Selasa, 20 April 2021

Beginilah Cara-Nya Menguatkan

Menggenggam erat keyakinan seperti halnya menggenggam air. Seerat apa pun tangan dikepalkan, hanya sedikit yang akan kita dapatkan. Begitulah saat aku berusaha memperjuangkan semuanya dengan keyakinan bahwa suatu saat semua yang aku lakukan akan berbalas. Namun, ternyata memang tidak semudah itu, ada banyak hal yang sering kali terjadi di luar kendali. Sematang apa pun perencanaan yang dilakukan, terkadang ada saja yang luput, termasuk seringnya melupakan bahwa dalam diri ada bagian yang sangat rapuh.

Apakah kamu tahu rasanya bangun dengan kehampaan? Setiap hari rasanya bergulir begitu saja, sama saja, membosankan, hambar. Aku melakoni semuanya dengan ketidakberdayaan melawan keadaan. Aku telanjur menjatuhkan pilihan, memvonis bahwa diri mampu melakukan semuanya dengan kesanggupan yang melampaui batas. Namun, semua penilaian itu terlalu muluk. Aku ternyata jatuh juga. Diriku sendiri yang membuatnya terjadi. Apa yang aku lakukan kemudian? Semuanya kubiarkan saja. Tidak sanggup aku melawan kenyataan yang terlalu menyulitkan. Apalagi, jika aku harus berupaya memerangi diri sendiri. Saat itu, aku masih sangat arogan, memercayai bahwa semuanya akan berubah dengan sendirinya. Namun, tidak juga aku melihat perubahan menjelma menjadi kenyataan.

Seperti biasa, kuraih gawai yang hanya satu itu. Kumulai berselancar, entah mencari apa, mungkin jawaban. Sungguh, jika kupikirkan lagi, saat itu aku terlalu tidak realistis. Bagaimana mungkin aku berharap menemukan jawaban dari sesuatu yang bahkan tidak bernyawa. Namun, tetiba muncul sesuatu yang menarik perhatian. Padahal, bukan kali itu saja aku melihatnya. Jauh sebelum aku berada di tempat ini pun, temanku pernah menunjukkan keberadaannya. Akan tetapi, semuanya tidak menarik perhatianku saat itu, tidak seperti sekarang.

Kudengarkan setiap karyanya. Aku merasa mulai terbangunkan kembali. Gairah hidup yang sebelumnya tidur, perlahan bangun. Aku merasa kembali memiliki sesuatu yang harus kuperjuangkan. Diriku sendiri. Benar, tidak ada yang lebih berharga daripada diri sendiri. Tidak ada yang lebih mengetahui eksistensi diri selain diri sendiri. Tentu saja, aku bukan seorang ateis. Aku sangat meyakini bahwa di balik semua yang terjadi terhadap kehidupanku, baik yang kusadari maupun tidak, ada Dia yang selalu memperhatikanku.

Semakin hari, keadaanku semakin membaik. Aku mulai pulih. Jiwaku mulai bersahabat dengan keberadaanku sekarang. Ya, walaupun masih menangis sendirian, tetapi aku merasa lebih baik. Hidup dengan cara baru yang seperti ini memulihkan kejiwaanku. Aku kembali berproses menjadi manusia. Ternyata, Tindakan itu memang sulit untuk direalisasikan. Bahkan, akan menjadi lebih sulit saat di dalam benak pun semua yang tergambar cenderung menghakimi, menyulitkan, mematahkan, dan mematikan.

Sejujurnya, aku hanya ingin menyampaikan bahwa kesehatan jiwa dan mental itu penting untuk dijaga dan diperhatikan. Bahkan, banyak yang hampir mati dirundung sepi. Itu terjadi karena penyakit yang melekat pada jiwa dan mental. Aku berharap selalu ada alasan untuk bisa selalu menghidupkan jiwa dan mental. (Palangka Raya, 20 April 2021)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar