Menyenangkan ketika ada buku yang mau menghampiri, bukan? Apalagi, jika buku itu merupakan lanjutan dari kisah yang pernah dibaca. Larung, novel lanjutan Saman yang ditulis oleh Ayu Utami. Malu kalau mengingat saat membaca Saman, dulu semasa kuliah. Sebagai seorang mahasiswa program studi Sastra Indonesia, mau tidak mau harus membaca karya-karya sastra jenis apa pun. Kebebasan untuk menentukan selera sastra tidak bisa digunakan saat karya sastra tersebut dijadikan sebagai bahan perkuliahan, termasuk Saman. Ini menjadi karya sastra pertama yang kubaca demi memenuhi tugas perkuliahan. Sebagai anak piyik di bidang studi ini, banyak hal masih menjadi pertanyaanku. Termasuk, pertanyaan, bahkan pernyataan bahwa karya sastra sekelas Saman “tidak layak” untuk dibaca. Apa lagi kalau bukan karena ceritanya, kosa kata vulgar yang menjadi pengiringnya. Sungguh, masih malu rasanya, bahkan hingga sekarang. Untungnya, ada mata kuliah lanjutannya setelahnya. Aku perlahan belajar dan mengetahui betapa memalukannya argumenku tentang Saman.
Larung seharusnya menawarkan sesuatu yang berbeda dengan Saman. Ternyata, memang berbeda, tetapi ada juga kesamaannya. Seperti Saman, Larung adalah nama seorang tokoh yang dihidupkan oleh Ayu Utami dalam karyanya ini. Entah bagaimana, Larung terasa sangat dekat dengan pembaca, khususnya denganku. Meski tidak jelas asal-usulnya, Larung berhasil membangun sudut pandang miliknya terhadap pembaca. Dia adalah realita seorang anak manusia yang hidup untuk memberi kedamaian bagi jiwa-jiwa yang terpenjara dalam raga yang telanjur bobrok. Sosoknya tangguh dan teguh. Mistis yang digambarkan begitu mencekam dan menyeramkan pun tidak membuat Larung gentar. Dialah sosok tangguh yang mau mengambil risiko tersulit sekalipun demi sosok yang dia kasihi. Simbahnya. Lalu, siapakah Larung sebenarnya? Menurut Saman, Larung adalah komodo. Menurutku, Larung adalah pahlawan. Menurutmu Larung itu apa, siapa?
Simbah dan Larung adalah dua tokoh yang mewarnai sebagian kisah dalam Larung. Sosok lain hanya menjadi tokoh-tokoh yang menyampaikan sugesti, memengaruhi kelangsungan pendirian sang tokoh utama, Larung. Menarik, Larung adalah seorang cucu yang sangat mencintai neneknya (Simbah), tetapi dialah yang menjadi pembunuhnya. Bahkan, dengan tangannya, Larung mengoyak jasad sang nenek hingga bisa dimasukkan ke dalam sebuah kotak, rapat. Apakah ini yang dinamakan mencintai dengan setulus hati? Menyakiti hingga menikmati setiap sensasi merasa memiliki. Larung adalah implementasi para pejuang mempertahankan tanah airnya, Indonesia, dengan cara yang berbeda. Anehnya, larung tidak digambarkan sebagai sosok yang bertubuh gagah perkasa nan menawan. Mungkinkah Ayu Utami menyangkal bahwa setiap perlawanan harus selalu penuh kegagahan, keperkasaan?
Bukan Ayu Utami kalau tidak memunculkan opini feminismenya. Seperti ladang dakwahnya, Larung penuh dengan sarkasme perlawanan kaum perempuan. Begitu tidak adilkah perlakuan yang diterima perempuan pada masa itu? Atau bahkan hingga saat ini memang masih sama tidak adilnya? Ayu Utami memang penulis penuh talenta. Kepiawaiannya menghidupkan sosok-sosok pembawa misi pemuliaan perempuan membuat cerita dalam novel ini kian menarik, penuh penghayatan. Bayangkan, betapa buruknya perlakuan terhadap kaum perempuan pada masa lampau hingga Ayu Utami sangat berhasrat untuk menyampaikan bahwa perempuan juga mampu. Perempuan bukan manusia kelas dua yang selalu dapat diperbudak. Peremuan mampu melakukan dan menyuarakan kebebasannya. Perempuan bukan kaki tangan para maniak persetubuhan. Perempuan, sejatinya, adalah bagian dari perubahan pergolakan kehidupan, sejarah. Perempuan turut andil di dalamnya.
Larung adalah karya sastra yang sangat kaya. Ayu Utami serius menyentil realita sosial, ekonomi, dan budaya di tanah airnya tercinta. Melalui tokohnya, Larung, Ayu Utami mengatakan, “Saya kira tukang ojek tak bisa masuk angin—kataku. Bukankah kedap angin adalah syarat kedua. SIM-C adalah syarat ketiga, dan miskin adalah syarat pertama? ….” (Utami, 2001:23). Memang, realita ekonomi selalu mengarah pada aspek sosial dan budaya. Politik pun turut serta di dalamnya. Bagaimanapun, jika miskin sudah menjadi syarat utama, segala cara akan dilakukan, demi bertahan.
“… Nak, menjadi tua adalah menjadi mata, dan hanya mata, melihat tanpa berada ….” (Utami, 2001:25). Aku terkesima menerima penyugestian yang disampaikan Ayu Utami. Sungguh, yang membuat manusia merasa hidup adalah mata, selain hati nurani dan akal. Visualisasi adalah anugerah yang tidak semua orang dikaruniainya. Melihat saja memang mudah, tidak perlu ada dan menjadi bagian di dalamnya. Cukup melihat saja. Menjadi saksi keberlangsungan realita kehidupan. Meski tidak mau, tetap harus.
Ayu Utami rupanya juga memiliki ketertarikan pada hakikat manusia. Dia menyampaikan pertanyaan-pertanyaan menggugah tentang manusia.
“… Kenapa manusia menjadi tua, sakit, sebelum mati dan busuk? Sebab tubuh mencintai kehidupan maka ia melawan maut dengan rasa sakit. Kelak akan kukalahkan tubuhku sebelum uzur mengambil harga diriku. Kelak akan kukalahkan segala rasa sakit sebelum ia mencampakkanku pada sia-sia. Hidup bukan menunda kematian, melainkan memutuskannya. Akan kuputuskan kematianku jika sampai waktunya ….” (Utami, 2001:45)
Namun, siapa yang bisa melawan kematian, menentang ketidakberdayaan. Bahkan, di bawah penjajah kehidupan pun, manusia tidak berdaya, apalagi di tangan Sang Pencipta. Ayu Utami memang penuh gairah eksistensi. Dia tidak mau dikalahkan dalam berbagai aspek. Atau, justru memang Larung yang menginginkannya seorang diri.
“Kemudian ia menatap saya. ‘Terlahir sebagai anak sulung,’ katanya, ‘saya tahu rasanya dikhianati sejak dini.’ Kita merasa seperti dikhianati ketika kita harus berbagi kasih ibu dengan adik-adik ….” (Utami, 2001:104)
Bahkan, Ayu Utami sampai pada kepekaan pribadi yang sangat detil. Seolah, Ayu Utami sangat memahami posisi sebagai anak sulung. Memang, pengkhianatan pertama yang dialami oleh seorang anak sulung adalah saat orang tua tidak lagi menepati janjinya untuk tidak membagi kasih. Sakit, meski harus berbagi dengan saudara sendiri. Sepertinya, Ayu Utami sangat menyadari bahwa tanah airnya pun harus selalu dinomorsatukan. Tidak ada pengkhianatan yang lebih menyakitkan selain didua, ditiga, dibagikasihkan dengan siapa pun, dengan apa pun. Mungkin ada yang lain, yang memiliki lebih banyak keunggulan, kesempurnaan. Namun, tidak ada yang pernah dengan tulus dan ikhlas menjadi yang pertama menerimamu.
Larung memang penuh misteri, tetapi seperti memiliki dua juru kisah yang berbeda. Di satu bagian, Larung adalah sang tokoh utama, penggerak cerita. Sementara itu, di bagian lain, Larung hanya pelengkap yang menempel pada kisah Saman. Malangnya Larung. Dia seperti dikebiri dengan cara yang tidak wajar. Ayu Utami terlalu mencintai Saman. Dia masih belum puas atas kisah Saman sehingga Larung harus menanggung akibatnya. Ayu Utami, mungkinkah kamu juga bagian dari penikmat ketampanan, kegagahan, keperkasaan, dan kewibawaan laki-laki seperti Saman? Apakah Larung tidak memiliki harapan untuk disukai juga, dengan perawakannya yang pendek kecil? Kasihanilah Larung, Ayu!
Membaca Larung seperti membaca kalimat-kalimat mutiara penuh makna. Selalu ada keindahan sekaligus keberanian dalam setiap untaian kata. Bagian demi bagian memberikan kedamaian, menuntut untuk ditelisik makna terdalamnya. Seperti tidak ada cacat, Ayu Utami sangat peka terhadap kesederhanaan dan hal-hal remeh yang temeh. Kamu harus buktikan sendiri agar kamu percaya. Mungkin, setelah ini, aku akan bersiap untuk kembali membca Saman. Sensasinya pasti berbeda dengan saat pertama kali membacanya. Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat dosenku tertawa ketika aku menyampaikan ketidaklaikan Saman untuk dibaca. Sepertinya, dulu aku memang belum mampu menikmati kudapan mewah yang tersaji di meja makan. Aku terlalu dibutakan visual yang vulgar. Benarlah Ayu Utami bahwa wanita semakin perkasa seiring dengan bertambahnya usia. Keberanian untuk menerima perubahan, perbedaan, peradaban hanya dimiliki oleh mereka yang dewasa, yang perkasa. (Palangka Raya, 14 April 2020)