Apa dengan mendengar suaranya saja sudah cukup? Begitu pertanyaan yang kerap ditujukan kepadaku beberapa minggu ini. Bukan tanpa alasan, sejak pertama kali megenal Daraupadi, tak pernah sekali pun secara langsung aku melihat wajahnya. Meskipun begitu, aku seolah sangat mengenal sosok fana yang wujud nyatanya tak pernah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Fotonya yang terpampang sebagai profil WhatsApp-nya itu adalah yang meyakinkanku tentang eksistensinya di dunia ini.
Aku yang termasuk bagian dari generasi yang katanya lembek seperti stroberi itu sering kali berpikir bahwa hidup itu selalu terpusat kepada diriku seorang. Bahwa di dunia ini telah hidup miliaran manusia, bukanlah suatu pembatas atas imaji yang tidak pernah lenyap itu. Bahwa setiap manusia yang ada di dunia ini selalu berniat baik kepadaku, juga menjadi bumerang tersendiri saat itu memiliki potensi untuk terjadi.
Saking bodohnya, hidup memang tidak pernah bercanda kepada manusia yang dikehendaki. Aku mungkin menjadi bagian dari yang dipermainkan itu. Kedunguan yang telanjur mematri itu memberikan efek trauma yang teramat pada akhirnya. Aku telah teperdaya oleh sesama. Hartaku habis, kepercayaan diriku lenyap, keberanianku hilang. Bahkan, tidurku menjadi tidak lagi berkualitas. Dengan waktu lama yang kuluangkan untuk tidur, aku hanya membuat tubuhku semakin lemah. Pelarian yang rasanya sia-sia.
Upaya terbaik untuk memperjuangkan hak telah aku lakukan, tetapi tidak berbuah kabar baik. Kepada pihak yang katanya bertugas memberikan keadilan bagi masyarakat, ternyata tidak juga ada lampu hijau. Justru, mata mereka hanya memancarkan hujatan. Sadar, aku telah disepelekan dari berbagai sisi. Sebagai perempuan, aku telah diolok-olok. Sebagai seorang individu, aku telah dicoreng rasa kemanusiaanku. Padahal, saat itu aku hanya sedang berikhtiar, tetapi tidak ada satu pun yang berkenan mendengarkan.
“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” tanya seorang petugas yang kuduga sebagai penyidik yang belum lama bertugas.
Sungkan, aku enggan untuk menceritakan detail perkara yang menimpa. Lubang hidungku terasa menyempit, paru-paruku sesak. Aku tidak mau menceritakan kebodohanku ini kepada siapa pun. Akan tetapi, untuk apa aku datang kemari jika tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Namun, begitu kelu, aku tak sanggung mendeskripsikan kisah itu.
Lagi, kutarik napas dalam, sangat dalam. Aku memulai cerita.
“Aku ini bodoh. Kurelakan kepercayaanku diobrak-abrik, hartaku digasak habis, hidupku dibuat kacau.”
Sang penyidik tampak mengerutkan dahi, dia berusaha mencerna perkataanku. Sambil memain-maikan ponselnya, dia menerawang jauh ke depan.
“Media apa yang berperan?”
“Media sosial, media yang sesuai dengan namanya, membawa kesialan.”
“Penipuan? Pemerasan?”
“Pembunuhan karakter!”
Sepertinya bahasaku terlalu berjarak dengan sang penyidik. Dia terlihat semakin kebingungan dan aku pun semakin tidak sanggup berkata-kata lagi. Kami pun diam, hening. Yang terdengar hanya hembusan napas kami yang seolah saling menyahut. Ada keresahan, kemarahan, sekaligus kebingungan dalam deru napas itu. Entah milik siapa yang paling tajam menghunjam ke sanubari. Sang penyidik dan aku nyatanya sama-sama berpandangan kosong.
Sejujurnya, dia bukan tidak paham, aku yakin. Dia hanya sedang menyimpulkan banyak hal. Mungkin, bukan hanya masalahku yang mengisi penuh benaknya, banyak juga yang telah mengadukan permasalahan lain kepadanya.
“Anda bisa melihat jejak digital yang tersimpan di ponselku. Itu pun jika Anda mau.”
Kusodorkan ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman. Sang penyidik meraihnya dan mulai menggeser-geser jempolnya di layar ponselku. Raut wajahnya mulai berubah. Dia semakin mengerutkan kening dan jempolnya semakin cepat menggeser layar ponsel.
“Banyak juga yang mengalami kasus serupa dengan, Mbak.”
“Lalu bagaimana? Apakah mereka yang berbuat itu biasa diadili? Tindakan mereka sangat terencana dan detail.”
“Kebanyakan, berakhir begitu saja. Mereka yang melakukan ini lebih banyak beroperasi dari balik jeruji.”
“Mengapa bisa?”
“Mereka berkomplot, beroperasi, dan bertransaksi dengan sembunyi-sembunyi.”
“Penjara sekarang membebaskan penghuninya bermain ponsel?”
“Oknum.”
“Apakah mereka bisa diadili?”
“Mereka sedang diadili, bukan?”
“Namun, bukan untuk perkara yang mereka perbuat kepadaku.”
“Mereka harus menyelesaikan hukuman terdahulu, barulah perkara Anda bisa diproses.”
Semakin lemas lututku mendengar realita penegakan hukum di negeri ini. Sel yang sejatinya adalah ruangan untuk introspeksi dan pemberian hukuman bagi pelaku kejahatan, justru menjadi ruangan paling aman untuk melakukan kejahatan lain.
“Artinya tidak ada harapan?”
Sang penyidik terdiam. Dia seolah menganalisis.
“Anda tunggu sebentar.”
Sang penyidik berjalan di lorong menuju pintu di ujungnya. Ruang pimpinan, kukira.
Degup jantungku mengencang. Pikiranku semakin tidak karuan. Batinku, “Bodohnya aku. Sebenarnya, apa yang kuharapkan!”
Lima belas menit berselang, kakiku tidak bisa diam. Kulihat pintu di ujung sana terbuka. Keluarlah lelaki bertubuh tinggi berkulit gelap, sang penyidik.
“Mbak, sepertinya tidak ada harapan. Lebih baik direlakan.”
Ah, sejak awal, aku memang tidak berharap apa-apa. Setidaknya, aku telah mengikhtiarkan keharusanku, pikirku.
“Baiklah. Ternyata memang hanya sabar dan ikhlas yang bisa kulakukan. Semoga lukaku cepat mengering. Semoga aku hilang ingatan.”
Sang penyidik seolah iba, atau, itu hanya dugaanku. Kuyakin dia tidak akan tahu rasanya kehilangan gairah hidup karena penipu yang dengan ulungnya mencuri kepercayaan hingga merenggut habis uang yang kuhasilkan dengan darah dan keringat. Bahkan, yang paling miris adalah sang penyidik tidak akan tahu pasti hilang arahnya seorang anak manusia yang tetiba harus memiliki utang akibat dikelabui secara terang-terangan.
Gontai,
aku pamit. Kuturuni anak tangga, kuusahakan menetralkan rasa, menata yang
hancur berantakan. Kurasa, aku hampir mati. Tidak akan lagi aku menjadi sebodoh
ini. (PKY/2024)