berhenti. Kalau tidak tahu diri, kau pun akan sama dengannya. Mungkin saja ragamu akan dihinakan di tengah kerumunan seperti yang kau saksikan. Bagaimana, apa kau mengerti?” tanya Abah Ageung.

“Kalau tahu akan mati, aku akan mati dengan bermartabat. Aku akan biarkan diriku teronggok nyaman di atas kasur berselimut sutera,” ucapku dengan jantung berdegup kencang, otak yang terasa panas, dan paru-paru yang sesak. Aku ingin berteriak, histeris.

“Kalau itu adalah kata pengandaian. Yang nyata tidak pernah memberimu aba-aba. Semuanya akan terjadi, bahkan tanpa kau minta, tanpa kau duga.”

Perkataan Abag Ageung kuabaikan. Aku kembali mengikuti langkahnya meninggalkan kerumunan. Jejak kakinya kini berbekas. Dia menginjak genangan air. Basahnya masih belum sirna. Desah napas Abah terdengar sangat dalam. Aku tahu, Abah juga sangat rentan. Dia sedang mengendalikan sesosok tak bernyali di dalam dirinya. Sepertinya, menjadi tua membuatmu menjadi lebih tak berdaya. Kau akan menjadi lebih tahu banyak hal, seolah terbiasa, padahal itu tak membuatmu kebal.

Entah sampai kapan Abah Ageung akan melangkahkan kakinya. Akan selalu kuusahakan untuk mengikutinya, entah dari belakang atau dari sampingnya. Aku menyadari bahwa untuk menjadi setara dengannya butuh waktu yang tidak sebentar. Namun, aku akan memulainya dari sekarang. Aku akan mencari damaiku sendiri.

             

 

 

Rabu, 26 Juni 2024

Dari Balik Jeruji

                 Apa dengan mendengar suaranya saja sudah cukup? Begitu pertanyaan yang kerap ditujukan kepadaku beberapa minggu ini. Bukan tanpa alasan, sejak pertama kali megenal Daraupadi, tak pernah sekali pun secara langsung aku melihat wajahnya. Meskipun begitu, aku seolah sangat mengenal sosok fana yang wujud nyatanya tak pernah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Fotonya yang terpampang sebagai profil WhatsApp-nya itu adalah yang meyakinkanku tentang eksistensinya di dunia ini.

            Aku yang termasuk bagian dari generasi yang katanya lembek seperti stroberi itu sering kali berpikir bahwa hidup itu selalu terpusat kepada diriku seorang. Bahwa di dunia ini telah hidup miliaran manusia, bukanlah suatu pembatas atas imaji yang tidak pernah lenyap itu. Bahwa setiap manusia yang ada di dunia ini selalu berniat baik kepadaku, juga menjadi bumerang tersendiri saat itu memiliki potensi untuk terjadi.

            Saking bodohnya, hidup memang tidak pernah bercanda kepada manusia yang dikehendaki. Aku mungkin menjadi bagian dari yang dipermainkan itu. Kedunguan yang telanjur mematri itu memberikan efek trauma yang teramat pada akhirnya. Aku telah teperdaya oleh sesama. Hartaku habis, kepercayaan diriku lenyap, keberanianku hilang. Bahkan, tidurku menjadi tidak lagi berkualitas. Dengan waktu lama yang kuluangkan untuk tidur, aku hanya membuat tubuhku semakin lemah. Pelarian yang rasanya sia-sia.

            Upaya terbaik untuk memperjuangkan hak telah aku lakukan, tetapi tidak berbuah kabar baik. Kepada pihak yang katanya bertugas memberikan keadilan bagi masyarakat, ternyata tidak juga ada lampu hijau. Justru, mata mereka hanya memancarkan hujatan. Sadar, aku telah disepelekan dari berbagai sisi. Sebagai perempuan, aku telah diolok-olok. Sebagai seorang individu, aku telah dicoreng rasa kemanusiaanku. Padahal, saat itu aku hanya sedang berikhtiar, tetapi tidak ada satu pun yang berkenan mendengarkan.

            “Ada yang bisa dibantu, Mbak?” tanya seorang petugas yang kuduga sebagai penyidik yang belum lama bertugas.

            Sungkan, aku enggan untuk menceritakan detail perkara yang menimpa. Lubang hidungku terasa menyempit, paru-paruku sesak. Aku tidak mau menceritakan kebodohanku ini kepada siapa pun. Akan tetapi, untuk apa aku datang kemari jika tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Namun, begitu kelu, aku tak sanggung mendeskripsikan kisah itu.

            Lagi, kutarik napas dalam, sangat dalam. Aku memulai cerita.

            “Aku ini bodoh. Kurelakan kepercayaanku diobrak-abrik, hartaku digasak habis, hidupku dibuat kacau.”

            Sang penyidik tampak mengerutkan dahi, dia berusaha mencerna perkataanku. Sambil memain-maikan ponselnya, dia menerawang jauh ke depan.

            “Media apa yang berperan?”

            “Media sosial, media yang sesuai dengan namanya, membawa kesialan.”

            “Penipuan? Pemerasan?”

            “Pembunuhan karakter!”

            Sepertinya bahasaku terlalu berjarak dengan sang penyidik. Dia terlihat semakin kebingungan dan aku pun semakin tidak sanggup berkata-kata lagi. Kami pun diam, hening. Yang terdengar hanya hembusan napas kami yang seolah saling menyahut. Ada keresahan, kemarahan, sekaligus kebingungan dalam deru napas itu. Entah milik siapa yang paling tajam menghunjam ke sanubari. Sang penyidik dan aku nyatanya sama-sama berpandangan kosong.

            Sejujurnya, dia bukan tidak paham, aku yakin. Dia hanya sedang menyimpulkan banyak hal. Mungkin, bukan hanya masalahku yang mengisi penuh benaknya, banyak juga yang telah mengadukan permasalahan lain kepadanya.

            “Anda bisa melihat jejak digital yang tersimpan di ponselku. Itu pun jika Anda mau.”

            Kusodorkan ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman. Sang penyidik meraihnya dan mulai menggeser-geser jempolnya di layar ponselku. Raut wajahnya mulai berubah. Dia semakin mengerutkan kening dan jempolnya semakin cepat menggeser layar ponsel.

            “Banyak juga yang mengalami kasus serupa dengan, Mbak.”

            “Lalu bagaimana? Apakah mereka yang berbuat itu biasa diadili? Tindakan mereka sangat terencana dan detail.”

            “Kebanyakan, berakhir begitu saja. Mereka yang melakukan ini lebih banyak beroperasi dari balik jeruji.”

            “Mengapa bisa?”

            “Mereka berkomplot, beroperasi, dan bertransaksi dengan sembunyi-sembunyi.”

            “Penjara sekarang membebaskan penghuninya bermain ponsel?”

            “Oknum.”

            “Apakah mereka bisa diadili?”

            “Mereka sedang diadili, bukan?”

            “Namun, bukan untuk perkara yang mereka perbuat kepadaku.”

            “Mereka harus menyelesaikan hukuman terdahulu, barulah perkara Anda bisa diproses.”

            Semakin lemas lututku mendengar realita penegakan hukum di negeri ini. Sel yang sejatinya adalah ruangan untuk introspeksi dan pemberian hukuman bagi pelaku kejahatan, justru menjadi ruangan paling aman untuk melakukan kejahatan lain.

            “Artinya tidak ada harapan?”

            Sang penyidik terdiam. Dia seolah menganalisis.

            “Anda tunggu sebentar.”

            Sang penyidik berjalan di lorong menuju pintu di ujungnya. Ruang pimpinan, kukira.

            Degup jantungku mengencang. Pikiranku semakin tidak karuan. Batinku, “Bodohnya aku. Sebenarnya, apa yang kuharapkan!”

            Lima belas menit berselang, kakiku tidak bisa diam. Kulihat pintu di ujung sana terbuka. Keluarlah lelaki bertubuh tinggi berkulit gelap, sang penyidik.

            “Mbak, sepertinya tidak ada harapan. Lebih baik direlakan.”

            Ah, sejak awal, aku memang tidak berharap apa-apa. Setidaknya, aku telah mengikhtiarkan keharusanku, pikirku.

            “Baiklah. Ternyata memang hanya sabar dan ikhlas yang bisa kulakukan. Semoga lukaku cepat mengering. Semoga aku hilang ingatan.”

            Sang penyidik seolah iba, atau, itu hanya dugaanku. Kuyakin dia tidak akan tahu rasanya kehilangan gairah hidup karena penipu yang dengan ulungnya mencuri kepercayaan hingga merenggut habis uang yang kuhasilkan dengan darah dan keringat. Bahkan, yang paling miris adalah sang penyidik tidak akan tahu pasti hilang arahnya seorang anak manusia yang tetiba harus memiliki utang akibat dikelabui secara terang-terangan.

            Gontai, aku pamit. Kuturuni anak tangga, kuusahakan menetralkan rasa, menata yang hancur berantakan. Kurasa, aku hampir mati. Tidak akan lagi aku menjadi sebodoh ini. (PKY/2024)

Jumat, 02 Desember 2022

Menjadi Yang Kedua

Judulnya saja menjadi yang kedua, bagaimana mungkin aku berharap diutamakan. Aku adalah bagian yang tidak terlalu didambakan, tidak juga dibenci. Aku adalah anak yang lahir dengan kasih dan sayang yang cukup. Betapa tidak? Sejak dalam kandungan pun, kasih sayang untukku sudah tak utuh. Bagaimana mau penuh? Mereka saja sudah cukup bahagia dengan anak pertamanya. Apalah aku yang hanya jadi anak kedua ini. Akan tetapi, tidak apa-apa. Aku akan membuktikan kepada mereka bahwa aku adalah anak yang tangguh. Aku tidak akan lemah hanya karena tidak pernah merasakan kasih dan sayang yang penuh.

            Harus kuakui, tidak mudah merealisasikan semangatku itu. Ternyata, cukup sulit mencuri kasih dari orang tua yang sedang sayang-sayangnya terhadap anak pertama. Apalagi, saudaraku itu sedang lucu-lucunya. Rasanya, tanpa ada aku pun di dunia mereka, kehidupan kedua orang tuaku sudah sempurna. Meskipun, sesekali mereka masih mau berkomunikasi denganku. Sesekali, mereka masih menghiraukan keberadaanku. Sesekali, mereka masih memberiku kesempatan untuk mensyukuri kehadiranku di antara mereka. Namun, itu hanya sesekali.

            Ketika dilahirkan ke dunia, aku merasakan udara yang sangat asing. Baunya tidak seperti dalam kandungan ibuku. Pikirku, mungkin itu adalah aroma kehidupan. Semakin kuhirup, semakin aku menyadari bahwa bau itu hanya ilusiku. Dunia ini harusnya semerbak mewangi. Dunia ini harusnya memberiku kebahagiaan-kebahagiaan yang melenakan. Mana mungkin kelenaan dunia itu berbau amis? Untuk meyakinkan indra penciumanku itu, kubelalakkan kedua mataku dan coba mencari sumber bau. Namun, tak kunjung kutemukan. Akhirnya aku menyerah. Karena kecewa atas ketidakmampuanku, aku pun menangis menodong sunyi. Orang tuaku terbahak. Saudaraku ikut tertawa. Apakah mereka sedang meleluconkan hidupku? Padahal, mereka adalah orang-orang terdekatku. Kandungan dalam darah kami sama. Teganya mereka. Pikirku lagi.

            Selang beberapa waktu, aku menyadari tubuhku telah dibalut kain. Inikah pakaian yang tidak pernah kukenakan selama sembilan bulan berada dalam perut ibuku? Rasanya cukup nyaman dan hangat, hampir mirip seperti dulu di kandungan ibu. Akan tetapi, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Rasanya tidak lebih lembut daripada gumpalan daging yang menyelimutiku. Baunya pun tidak begitu menyegarkan. Ternyata, itu adalah apak yang tercium karena terlalu lama tersimpan di lemari juga kasar itu merupakan akibat pemakaian sebelumnya. Iya, nasib menjadi yang kedua adalah hampir bisa dipastikan tidak pernah mendapatkan sesuatu yang baru. Aku harus menerima kenyataan bahwa semua yang kugunakan pernah juga digunakan oleh saudaraku. Meskipun demikian, tidak mengapa. Aku masih sanggup hidup dengan semua itu. Aku tetaplah anak kedua orang tuaku yang harus mereka penuhi setiap hak-hakku. Tentu saja, aku pun mengetahui tanggung jawabku.

            Waktu berlalu. Hidup di luar rahim ibu sungguh sangat menyenangkan. Ternyata, mereka memperlakukanku hampir sama dengan saudaraku. Bahkan, kini aku selalu menjadi yang pertama. Saudaraku harus rela berbagi denganku. Aku akan mengambil suapan pertama makanan yang dibuatkan ibu untuk kami. Sedikit merasa bersalah, tetapi aku biasa saja. Ini adalah balasan karena kamu sudah menjadi yang pertama. Kamu harus rela berkorban untukku.

            Kenikmatan yang kurasakan ternyata sangat melenakan hingga aku lupa batasan. Terlalu nikmat dibuai dan mendapatkan kasih sayang, aku hampir menghabiskan momen berhargaku dengan kesia-siaan. Orang tuaku hampir memiliki yang ketiga, sedangkan aku masih belum seutuhnya menjadi diriku. Aku bahkan harus memulai dengan sudah dibagi, apakah aku juga harus membaginya lagi? Aku bahkan masih belum bisa membersihkan keringatku sendiri, masa mereka sudah mau membagi lagi kasih dan sayang itu? Padahal, mereka tidak pernah memberiku bagian yang utuh.

            Benar saja, seketika sang ketiga datang. Dia tidak perlu berkhawatir ria seperti halnya aku dan saudaraku. Dia sudah dideklarasikan menjadi yang terakhir. Aku sudah tidak memiliki tempat lagi. Bahkan, saudaraku yang pertama pun sudah tidak berdaya lagi. Sungguhpun demikian, aku tetaplah yang paling tidak memiliki tempat lagi. Aku hanya yang kedua. Mereka tidak pernah memberiku utuh, bahkan untuk sebuah telur mata sapi. Aku, anak kedua, sudah siap berbagi dengan dia yang pertama dan terakhir. Aku mampu membawa diriku sendiri karena aku sudah terbiasa dinomorduakan. Aku mungkin keras kepala, tetapi itu merupakan caraku bertahan. Kalau bukan diriku sendiri yang melindungiku, siapa lagi yang bisa kuandalkan. Karena terkadang, aku hanya pelarian. Sungguh, aku, anak kedua. Meskipun begitu, aku tidak pernah ingin di urutan kedua. 

Minggu, 30 Oktober 2022

Tak Hanya Mandiri, Anak Pertama Harus Segala Bisa

Stereotip masyarakat terhadap sosok anak pertama itu memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Anak pertama, baik laki-laki maupun perempuan, merupakan anugerah pertama yang diberikan kepada sebuah keluarga. Dia tidak pernah minta dilahirkan sebagai yang pertama, tapi tak bisa juga menolaknya. Anak pertama lahir ke dunia dengan lapang dada.

Dinantikan.

Sebagai yang pertama, tentunya orang tua sangat menantikan kehadiran sang anak pertama. Kadang, jenis kelamin bukan masalah. Akan tetapi, tak jarang yang pria-lah yang lebih didambakan. Katanya, biar nantinya bisa menggantikan sosok bapak di dalam keluarga saat dia senja. Katanya juga, biar bisa bantu perekonomian keluarga. Tak apa, perempuan juga tetap diterima. Katanya, nanti biar bisa bantu ibunya. Masak, nyuci, dan beres-beres rumah itu bukan perkara mudah. Ibu memang perlu rekan untuk mengatur rumah tangga dan anak pertama perempuan pasti bisa diharapkan. Namun, laki-laki tetap bernilai lebih.

Dikasihi.

Anak pertama terlahir di keluarga yang masih terhitung muda. Kasih sayang yang dilimpahkan orang tuanya masih murni, belum terbagi. Anak pertama mendapatkan seluruh belai dan buai ibu dan bapak. Anak pertama juga dibelai sang nenek dan kakek. Menjadi anak pertama akan membuatmu terlena karena segala keinginan hampir pasti dipenuni. Nikmat dunia rasanya di dalam genggaman sehingga sering kali membuat lupa diri. Anak pertama mungkin saja menyangsikan bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Hampir pasti, akan datang anak-anak selanjutnya yang akan mengambil porsi kasih yang banyak dia peroleh.

Mandiri.

Anak pertama belum cukup dewasa, tapi sang adik sudah lahir ke dunia. Kasih telah terbagi dan anak pertama dituntut menjadi lebih mandiri. Anak pertama risau, bagaimana caranya menjadi seorang kakak? Mengapa dia harus rela berbagi dengannya? Anak pertama kecewa karena inginnya tak lagi jadi prioritas orang tua. Bahkan, dia kini harus mengisi perut yang lebih sering keroncongan daripada terisi penuh. Anak pertama harus berbagi, anak pertama dipaksa mandiri. Dia mengambil sebuah mangkuk, mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk. Orang tua mengarahkan pada awalnya, dia mengeksekusi pada akhirnya. Anak pertama harus bertahan dan menyesuaikan diri. Dia juga menyadari bahwa menjadi anak pertama artinya harus siap menjadi seorang kakak yang berarti pula harus siap memiliki seorang adik. Dalam artian yang lebih ekstrim, menjadi anak pertama artinya harus siap menjadi mandiri.

Panutan.

Segala hal yang dilakukan orang tua adalah contoh terbaik bagi anak pertama. Dia menirukan gerak, bicara, hingga kelakuan orang tua. Bagi beberapa orang tua yang berbekal ilmu mumpuni untuk mengurus anak pertama, mereka membekali anaknya dengan kemampuan-kemampuan dasar yang akan diperlukan. Namun, dalam kebanyakan kasus, orang tua hanya sibuk memanjakan sang anak pertama sehingga saat sang anak kedua dan seterusnya lahir, anak pertama tidak memiliki kemampuan untuk bertahan. Padahal, dia harus memberikan contoh bagi adik-adiknya. Padahal, orang tualah yang sering kali menjadikan anak pertama sebagai pigur anutan bagi adik-adiknya. Lalu, bagaimana anak pertama harus bersikap? Dia memutar otak, mengerahkan segala kemampuannya. Anak pertama menanamkan segala nilai-nilai luhur yang sempat dia peroleh selama menjadi satu-satunya anak di dalam keluarga. Anak pertama juga tak kalah akal. Dia memanfaatkan setiap momen kesedihan, kesendirian, dan ketegangan yang terjadi saat harus berbagi dengan adiknya menjadi bekal dan pelajaran. Dia menyadari bahwa hidup ini keras, bahkan sejak di lingkungan keluarga. Jangan berharap akan menjadi lebih mudah hanya dengan menangis. Konsep menanam dan menuai sudah terpatri dalam dirinya. Anak pertama bertekad menjadi pribadi yang kuat. Tanpa sadar, sang anak pertama telah tumbuh mencakram, menjulang, dan merekah dengan kemandiriannya. Sang adik sangat mengaguminya hingga menjadikan sang kakak sebagai panutan. Bagi sang adik, sosok kakak merupakan inspirasi sekaligus tolok ukur kesuksesannya kelak. Sang adik merasa termotivasi sekaligus terintimidasi oleh setiap keberhasilan sang kakak. Lalu, bagaimana dengan kisah anak pertama yang disalahpahami gagal? Mereka hanya telah bertumbuh dengan caranya sendiri. Bukankah standar kesuksesan itu tidak mutlak dan yang berkembang di masyarakat itu adalah pandangan segelintir orang? Bagi sang adik, anak pertama tetaplah panutan.

Kasihan.

Anak pertama seringnya buntu. Dia memiliki tujuan, tetapi hilang arah. Mata kompasnya lebih banyak menunjukkan jalan yang tidak membawanya ke mana-mana. Anak pertama pun harus mencari rutenya sendiri. Dia berlari, terperosok, terpelanting, hingga tercebur ke dasar sungai. Kalau tidak kuat bertahan, anak pertama pasti terbawa arus. Meskipun terlihat jernih dan tenang, air sungai banyak menyimpan misteri. Buaya dan hewan buas lain bisa saja mengincar nyawanya. Anak pertama yang mampu bertahan akan menjadi lebih biajksana. Akan tetapi, dia yang terseret arus, hanya luka yang akan diperoleh. Meskipun begitu, anak pertama tetaplah anak pertama, dia pasti bisa meraih ruangnya sendiri. (PKY/30/10/2022)