Rabu, 30 April 2014

Kelebihan dan Kekurangan Novel 5 Cm

      1. Hal yang Menarik (Kelebihan)
Ketika saya membaca novel ini, sejujurnya yang paling menarik adalah judulnya ‘5 cm’. Yang pertama kali saya pikirkan adalah jarak, namun jarak apa saya tidak yakin karena ukurannya yang hanya 5 cm. Setelah saya membaca seluruhnya, saya menemukan sebuah percakapan yang isinya kurang lebih seperti ini...”...Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan... sehabis itu yang kamu perlu... Cuma....”
(5 cm, hal 362)
Menurut saya mungkin 5 cm itu menggambarkan keyakinan yang harus terus ditanamkan dalam pikiran kita sebagai manusi sekurang-kurangnya 5 cm dari kening kita .
Lalu menurut saya yang paling menarik itu adalah kutipan filsafat-filsafat, salah satunya yang saya paling sukai adalah dari Socrates, seperti dalam kutipan berikut
...Zafran langsung menjawab, “orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu.”... (5 cm, halaman 161)
selain itu, saya juga setuju dengan pendapat pengarang tentang cinta yang dituangkan dalam paragraf berikut
...Dan, cinta sekali lagi membuktikan kekuatannya malam itu kalau cinta itu ada untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dimiliki, bukan untuk Genta, bukan untuk Dinda, bukan untuk Riani, bukan untuk Zafran. Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-pelajaran kehidupan manusia selanjutnya.Cinta yang akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya... (5 cm, halaman 368)
Karena memang pada dasarnya cinta ada agar manusia bisa mengenali siapa penciptanya, dan cinta tidak memaksa dan mengikat.
Selain yang saya sebutkan ini, ‘5 cm’ menurut saya merupakan sebuah paket kumplit yang menarik untuk dibaca. Dari aspek sosial sampai aspek religi semua ada, bahkan novel ini pun menyelipkan sedikit kisah mistis yang ditempatkan pada porsinya.
Selain itu semua, satu hal yang paling menarik yaitu perjuangan Gebta dan kawan-kawannya demi bisa mengikut upacara bendera 17 Agustus seolah menggambarkan medan terjal itu merupakan gambaran situasi sebelum Indonesia merdeka. Perjuangan untuk mencapai puncak Mahameru merupakan sebuah gambaran lain dari perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. 

2. Hal yang Kurang Menarik
Menurut saya kekurangan dari novel ini terdapat pada akhir cerita. Memang cerita dalam novel ini berakhir bahagia, akan tetapi penyelesaiannya terkesan dipaksakan. Artinya pengarang tanpa memperhatikan cerita sebelumnya, memasang-masangkan tokoh dalam pernikahan.
Selain itu, yang membuat saya bingung adalah pada saat Ian seolah-olah sedang bicara dengan komputer dan folder-folder didalamnya. Pada bagian itu pengarang menyajkan percakapan antara Ian dan komputenya seperti dalam kutipan berikut
...Ian: Tuh denger makanya jangan sok tau...gue defrag nih.
Si kompibaiksekalitemenIan: Nggak mau ah CS di defrag geli. CS kan tau gue orangnya gelian.
Ian: Makanya jangan berisik!
Hardik Ian galak sambil mengambil bukunya Peter Senge, Disiplin Kelima. Folder skripsi bergaya menari-nari riang diantara kabel-kabel data Si kompibaiksekalitemenIan... (5 cm, halaman 108)




Melarat

Dulu ...
Mataku hanya melihat apa yang aku lihat
Keindahan sampul yang kadang tumpul, menggeliat
Kadang aku merasa berkarat
Benarkah cinta membuat sekarat?
Ataukah melarat?

Sekarang ...
Mataku masih buta
Masih melihat yang aku lihat
Masih menutup rapat
Masih sekarat dan melarat

Nanti ...
Aku akan melihat
Hatiku mulai menggeliat
Dan aku tidak lagi sekarat ataupun melarat

Tanjungsari, 22 Februari 2014
(Puisi ini saya tulis setelah saya membaca novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata dan menonton anime Jepang yang berjudul “chuunibyou...”)
 

Sabtu, 12 April 2014

Silabus

Hidup ...
Fatamorgana yang menyilaukan
Rapuhnya iman
Tergoda setan
Mati dalam kehancuran


Penjelasan:
Tidak semua kehidupan membawa kebahagiaan. Kadang, hidup justru membawa pada kenistaan dan berakhir pada penyesalan. 
Dibuat di Tanjungsari