Rabu, 05 Mei 2021

Tentang Selamat Jalan (I)

Terbangun di tempat yang baru, memberikan perasaan baru juga. Rasa tidak kenal dan asing, membuatku memerlukan waktu yang cukup lama untuk terdiam. Apalagi, sisa ruh dalam raga sepertinya belum cukup membuatku mampu tersadar. Iya, setelah menempuh perjalanan yang tidak terduga, akhirnya aku sampai di sebuah tempat yang sebetulnya bukan untuk pertama kalinya kukunjungi. Namun, kali ini aku datang dengan cara yang tidak biasa. Perjalanan dari Palangka Raya yang biasanya kutempuh dengan menumpang kendaraan roda empat berukuran kecil, kali ini kutempuh dengan menumpang kendaraan yang cukup besar, yaitu bus. Mungkin terkesan biasa saja, tapi ini memang tidak seistimewa itu!

            Kali ini, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Kabupaten Kotawaringin Barat. Kabupaten yang identik dengan warna kuning ini mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya. Jadi, aku akan mulai dengan memperkenalkan Kabupaten ini. Kabupaten Kotawaringin Barat ini merupakan satu dari 12 Kabupaten dan satu kota yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah. Meskipun bernama Kotawaringin Barat, tetapi ini merupakan nama kabupaten. Letak geografisnya cukup jauh dari Kota Palangka Raya. Iya, titik berangkatku saat itu dari Kota Palangka Raya. Waktu yang diperlukan dari Kota Palangka Raya ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, cukup lama. Kalau perjalanan dilakukan siang hari, waktu siangmu hanya akan habis begitu saja saat kamu duduk di jok mobil. Sementara itu, saat itu, aku memilih waktu perjalaan malam. Bukan apa-apa, aku hanya berpikir akan lebih mudah melewati waktu perjalanan dengan tertidur.

            Dari Kota Palangka Raya, aku berangkat pukul 18.00 WIB. Sebagai informasi, Provinsi Kalimantan Tengah mengikuti zona Waktu Indonesia Barat (WIB). Meskipun begitu, waktu azan di Provinsi Kalimantan Tengah lebih cepat sekitar 25 menit daripada di Jakarta. Jadi, saat itu, aku sudah selesai melaksanakan kewajibanku sebagai muslim.

Selama di perjalanan, aku sangat antusias. Sensasi melakukan perjalanan dengan kendaraan besar ini membuatku terkagum-kagum. Kondisi lalu lintas jalan Trans Kalimantan yang tanpa hambatan, membuatku merasa sedang naik wahana di taman bermain, roaler coaster. Dengan kecepatan bus maksimal, aku dapat merasakan isi perutku seperti diaduk-aduk. Namun, masih cukup aman untuk bertahan hingga besok sampai di tempat tujuan.

            Pemandangan di pinggir jalan selama perjalanan yang cenderung hampir sama: pohon, semak, gelap, dan sesekali rumah warga, membuat perjalananku terasa cukup  singkat. Meskipun begitu, tetap saja ini menyenangkan. Sebagai pendatang di negeri ini, aku sangat antusias dengan segala renik yang menjadi keunikan tanah Borneo ini. Selalu, pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung” membuatku sadar bahwa pendatang harus dapat menyesuaikan, bukan sebaliknya. Namun, bukan untuk semuanya dan segalanya.

            Saat itu Ramadan. Aku makan sahur di dalam bus. Tetiba, seorang perempuan paruh baya berkerudung hitam panjang melemparkan makanan kepadaku. Kaget, iya. Masalahnya, dia tanpa kata sedikit pun. Beragam pikiran muncul dengan liar di benakku. Spekulasi demi spekulasi kutepis dengan sebuah argumen sederhana, “Sudahlah, di dunia ini pasti ada orang baik yang tulus memberi tanpa banyak kata.” Kemudian, begitulah, semuanya berlalu begitu saja.

              Pagi-pagi sekali, aku tiba di terminal tujuanku di Pangkalan Bun. Sepi. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan layar yang tertangkap oleh mataku di tempat itu. Sebagai tempat dengan sebutan terminal, pikirku tempat ini akan riuh. Setidaknya, ada preman terminal yang akan dengan saksama memandangi gerak langkahku. Nyatanya, di tempat yang termasuk paling ramai di Provinsi Kalimantan Tengah pun, aku masih menemukan keheningan. Entah khidmat yang aku maskdukan atau justru kesepian.

            Karena tidak kunjung menemukan kendaraan umum lanjutan yang dapat mengantar ke tempat penginapan, bertanyalah aku kepada seseorang yang tidak kukenal yang kuperkirakan sebagai petugas di terminal itu. Katanya setelah memberiku petunjuk, “Nah, begitu. Bertanya. Kadang, kami (petugas) bingung juga mau membantu pendatang (lain) yang terlihat kebingungan di terminal ini.” Dalam pikirku, “Matilah aku seandainya seluruh nyawaku sudah terkumpul. Pastilah aku tidak akan berani bertanya kepada orang ini. Bukan apa-apa, dia hanya terlalu asing di tempat yang juga asing.” Akhirnya, dengan berbekal kesembronoan, aku tiba di tempat tinggal sementaraku di Kabupaten Kotawaringin Barat. Setelah itu, tidak ada lagi yang bisa kukatakan kepada diriku sendiri selain kamu telah belajar banyak hal lagi hingga sampai di tempat ini. Apa saja? Nantikan cerita selanjutnya di Tentang Selamat Jalan bagian (II). (Palangka Raya, 05/05/2021)