Kamis, 25 Juli 2024

Mencari Damai

Aku kenapa? Selalu merasa tidak bermakna, aku sering merasa terasingkan. Ada yang membuncah di dalam sanubari, tidak tahu apa. Apakah ini penyakit? Sepertinya bukan karena ragaku tak kurang satu apa pun, bahkan amat bugar.

            Aku berlabuh di satu pemberhentian yang tak pernah kulalui sebelumnya. Ini adalah rute baru yang sangat mengesalakan. Semua teramat asing, bahkan manusia-manusianya. Akan tetapi, aku tidak punya pilihan. Hidupku sudah ditentukan dan bukan akau yang membuat keputusan. Ini adalah suatu keharusan.

            Perjalanan ini akan berlangsung amat panjang. Kuanalisis, setidaknya ragaku mampu menopang jiwa hingga satu abad ke depan. Kuharap tidak sia-sia. Jujur, akan terlalu membosankan jika setiap detiknya aku hanya harus berjuang untuk menjadi lebih baik. Akan sangat melelahkan jika setiap aku menarik napas, yang ada hanya sesak dan sakit. Aku ingin oase. Akan tetapi, apakah rasanya akan lebih menegangkan jika ada masa-masa penuh pengharapan? Seprtinya, kalau hidup hanya begitu-begitu saja, akan sangat memuakkan, bukan?

            Bau amis menyeruak, menyentuh indera paling sensitif dalam diriku. Aku mencium yang tak seharusnya. Seandainya itu amis dari ikan yang lama dibiarkan, aku masih bisa tahan. Ini lebih seperti amis yang membuat mual. Ini adalah bau darah manusia yang mengering terpapar panas matahari. Aku muntah.

            “Kau harus terbiasa, Kirana. Dunia luar memang semerbak!”

            Suara yang amat berat, tetapi begitu akrab di telingaku membuatku menghentikan usahaku untuk mengeluarkan sisa makanan dari dalam perutku. Dia adalah Abah Ageung, kakek yang sudah lama menjadi pengganti Bapak bagiku. Dia adalah sosok renta yang sudah berani mengambil alih peran orang tua. Mamah sudah lama pergi, pun dengan Bapak. Mereka telah kembali ke haribaan Yang Maha Pencipta. Raga mereka sudah terpendam di dalam tanah, tetapi jiwa mereka senantiasa membersamai setiap liku hidupku. Sejak itu, Abah Ageung lah yang bersedia memungut anak yang kosong ini. Sebenarnya, dialah yang paling berhak karena dia adalah ayah dari Mamah.

            “Perutku mual sekali. Baunya sangat menusuk. Aku tidak terbiasa,” ujarku.

            “Beginilah bau dunia, Kirana, menyengat dan memabukkan. Kau harus terbiasa dengan segala jenisnya,” nasihat Abah Ageung sambil memijat-mijat leherku.

            Bak profesional seorang pemijat, Abah Ageung membuatku merasa nikmat yang amat. Perutku bereaksi, semua isinya terkuras habis. Seperti yang kumakan tadi pagi sebelum berangkat, nasi goreng dan ikan tongkol sudah berubah menjadi bubur dan terhidang bagi bangsa hewan yang menginginkanya. Muntahanku berbau busuk, membuatku lebih mual dari sebelumnya. Abah Ageung membawaku menjauh darinnya. Aku kini duduk di sebuah dipan panjang.

            Warung ini penuh debu yang terpenjara dalam lengketnya angin laut. Menempel dan menggumpal, debu itu menimbulkan kusam dan suram. Ada pola yang terpatri di atas meja sebagai tanda bahwa manusia datang silih berganti ke warung ini. Teh hangat mengepul di hadapaku di bagian paling bersih dari meja warung itu. Abah Ageung meraba gelas itu dengan punggung tangannya.

            “Hangat, minumlah segera!”

            Seteguk sudah membuat perutku nyaman. Manis dan hangat seperti kata Abah Ageung. Aku mulai bertenaga. Nyawaku perlahan berkumpul kembali.

            “Tidak semua penghuni bumi ini peduli dengan luka yang terpatri di tubuhnya, Kirana. Tidak semua sakit diseriusi. Bukan karena tidak merasakannya, melainkan itu tidak sebanding dengan tuntutan perut-perut yang minta diisi. Luka itu tidak dapat mengalihkan lapar yang menyeruak dari usus yang kosong,” jelas Abah Ageung.

            Aku mengangguk. Benar kata Abah Ageung. Sakit masih bisa ditahan hingga luka mengering, tetapi lapar akan menjadi semakin parah jika tak didengar. Lapar hanya akan menjadi semakin kronis seiring waktu, tetapi luka di kulit akan membaik. Sayangnya, lapar tidak beraroma sehingga aku tak dapat membedakan mereka. Jika mengeluarkan bau, rasa-rasanya aku akan lebih mabuk daripada ini. Sungguh, aku tidak akan mampu membayangkan dahsyatnya aroma kelaparan.

            “Bah, mualku telah hilang. Sekarang, aku menjadi sangat lapar. Percuma tadi pagi aku sarapan,” ucapku sembari mengusap-usap bagian perutku.

            “Kau lebih tahan terhadap bau darah atau lapar yang sekarang kau rasa?” Abah Ageung malah bertanya.

            Diam. Aku tidak punya jawaban. Keduanya sangat memuakkan. Keduanya membuatku tidak tenang. Bau darah membuatku mual dan lapar mmembuatku tidak mampu berpikir dengan jernih. Dengan keduanya, aku bisa saja mati. Apakah sudah ada berita tentang orang yang meninggal karena membaui darah secara berlebihan? Sejauh ini, aku tak pernah mendengarnya. Sementara itu, manusia yang meninggal karena kelaparan? Kurasa banyak meskipun hanya sampai gorong-gorong. Bukankah mati kerena bunuh diri lebih bermartabat ketimbang mati karena kelaparan?

            “Perutku minta diisi. Namun, aku masih bisa bertahan. Mari kita beranjak dan pergi ke tempat tujuan kita, Bah,” pintaku kemudian.

            Abah Ageung menyeringai. Rokok yang semula akan dia nyalakan, dimasukkannya kembali ke dalam wadahnya. Abah tidak pernah membeli bahan bakar untuk memproduksi banyak asap itu, Dia melintingnya sendiri. Sering kudapati Abah menjilati kertas-kertas papir untuk membalut tembakau yang telah dia iris sendiri. Entah dari mana asal mula daun-daun itu. Abah Ageung selalu tidak pernah kehabisan stoknya.

            Abah Ageung beranjak dari duduknya dan aku mengikutinya. Dari belakang, aku melihat tengkuknya yang hitam legam, kontras dengan kulit tangan bagian atasnya. Sehari-hari, Abah bekerja melaut. Sebagai sosok renta, dia belum pensiun dari profesi yang dia geluti sejak usianya dini itu. Pernah kutanya, alasannya bertahan mengelana di laut lepas. Katanya, hanya ini cara yang kutahu untuk memberi hidup. Padahal, aku tahu bahwa tanggung jawabnya terhadapku yang teramat itu lah yang membuatnya selalu bertempur dengan ombak di lautan. Sejak itu, aku tidak pernah bertanya lagi.

            Langkahku terhenti saat Abah Ageung juga menghentikan langkahnya. Apa yang membuat Abah berhenti tanpa memberi aba-aba? Kusejajarkan poisis tubuhku dengan tempat Abah berdiri. Kulihat arah pandangnya, lalu kuusahakan untuk melihat yang Abah pandangi. Seperti lalat hijau yang mengerubungi bangkai, puluhan manusia berkumpul entah untuk apa.

            “Sedang apa mereka, Bah?”

            Abah menggelengkan kepalanya. Aku penasaran. Kupalingkan pandangan dari Abah Ageung. Aku telah menjadi lalat hijau yang ingin segera hinggap di bangkai berbau menyengat. Sayangnya, tangan Abah Ageung menghentikan langkahku.

“Apa yang membuatmu menjadi begitu bersemangat, Kirana?” ujar Abah Ageung sembari menurunkan tangannya.

“Yang ada di balik kerumunan orang-orang itu, Bah!”

“Rupanya kau tak ubahnya lalat buah. Kau ribut tatkala ada bising dan berkeinginan untuk turut serta mencabik daging buah yang ranum.”

Kali ini, aku tak memahami perkataan Abag Ageung. Pikiranku menyerbu untuk memburu sumber kerumumnan. Perkataan Abag Ageung kuhiraukan. Serampangan, aku berlalri. Terkesiap. Aku menyelusup di antara tubuh berbau peluh. Kini di hadapanku tergolek seonggok bangkai. Manusia. Lelaki. Muda. Jasad yang ditutup dengan koran. Berbau. Aku hampir lepas kendali. Abah Ageung segera menarikku keluar dari kerumunan itu. Aku telah diselamatkan, pikirku.

“Manusia itu rentan, Kirana. Kau tidak pernah tahu seberapa kuat dirimu sesungguhnya, juga sebaliknya. Kadang, kau hanya perlu tahu batasan diri. Kadang juga, kau hannya perlu tahu waktunya untuk berhenti. Kalau tidak tahu diri, kau pun akan sama dengannya. Mungkin saja ragamu akan dihinakan di tengah kerumunan seperti yang kau saksikan. Bagaimana, apa kau mengerti?” tanya Abah Ageung.

“Kalau tahu akan mati, aku akan mati dengan bermartabat. Aku akan biarkan diriku teronggok nyaman di atas kasur berselimut sutera,” ucapku dengan jantung berdegup kencang, otak yang terasa panas, dan paru-paru yang sesak. Aku ingin berteriak, histeris.

“Kalau itu adalah kata pengandaian. Yang nyata tidak pernah memberimu aba-aba. Semuanya akan terjadi, bahkan tanpa kau minta, tanpa kau duga.”

Perkataan Abag Ageung kuabaikan. Aku kembali mengikuti langkahnya meninggalkan kerumunan. Jejak kakinya kini berbekas. Dia menginjak genangan air. Basahnya masih belum sirna. Desah napas Abah terdengar sangat dalam. Aku tahu, Abah juga sangat rentan. Dia sedang mengendalikan sesosok tak bernyali di dalam dirinya. Sepertinya, menjadi tua membuatmu menjadi lebih tak berdaya. Kau akan menjadi lebih tahu banyak hal, seolah terbiasa, padahal itu tak membuatmu kebal.

Entah sampai kapan Abah Ageung akan melangkahkan kakinya. Akan selalu kuusahakan untuk mengikutinya, entah dari belakang atau dari sampingnya. Aku menyadari bahwa untuk menjadi setara dengannya butuh waktu yang tidak sebentar. Namun, aku akan memulainya dari sekarang. Aku akan mencari damaiku sendiri.

             

 

 

Rabu, 26 Juni 2024

Dari Balik Jeruji

                 Apa dengan mendengar suaranya saja sudah cukup? Begitu pertanyaan yang kerap ditujukan kepadaku beberapa minggu ini. Bukan tanpa alasan, sejak pertama kali megenal Daraupadi, tak pernah sekali pun secara langsung aku melihat wajahnya. Meskipun begitu, aku seolah sangat mengenal sosok fana yang wujud nyatanya tak pernah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Fotonya yang terpampang sebagai profil WhatsApp-nya itu adalah yang meyakinkanku tentang eksistensinya di dunia ini.

            Aku yang termasuk bagian dari generasi yang katanya lembek seperti stroberi itu sering kali berpikir bahwa hidup itu selalu terpusat kepada diriku seorang. Bahwa di dunia ini telah hidup miliaran manusia, bukanlah suatu pembatas atas imaji yang tidak pernah lenyap itu. Bahwa setiap manusia yang ada di dunia ini selalu berniat baik kepadaku, juga menjadi bumerang tersendiri saat itu memiliki potensi untuk terjadi.

            Saking bodohnya, hidup memang tidak pernah bercanda kepada manusia yang dikehendaki. Aku mungkin menjadi bagian dari yang dipermainkan itu. Kedunguan yang telanjur mematri itu memberikan efek trauma yang teramat pada akhirnya. Aku telah teperdaya oleh sesama. Hartaku habis, kepercayaan diriku lenyap, keberanianku hilang. Bahkan, tidurku menjadi tidak lagi berkualitas. Dengan waktu lama yang kuluangkan untuk tidur, aku hanya membuat tubuhku semakin lemah. Pelarian yang rasanya sia-sia.

            Upaya terbaik untuk memperjuangkan hak telah aku lakukan, tetapi tidak berbuah kabar baik. Kepada pihak yang katanya bertugas memberikan keadilan bagi masyarakat, ternyata tidak juga ada lampu hijau. Justru, mata mereka hanya memancarkan hujatan. Sadar, aku telah disepelekan dari berbagai sisi. Sebagai perempuan, aku telah diolok-olok. Sebagai seorang individu, aku telah dicoreng rasa kemanusiaanku. Padahal, saat itu aku hanya sedang berikhtiar, tetapi tidak ada satu pun yang berkenan mendengarkan.

            “Ada yang bisa dibantu, Mbak?” tanya seorang petugas yang kuduga sebagai penyidik yang belum lama bertugas.

            Sungkan, aku enggan untuk menceritakan detail perkara yang menimpa. Lubang hidungku terasa menyempit, paru-paruku sesak. Aku tidak mau menceritakan kebodohanku ini kepada siapa pun. Akan tetapi, untuk apa aku datang kemari jika tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Namun, begitu kelu, aku tak sanggung mendeskripsikan kisah itu.

            Lagi, kutarik napas dalam, sangat dalam. Aku memulai cerita.

            “Aku ini bodoh. Kurelakan kepercayaanku diobrak-abrik, hartaku digasak habis, hidupku dibuat kacau.”

            Sang penyidik tampak mengerutkan dahi, dia berusaha mencerna perkataanku. Sambil memain-maikan ponselnya, dia menerawang jauh ke depan.

            “Media apa yang berperan?”

            “Media sosial, media yang sesuai dengan namanya, membawa kesialan.”

            “Penipuan? Pemerasan?”

            “Pembunuhan karakter!”

            Sepertinya bahasaku terlalu berjarak dengan sang penyidik. Dia terlihat semakin kebingungan dan aku pun semakin tidak sanggup berkata-kata lagi. Kami pun diam, hening. Yang terdengar hanya hembusan napas kami yang seolah saling menyahut. Ada keresahan, kemarahan, sekaligus kebingungan dalam deru napas itu. Entah milik siapa yang paling tajam menghunjam ke sanubari. Sang penyidik dan aku nyatanya sama-sama berpandangan kosong.

            Sejujurnya, dia bukan tidak paham, aku yakin. Dia hanya sedang menyimpulkan banyak hal. Mungkin, bukan hanya masalahku yang mengisi penuh benaknya, banyak juga yang telah mengadukan permasalahan lain kepadanya.

            “Anda bisa melihat jejak digital yang tersimpan di ponselku. Itu pun jika Anda mau.”

            Kusodorkan ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman. Sang penyidik meraihnya dan mulai menggeser-geser jempolnya di layar ponselku. Raut wajahnya mulai berubah. Dia semakin mengerutkan kening dan jempolnya semakin cepat menggeser layar ponsel.

            “Banyak juga yang mengalami kasus serupa dengan, Mbak.”

            “Lalu bagaimana? Apakah mereka yang berbuat itu biasa diadili? Tindakan mereka sangat terencana dan detail.”

            “Kebanyakan, berakhir begitu saja. Mereka yang melakukan ini lebih banyak beroperasi dari balik jeruji.”

            “Mengapa bisa?”

            “Mereka berkomplot, beroperasi, dan bertransaksi dengan sembunyi-sembunyi.”

            “Penjara sekarang membebaskan penghuninya bermain ponsel?”

            “Oknum.”

            “Apakah mereka bisa diadili?”

            “Mereka sedang diadili, bukan?”

            “Namun, bukan untuk perkara yang mereka perbuat kepadaku.”

            “Mereka harus menyelesaikan hukuman terdahulu, barulah perkara Anda bisa diproses.”

            Semakin lemas lututku mendengar realita penegakan hukum di negeri ini. Sel yang sejatinya adalah ruangan untuk introspeksi dan pemberian hukuman bagi pelaku kejahatan, justru menjadi ruangan paling aman untuk melakukan kejahatan lain.

            “Artinya tidak ada harapan?”

            Sang penyidik terdiam. Dia seolah menganalisis.

            “Anda tunggu sebentar.”

            Sang penyidik berjalan di lorong menuju pintu di ujungnya. Ruang pimpinan, kukira.

            Degup jantungku mengencang. Pikiranku semakin tidak karuan. Batinku, “Bodohnya aku. Sebenarnya, apa yang kuharapkan!”

            Lima belas menit berselang, kakiku tidak bisa diam. Kulihat pintu di ujung sana terbuka. Keluarlah lelaki bertubuh tinggi berkulit gelap, sang penyidik.

            “Mbak, sepertinya tidak ada harapan. Lebih baik direlakan.”

            Ah, sejak awal, aku memang tidak berharap apa-apa. Setidaknya, aku telah mengikhtiarkan keharusanku, pikirku.

            “Baiklah. Ternyata memang hanya sabar dan ikhlas yang bisa kulakukan. Semoga lukaku cepat mengering. Semoga aku hilang ingatan.”

            Sang penyidik seolah iba, atau, itu hanya dugaanku. Kuyakin dia tidak akan tahu rasanya kehilangan gairah hidup karena penipu yang dengan ulungnya mencuri kepercayaan hingga merenggut habis uang yang kuhasilkan dengan darah dan keringat. Bahkan, yang paling miris adalah sang penyidik tidak akan tahu pasti hilang arahnya seorang anak manusia yang tetiba harus memiliki utang akibat dikelabui secara terang-terangan.

            Gontai, aku pamit. Kuturuni anak tangga, kuusahakan menetralkan rasa, menata yang hancur berantakan. Kurasa, aku hampir mati. Tidak akan lagi aku menjadi sebodoh ini. (PKY/2024)