Jumat, 17 Juli 2020

Anak yang Meninggalkan Orang Tuanya

Dalam pandanganku, menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Memiliki tanggung jawab lebih selain yang dibebankan kepada dirinya sendiri merupakan nilai yang tidak semua orang dapat mengembannya. Mengandung, melahirkan, menyusui, bahkan mengurusi anaknya, apakah ibu pernah mengeluh dan menyesali kehadirannya? Setahuku, banyak ibu yang justu mengucap syukur atas kehidupan baru yang pernah menempati rahimnya. Sekali lagi, aku masih tidak mengerti atas rasa sakit yang dibarengi dengan kebahagiaan. Apakah kamu juga memiliki kecenderungan yang sama?

Kepada seorang teman perempuan yang sudah dikaruniai dua anak, aku bertanya tentang pengaruh kehadiran mereka di dalam hidupnya. Katanya, memiliki anak adalah berkah tersendiri yang membantunya tumbuh. Kehadiran mereka tidak hanya membawa kabar gembira, tetapi juga menjadi suatu pengukuhan tentang eksistensinya sebagai seorang yang sudah menikah, juga sebagai perempuan. Keperempuanannya menjadi lebih diakui siapa pun, terlebih dirinya sendiri. Kesyukuran terhadap kehadiran anak-anak setidaknya mengurangi kekhawatiran tentang kegagalan rumah tangga karena anak yang tidak kunjung hadir. Biasanya, stigma lebih keras terhadap perempuan yang tidak kunjung mengandung daripada seorang laki-laki yang tidak mampu menghamili istrinya. Iya, ini lebih tentang eksistensi dan pengukuhan jati diri. Aku pun mengakui. Sebagai manusia, hanya mengandung dan melahirkan anaklah yang hanya dapat dilakukan oleh perempuan.

Bukan bermaksud mengunggulkan perempuan daripada laki-laki, ini lebih tentang pembagian peran dalam kehidupan yang tidak semuanya harus disamaratakan. Keberlangsungan hidup yang cenderung saling melengkapi, menutupi kekurangan serta kelebihan masing-masing, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah berhenti. Menjadi dewasa dengan cara yang tidak diperoleh di tempat lain, dengan cara yang lain,  adalah anugerah yang diberikan hanya untuk orang-orang pilihan. Mengapa? Karena hanya orang-orang yang mau menapaki jenjang ini yang dapat menerimanya.

Tentang anak yang sejatinya membawa kebahagiaan dalam perspektif orang tuanya, belum tentu dimaknai serupa oleh setiap orang. Ketika momentum kelahiran seorang anak dianggap tidak baik, pola pikir yang berbeda kadang dimiliki orang tua. Beragam penyesalan ditujukan. Anak yang lahir dengan cacat tubuh, ada penyesalan yang tergambar dari wajah orang tua. Senyum lebar yang awalnya terpatri di wajah ibu perlahan menghilang ketika melihat pisik sang anak. Ada bagian tubuh yang tidak sama dengan bayangan kelaziman. Spekulasi, dugaan, dan penyesalan atas perbuatan-perbuatan semasa mengandung, menghantui sang ibu. Apa kemudian yang dilakukan ayah? Dia juga turut mengalami penyesalan yang sama, tetapi dengan sedikit ketegaran yang mendorongnya untuk ikhlas menerima ketetapan yang diberikan. Pada akhirnya, mereka saling menguatkan dan menerima kehadiran sang buah hati dengan kekurang yang dia miliki. Penyesalan itu seketika hilang, terutama saat mendengar tangisan yang membahagiakan, tangisan anak yang sudah dinanti-nantikan. Akan tetapi, ini tidak selamanya berlaku pada setiap orang.

Peristiwa berbeda mungkin saja dialami anak yang dilahirkan dengan cacat pisik yang sama. Penolakan dari orang-orang yang seharusnya melindunginya adalah ironi yang sering kali dihampiri. Ada yang masih bersedia mengurus dan membesarkannya, tetapi dengan kecacatan yang sama yang ditanggung sang anak. Ada juga yang menelantarkannya. Jika kamu tidak percaya bahwa ada orang tua seperti itu di dunia, aku ingin kembali mengingatkanmu bahwa memang ada anak-anak yang tidak seberuntung dirimu. Ada yang dikhianati oleh orang tuanya sendiri. Padahal, sang anak tidak pernah minta dilahirkan, tetapi mereka harus menanggung kehidupan yang bahkan orang-orang yang seharusnya menguatkannya pun tidak sudi melakukannya.

Aku mau mengajakmu kembali memaknai setiap momen bersama kedua orang tua, terutama ibu. Berdasarkan fakta-fakta sebelumnya, apakah kamu masih mau mengeluh dan mengatakan bahwa Sang Maha Pengasih tidak adil? Justru ini adalah keadilan yang Dia berikan untukmu. Kalau bukan seperti ini, apakah kamu siap menjalani hidup dengan penolakan terkejam? Orang tuamu sendiri tidak menginginkan kehadiranmu lagi, bagaimana? Ucapkanlah syukur. Jalanilah setiap langkah dengan penuh keyakinan bahwa kehidupan yang ini adalah versi terbaik untukmu. Tidak semua anak mendapatkan hal yang sama. Tidak semua orang tua memperlakukan anak-anaknya sebaik yang orang tuamu lakukan. Lalu, mengapa kamu masih mengeluh saat orang tuamu tidak mampu memenuhi satu saja keinginanmu? Padahal, dia sudah bersungguh-sungguh mencari cara untuk mengabulkannya, tetapi dia hanya tidak mampu. Berbeda halnya saat mereka benar-benar tidak bersedia.

Kamu beruntung karena masih ada yang mau berjuang untukmu dengan hati yang tulus dan tanpa pamrih. Padahal, sering kamu menyakiti hati mereka dan mengucap tidak dengan keegoisanmu. Mereka tidak membalasmu dengan hal serupa, bukan? Tentu saja. Karena sejak kabar kehadiranmu di rahim ibu, kamu sudah sangat dinantikan. Sejak kelahiranmu ke dunia, kamu adalah kebahagiaan. Sejak pertumbuhanmu menjadi sangat baik, itu mengandung syukur mereka yang tiada tara. Kemudian kamu menyia-nyiakannya? Jangan salahkan kehidupanmu yang menjadi tidak sesuai dengan harapan, Ananda. (Palangka Raya, 17 Juli 2020)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar