Minggu, 30 Oktober 2022

Tak Hanya Mandiri, Anak Pertama Harus Segala Bisa

Stereotip masyarakat terhadap sosok anak pertama itu memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Anak pertama, baik laki-laki maupun perempuan, merupakan anugerah pertama yang diberikan kepada sebuah keluarga. Dia tidak pernah minta dilahirkan sebagai yang pertama, tapi tak bisa juga menolaknya. Anak pertama lahir ke dunia dengan lapang dada.

Dinantikan.

Sebagai yang pertama, tentunya orang tua sangat menantikan kehadiran sang anak pertama. Kadang, jenis kelamin bukan masalah. Akan tetapi, tak jarang yang pria-lah yang lebih didambakan. Katanya, biar nantinya bisa menggantikan sosok bapak di dalam keluarga saat dia senja. Katanya juga, biar bisa bantu perekonomian keluarga. Tak apa, perempuan juga tetap diterima. Katanya, nanti biar bisa bantu ibunya. Masak, nyuci, dan beres-beres rumah itu bukan perkara mudah. Ibu memang perlu rekan untuk mengatur rumah tangga dan anak pertama perempuan pasti bisa diharapkan. Namun, laki-laki tetap bernilai lebih.

Dikasihi.

Anak pertama terlahir di keluarga yang masih terhitung muda. Kasih sayang yang dilimpahkan orang tuanya masih murni, belum terbagi. Anak pertama mendapatkan seluruh belai dan buai ibu dan bapak. Anak pertama juga dibelai sang nenek dan kakek. Menjadi anak pertama akan membuatmu terlena karena segala keinginan hampir pasti dipenuni. Nikmat dunia rasanya di dalam genggaman sehingga sering kali membuat lupa diri. Anak pertama mungkin saja menyangsikan bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Hampir pasti, akan datang anak-anak selanjutnya yang akan mengambil porsi kasih yang banyak dia peroleh.

Mandiri.

Anak pertama belum cukup dewasa, tapi sang adik sudah lahir ke dunia. Kasih telah terbagi dan anak pertama dituntut menjadi lebih mandiri. Anak pertama risau, bagaimana caranya menjadi seorang kakak? Mengapa dia harus rela berbagi dengannya? Anak pertama kecewa karena inginnya tak lagi jadi prioritas orang tua. Bahkan, dia kini harus mengisi perut yang lebih sering keroncongan daripada terisi penuh. Anak pertama harus berbagi, anak pertama dipaksa mandiri. Dia mengambil sebuah mangkuk, mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk. Orang tua mengarahkan pada awalnya, dia mengeksekusi pada akhirnya. Anak pertama harus bertahan dan menyesuaikan diri. Dia juga menyadari bahwa menjadi anak pertama artinya harus siap menjadi seorang kakak yang berarti pula harus siap memiliki seorang adik. Dalam artian yang lebih ekstrim, menjadi anak pertama artinya harus siap menjadi mandiri.

Panutan.

Segala hal yang dilakukan orang tua adalah contoh terbaik bagi anak pertama. Dia menirukan gerak, bicara, hingga kelakuan orang tua. Bagi beberapa orang tua yang berbekal ilmu mumpuni untuk mengurus anak pertama, mereka membekali anaknya dengan kemampuan-kemampuan dasar yang akan diperlukan. Namun, dalam kebanyakan kasus, orang tua hanya sibuk memanjakan sang anak pertama sehingga saat sang anak kedua dan seterusnya lahir, anak pertama tidak memiliki kemampuan untuk bertahan. Padahal, dia harus memberikan contoh bagi adik-adiknya. Padahal, orang tualah yang sering kali menjadikan anak pertama sebagai pigur anutan bagi adik-adiknya. Lalu, bagaimana anak pertama harus bersikap? Dia memutar otak, mengerahkan segala kemampuannya. Anak pertama menanamkan segala nilai-nilai luhur yang sempat dia peroleh selama menjadi satu-satunya anak di dalam keluarga. Anak pertama juga tak kalah akal. Dia memanfaatkan setiap momen kesedihan, kesendirian, dan ketegangan yang terjadi saat harus berbagi dengan adiknya menjadi bekal dan pelajaran. Dia menyadari bahwa hidup ini keras, bahkan sejak di lingkungan keluarga. Jangan berharap akan menjadi lebih mudah hanya dengan menangis. Konsep menanam dan menuai sudah terpatri dalam dirinya. Anak pertama bertekad menjadi pribadi yang kuat. Tanpa sadar, sang anak pertama telah tumbuh mencakram, menjulang, dan merekah dengan kemandiriannya. Sang adik sangat mengaguminya hingga menjadikan sang kakak sebagai panutan. Bagi sang adik, sosok kakak merupakan inspirasi sekaligus tolok ukur kesuksesannya kelak. Sang adik merasa termotivasi sekaligus terintimidasi oleh setiap keberhasilan sang kakak. Lalu, bagaimana dengan kisah anak pertama yang disalahpahami gagal? Mereka hanya telah bertumbuh dengan caranya sendiri. Bukankah standar kesuksesan itu tidak mutlak dan yang berkembang di masyarakat itu adalah pandangan segelintir orang? Bagi sang adik, anak pertama tetaplah panutan.

Kasihan.

Anak pertama seringnya buntu. Dia memiliki tujuan, tetapi hilang arah. Mata kompasnya lebih banyak menunjukkan jalan yang tidak membawanya ke mana-mana. Anak pertama pun harus mencari rutenya sendiri. Dia berlari, terperosok, terpelanting, hingga tercebur ke dasar sungai. Kalau tidak kuat bertahan, anak pertama pasti terbawa arus. Meskipun terlihat jernih dan tenang, air sungai banyak menyimpan misteri. Buaya dan hewan buas lain bisa saja mengincar nyawanya. Anak pertama yang mampu bertahan akan menjadi lebih biajksana. Akan tetapi, dia yang terseret arus, hanya luka yang akan diperoleh. Meskipun begitu, anak pertama tetaplah anak pertama, dia pasti bisa meraih ruangnya sendiri. (PKY/30/10/2022)