Judulnya saja menjadi yang kedua, bagaimana mungkin aku
berharap diutamakan. Aku adalah bagian yang tidak terlalu didambakan, tidak
juga dibenci. Aku adalah anak yang lahir dengan kasih dan sayang yang cukup.
Betapa tidak? Sejak dalam kandungan pun, kasih sayang untukku sudah tak utuh.
Bagaimana mau penuh? Mereka saja sudah cukup bahagia dengan anak pertamanya.
Apalah aku yang hanya jadi anak kedua ini. Akan tetapi, tidak apa-apa. Aku akan
membuktikan kepada mereka bahwa aku adalah anak yang tangguh. Aku tidak akan
lemah hanya karena tidak pernah merasakan kasih dan sayang yang penuh.
Harus kuakui, tidak mudah
merealisasikan semangatku itu. Ternyata, cukup sulit mencuri kasih dari orang
tua yang sedang sayang-sayangnya terhadap anak pertama. Apalagi, saudaraku itu
sedang lucu-lucunya. Rasanya, tanpa ada aku pun di dunia mereka, kehidupan
kedua orang tuaku sudah sempurna. Meskipun, sesekali mereka masih mau
berkomunikasi denganku. Sesekali, mereka masih menghiraukan keberadaanku.
Sesekali, mereka masih memberiku kesempatan untuk mensyukuri kehadiranku di
antara mereka. Namun, itu hanya sesekali.
Ketika dilahirkan ke dunia, aku
merasakan udara yang sangat asing. Baunya tidak seperti dalam kandungan ibuku. Pikirku,
mungkin itu adalah aroma kehidupan. Semakin kuhirup, semakin aku menyadari
bahwa bau itu hanya ilusiku. Dunia ini harusnya semerbak mewangi. Dunia ini
harusnya memberiku kebahagiaan-kebahagiaan yang melenakan. Mana mungkin kelenaan
dunia itu berbau amis? Untuk meyakinkan indra penciumanku itu, kubelalakkan
kedua mataku dan coba mencari sumber bau. Namun, tak kunjung kutemukan.
Akhirnya aku menyerah. Karena kecewa atas ketidakmampuanku, aku pun menangis
menodong sunyi. Orang tuaku terbahak. Saudaraku ikut tertawa. Apakah mereka
sedang meleluconkan hidupku? Padahal, mereka adalah orang-orang terdekatku. Kandungan
dalam darah kami sama. Teganya mereka. Pikirku lagi.
Selang beberapa waktu, aku menyadari
tubuhku telah dibalut kain. Inikah pakaian yang tidak pernah kukenakan selama sembilan
bulan berada dalam perut ibuku? Rasanya cukup nyaman dan hangat, hampir mirip
seperti dulu di kandungan ibu. Akan tetapi, aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Rasanya tidak lebih lembut daripada gumpalan daging yang menyelimutiku. Baunya
pun tidak begitu menyegarkan. Ternyata, itu adalah apak yang tercium karena
terlalu lama tersimpan di lemari juga kasar itu merupakan akibat pemakaian
sebelumnya. Iya, nasib menjadi yang kedua adalah hampir bisa dipastikan tidak
pernah mendapatkan sesuatu yang baru. Aku harus menerima kenyataan bahwa semua
yang kugunakan pernah juga digunakan oleh saudaraku. Meskipun demikian, tidak
mengapa. Aku masih sanggup hidup dengan semua itu. Aku tetaplah anak kedua
orang tuaku yang harus mereka penuhi setiap hak-hakku. Tentu saja, aku pun
mengetahui tanggung jawabku.
Waktu berlalu. Hidup di luar rahim
ibu sungguh sangat menyenangkan. Ternyata, mereka memperlakukanku hampir sama dengan
saudaraku. Bahkan, kini aku selalu menjadi yang pertama. Saudaraku harus rela
berbagi denganku. Aku akan mengambil suapan pertama makanan yang dibuatkan ibu
untuk kami. Sedikit merasa bersalah, tetapi aku biasa saja. Ini adalah balasan
karena kamu sudah menjadi yang pertama. Kamu harus rela berkorban untukku.
Kenikmatan yang kurasakan ternyata
sangat melenakan hingga aku lupa batasan. Terlalu nikmat dibuai dan mendapatkan
kasih sayang, aku hampir menghabiskan momen berhargaku dengan kesia-siaan.
Orang tuaku hampir memiliki yang ketiga, sedangkan aku masih belum seutuhnya
menjadi diriku. Aku bahkan harus memulai dengan sudah dibagi, apakah aku juga
harus membaginya lagi? Aku bahkan masih belum bisa membersihkan keringatku
sendiri, masa mereka sudah mau membagi lagi kasih dan sayang itu? Padahal,
mereka tidak pernah memberiku bagian yang utuh.
Benar saja, seketika sang ketiga datang. Dia tidak perlu berkhawatir ria seperti halnya aku dan saudaraku. Dia sudah dideklarasikan menjadi yang terakhir. Aku sudah tidak memiliki tempat lagi. Bahkan, saudaraku yang pertama pun sudah tidak berdaya lagi. Sungguhpun demikian, aku tetaplah yang paling tidak memiliki tempat lagi. Aku hanya yang kedua. Mereka tidak pernah memberiku utuh, bahkan untuk sebuah telur mata sapi. Aku, anak kedua, sudah siap berbagi dengan dia yang pertama dan terakhir. Aku mampu membawa diriku sendiri karena aku sudah terbiasa dinomorduakan. Aku mungkin keras kepala, tetapi itu merupakan caraku bertahan. Kalau bukan diriku sendiri yang melindungiku, siapa lagi yang bisa kuandalkan. Karena terkadang, aku hanya pelarian. Sungguh, aku, anak kedua. Meskipun begitu, aku tidak pernah ingin di urutan kedua.