Jumat, 17 April 2020

Larung: Cita-Cita dan Harapan yang Ditenggelamkan

Identitas Buku
Judul                            : Larung
Penulis                         : Ayu Utami
Tahun Terbit               : 2001
Gambar Sampul          : Agus Suwage
Desain Sampul            : Rully Susanto
Cetakan ke                  : 4 (Februari 2007)
Diterbitkan di              : Jakarta
Penerbit                      : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

“… Oh, ternyata Larung itu komodo.”
(Utami, 2001:181)
          

Menyenangkan ketika ada buku yang mau menghampiri, bukan? Apalagi, jika buku itu merupakan lanjutan dari kisah yang pernah dibaca. Larung, novel lanjutan Saman yang ditulis oleh Ayu Utami. Malu kalau mengingat saat membaca Saman, dulu semasa kuliah. Sebagai seorang mahasiswa program studi Sastra Indonesia, mau tidak mau harus membaca karya-karya sastra jenis apa pun. Kebebasan untuk menentukan selera sastra tidak bisa digunakan saat karya sastra tersebut dijadikan sebagai bahan perkuliahan, termasuk Saman. Ini menjadi karya sastra pertama yang kubaca demi memenuhi tugas perkuliahan. Sebagai anak piyik di bidang studi ini, banyak hal masih menjadi pertanyaanku. Termasuk, pertanyaan, bahkan pernyataan bahwa karya sastra sekelas Saman “tidak layak” untuk dibaca. Apa lagi kalau bukan karena ceritanya, kosa kata vulgar yang menjadi pengiringnya. Sungguh, masih malu rasanya, bahkan hingga sekarang. Untungnya, ada mata kuliah lanjutannya setelahnya. Aku perlahan belajar dan mengetahui betapa memalukannya argumenku tentang Saman.  

Larung seharusnya menawarkan sesuatu yang berbeda dengan Saman. Ternyata, memang berbeda, tetapi ada juga kesamaannya. Seperti Saman, Larung adalah nama seorang tokoh yang dihidupkan oleh Ayu Utami dalam karyanya ini. Entah bagaimana, Larung terasa sangat dekat dengan pembaca, khususnya denganku. Meski tidak jelas asal-usulnya, Larung berhasil membangun sudut pandang miliknya terhadap pembaca. Dia adalah realita seorang anak manusia yang hidup untuk memberi kedamaian bagi jiwa-jiwa yang terpenjara dalam raga yang telanjur bobrok. Sosoknya tangguh dan teguh. Mistis yang digambarkan begitu mencekam dan menyeramkan pun tidak membuat Larung gentar. Dialah sosok tangguh yang mau mengambil risiko tersulit sekalipun demi sosok yang dia kasihi. Simbahnya. Lalu, siapakah Larung sebenarnya? Menurut Saman, Larung adalah komodo. Menurutku, Larung adalah pahlawan. Menurutmu Larung itu apa, siapa?

Simbah dan Larung adalah dua tokoh yang mewarnai sebagian kisah dalam Larung. Sosok lain hanya menjadi tokoh-tokoh yang menyampaikan sugesti, memengaruhi kelangsungan pendirian sang tokoh utama, Larung. Menarik, Larung adalah seorang cucu yang sangat mencintai neneknya (Simbah), tetapi dialah yang menjadi pembunuhnya. Bahkan, dengan tangannya, Larung mengoyak jasad sang nenek hingga bisa dimasukkan ke dalam sebuah kotak, rapat. Apakah ini yang dinamakan mencintai dengan setulus hati? Menyakiti hingga menikmati setiap sensasi merasa memiliki. Larung adalah implementasi para pejuang mempertahankan tanah airnya, Indonesia, dengan cara yang berbeda. Anehnya, larung tidak digambarkan sebagai sosok yang bertubuh gagah perkasa nan menawan. Mungkinkah Ayu Utami menyangkal bahwa setiap perlawanan harus selalu penuh kegagahan, keperkasaan?

Bukan Ayu Utami kalau tidak memunculkan opini feminismenya. Seperti ladang dakwahnya, Larung penuh dengan sarkasme perlawanan kaum perempuan. Begitu tidak adilkah perlakuan yang diterima perempuan pada masa itu? Atau bahkan hingga saat ini memang masih sama tidak adilnya? Ayu Utami memang penulis penuh talenta. Kepiawaiannya menghidupkan sosok-sosok pembawa misi pemuliaan perempuan membuat cerita dalam novel ini kian menarik, penuh penghayatan. Bayangkan, betapa buruknya perlakuan terhadap kaum perempuan pada masa lampau hingga Ayu Utami sangat berhasrat untuk menyampaikan bahwa perempuan juga mampu. Perempuan bukan manusia kelas dua yang selalu dapat diperbudak. Peremuan mampu melakukan dan menyuarakan kebebasannya. Perempuan bukan kaki tangan para maniak persetubuhan. Perempuan, sejatinya, adalah bagian dari perubahan pergolakan kehidupan, sejarah. Perempuan turut andil di dalamnya.

Larung adalah karya sastra yang sangat kaya. Ayu Utami serius menyentil realita sosial, ekonomi, dan budaya di tanah airnya tercinta. Melalui tokohnya, Larung, Ayu Utami mengatakan, “Saya kira tukang ojek tak bisa masuk angin—kataku. Bukankah kedap angin adalah syarat kedua. SIM-C adalah syarat ketiga, dan miskin adalah syarat pertama? ….” (Utami, 2001:23). Memang, realita ekonomi selalu mengarah pada aspek sosial dan budaya. Politik pun turut serta di dalamnya. Bagaimanapun, jika miskin sudah menjadi syarat utama, segala cara akan dilakukan, demi bertahan.

“… Nak, menjadi tua adalah menjadi mata, dan hanya mata, melihat tanpa berada ….” (Utami, 2001:25). Aku terkesima menerima penyugestian yang disampaikan Ayu Utami. Sungguh, yang membuat manusia merasa hidup adalah mata, selain hati nurani dan akal. Visualisasi adalah anugerah yang tidak semua orang dikaruniainya. Melihat saja memang mudah, tidak perlu ada dan menjadi bagian di dalamnya. Cukup melihat saja. Menjadi saksi keberlangsungan realita kehidupan. Meski tidak mau, tetap harus.

Ayu Utami rupanya juga memiliki ketertarikan pada hakikat manusia. Dia menyampaikan pertanyaan-pertanyaan menggugah tentang manusia.

“… Kenapa manusia menjadi tua, sakit, sebelum mati dan busuk? Sebab tubuh mencintai kehidupan maka ia melawan maut dengan rasa sakit. Kelak akan kukalahkan tubuhku sebelum uzur mengambil harga diriku. Kelak akan kukalahkan segala rasa sakit sebelum ia mencampakkanku pada sia-sia. Hidup bukan menunda kematian, melainkan memutuskannya. Akan kuputuskan kematianku jika sampai waktunya ….” (Utami, 2001:45)

Namun, siapa yang bisa melawan kematian, menentang ketidakberdayaan. Bahkan, di bawah penjajah kehidupan pun, manusia tidak berdaya, apalagi di tangan Sang Pencipta. Ayu Utami memang penuh gairah eksistensi. Dia tidak mau dikalahkan dalam berbagai aspek. Atau, justru memang Larung yang menginginkannya seorang diri.

“Kemudian ia menatap saya. ‘Terlahir sebagai anak sulung,’ katanya, ‘saya tahu rasanya dikhianati sejak dini.’ Kita merasa seperti dikhianati ketika kita harus berbagi kasih ibu dengan adik-adik ….” (Utami, 2001:104)

Bahkan, Ayu Utami sampai pada kepekaan pribadi yang sangat detil. Seolah, Ayu Utami sangat memahami posisi sebagai anak sulung. Memang, pengkhianatan pertama yang dialami oleh seorang anak sulung adalah saat orang tua tidak lagi menepati janjinya untuk tidak membagi kasih. Sakit, meski harus berbagi dengan saudara sendiri. Sepertinya, Ayu Utami sangat menyadari bahwa tanah airnya pun harus selalu dinomorsatukan. Tidak ada pengkhianatan yang lebih menyakitkan selain didua, ditiga, dibagikasihkan dengan siapa pun, dengan apa pun. Mungkin ada yang lain, yang memiliki lebih banyak keunggulan, kesempurnaan. Namun, tidak ada yang pernah dengan tulus dan ikhlas menjadi yang pertama menerimamu.

Larung memang penuh misteri, tetapi seperti memiliki dua juru kisah yang berbeda. Di satu bagian, Larung adalah sang tokoh utama, penggerak cerita. Sementara itu, di bagian lain, Larung hanya pelengkap yang menempel pada kisah Saman. Malangnya Larung. Dia seperti dikebiri dengan cara yang tidak wajar. Ayu Utami terlalu mencintai Saman. Dia masih belum puas atas kisah Saman sehingga Larung harus menanggung akibatnya. Ayu Utami, mungkinkah kamu juga bagian dari penikmat ketampanan, kegagahan, keperkasaan, dan kewibawaan laki-laki seperti Saman? Apakah Larung tidak memiliki harapan untuk disukai juga, dengan perawakannya yang pendek kecil? Kasihanilah Larung, Ayu!

Membaca Larung seperti membaca kalimat-kalimat mutiara penuh makna. Selalu ada keindahan sekaligus keberanian dalam setiap untaian kata. Bagian demi bagian memberikan kedamaian, menuntut untuk ditelisik makna terdalamnya. Seperti tidak ada cacat, Ayu Utami sangat peka terhadap kesederhanaan dan hal-hal remeh yang temeh. Kamu harus buktikan sendiri agar kamu percaya. Mungkin, setelah ini, aku akan bersiap untuk kembali membca Saman. Sensasinya pasti berbeda dengan saat pertama kali membacanya. Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat dosenku tertawa ketika aku menyampaikan ketidaklaikan Saman untuk dibaca. Sepertinya, dulu aku memang belum mampu menikmati kudapan mewah yang tersaji di meja makan. Aku terlalu dibutakan visual yang vulgar. Benarlah Ayu Utami bahwa wanita semakin perkasa seiring dengan bertambahnya usia. Keberanian untuk menerima perubahan, perbedaan, peradaban hanya dimiliki oleh mereka yang dewasa, yang perkasa. (Palangka Raya, 14 April 2020)

 

Selasa, 14 April 2020

Kebaikan yang Disamarkan

Apa kamu yakin bahwa segala hal yang ada di sekitarmu, yang kamu anggap baik, memang benar-benar baik? Aku percaya bahwa kamu sangat yakin Allah sudah mengatur segala yang baik untuk kamu. Khusnuzan memang harus selalu kamu tanamkan dalam diri, dalam hal apa pun. Namun, Teman, ada kalanya yang kita anggap baik, tidak selalu benar-benar baik. Ada dimensi lain yang harus kamu saksikan sebelum kamu memasuki dimensi kebaikan itu. Ibaratnya, selalu ada kulit sebelum daging. Nikmatnya daging hanya dapat dirasakan jika kamu mengenali kulit dan mampu mengulitinya dengan benar. Ingat, benar, ya, Teman! Semua yang Allah ciptakan pasti baik. Masalahnya, semua yang baik itu belum tentu tumbuh dan berkembang dengan benar. Bukan suuzan, hanya menyakini bahwa semua tumbuh dan besar dengan cara yang berbeda. Inilah yang membuat semuanya beragam. Ada yang kasar, buruk, dan menyeramkan kulit luarnya, tetapi manis, nikmat, dan menyegarkan bagian dagingnya. Ada juga yang sebaliknya. Selain itu, ada yang mulus dan menarik bagian kuliatnya serta enak dan nikmat bagian dagingnya, tetapi tidak menutup kemungkinan, ada juga yang kulit dan dagingnya tidak bisa dikonsumsi sama sekali. Begitupun dengan manusia. Allah Maha Pengasih, menyayangi semua hamba-Nya. Semoga kita termasuk yang diberi rahmat dan hidayah-Nya, termasuk dalam melihat sisi baik dari setiap hal yang ada di sekitar kita. Aamiin. Teman, sebagai manusia hidup dengan jiwa dan raga, kita memiliki kecenderungan untuk memikirkan beragam hal. Ada hal yang positif dan negatif. Semuanya bergantung pada bagaimana dan sejauh mana pemahaman serta pengalaman kita. Mungkin, bagi sebagian orang mudah membedakan yang baik dan tidak. Cukup dengan memperhatikan hal-hal tertentu seperti gerak tubuh dan cara bicara seseorang, dapat diketahui tabiat sebenarnya. Namun, ini tidak mudah bagi sebagian orang. Apalagi, jika orang yang sedang kita identifikasi itu memperlihatkan sisi-sisi yang menurut pemahaman dan pengalaman kita menunjukkan sisi baik. Wasalam. Kalau kamu tidak berusaha mencari tahu watak aslinya, kamu akan dilenakan olehnya. Untung kalau orang tersebut memang memiliki kulit luar dan daging yang baik. Bagaimana kalau ada tabiat buruk di balik cangkangnya? Menjadi manusia yang selalu waspada terhadap segala hal bukanlah suatu kejahatan. Ini menunjukkan bahwa kamu termasuk orang yang selalu yakin bahwa setiap orang memiliki potensi untuk selalu memilih jalannya sendiri. Tidak semua orang mau menerima cinta yang diberi Sang Maha Cinta. Hanya yang benar-benar yakin atas ketetapan-Nya yang akan dengan suka rela menunjukkan kebaikan, baik di luar maupun di dalam dirinya. Namun, ternyata, seiring bertambahnya usia seorang manusia, semakin kompleks dan bertambah pengalamannya tentang kehidupan. Cara yang dipilih untuk menjalani hidup pun semakin berliku. Kalau kamu memang baru di panggung sandiwara ini, selamat datang. Sebagai aktor baru, ada beberapa hal yang kamu bisa pelajari dalam melakoni skenario kehidupan. Pertama, yakinlah bahwa Allah selalu memberikan kebaikan pada setiap makhluk-Nya. Namun, tidak semua makhluk memiliki cara yang sama dalam menunjukkan kebaikan tersebut. Kuncinya, jangan pernah dilenakan oleh visual. Nampak luar memang menggairahkan, tetapi bagian dalam belum tentu sama baiknya. Kedua, bujuk rayu setan memang nyata. Bukan hanya bagi segala hal di sekitarmu, tetapi juuga bagi dirimu sendiri. Kalau ada yang membuatmu ragu, jangan mengambil kesimpulan sendiri. Berusahalah untuk mencari tahu kebenaran dari kekhawatiranmu itu. Barengi ikhtiarmu dengan doa dan yakini bahwa semua yang baik akan menunjukkan sisi baiknya. Ketiga, yang kamu temukan belum tentu sama dengan yang orang lain tentukan. Kebaikan sangat relatif. Tidak mungkin sama perlakuan seseorang terhadap orang lain. Kamu pasti menyaksikannya sendiri, seiring berjalannya waktu. Keempat, orang baik akan selalu baik, bagaimanapun keadaannya. Jangan heran kalau kamu menjadi korban kebaikan seseorang. Maksudku, kamu mungkin “dieksplotasi” dalam berbagai aspek, bahkan yang tidak kamu sadari. Namun, yakinlah, ada kebaikan di balik semuanya. Ada hikmah yang bisa kamu ambil dari semua yang terjadi. Kelima, yang baik hanya akan berbicara tentang kebaikan. Kamu baik, berilah manfaat untuk orang lain dengan selalu berbicara tentang kebaikan. Berikan realisasi nyata, jangan cuman bicara. Allah tidak akan meninggalkanmu sendirian, yakin. Ketika kita yakin bahwa segala hal yang terjadi pada diri kita serta segala yang ada di lingkungan kita pasti memiliki derajat kebaikan, Allah pasti akan menuntun kita pada kebenaran. Baik dan tidak baik akan menjadi sangat jelas. Dengan begitu, kamu pasti menemukan cara terbaik untuk menempatkan dirimu. Namun, hati-hati mengambil sikap setelahnya. Jangan sampai karena terlalu berhati-hati, kamu menjadi bagian dari yang berkulit mulus dan menggairahkan tetapi berdaging busuk. Pertahanan diri memang perlu, tapi Allah sudah menyiapkan skenario terbaik-Nya untukmu. Bukankah sertiap kebaikan yang kamu lakukan hanya akan berbalik kebaikan juga? Cobalah untuk tidak hanya menilai sesuatu di luar dirimu. Sekali-kali, nilai juga dirimua. Adakah sesuatu di dalam dirimu yang tidak sejalan dengan nuranimu? Jangan-jangan diri yang selama ini kamu kira selalu berada pada jalan yang benar justru melakukan kesalahan. Bukankah yang paling sulit adalah mengenali diri sendiri? Bukankah yang paling menyebalkan adalah mengendalikan diri sendiri? Kamu mungkin bisa mengetahui mana yang benar-benar baik menurutmu, tapi kamu akan kesulitan mengenali kebaikan macam apa yang ada dalam dirimu. Sungguh, Teman, yang paling bebal adalah diri sendiri. Aku hampir menyerah pada diriku, untungnya aku masih bisa bertahan sampai sekarang. Untungnya Allah masih menunjukkan dimensi kehidupan yang lain. Jadi, setidaknya, ada bahan untukku mengurus diri. Mengaduh dan mengeluh saja tidak akan membuat kebenaran muncul dengan sendirinya. Nikmati dan pelajari adalah cara yang paling ampuh mengusir kebutaan. Kalau memang ada tembok yang menjulang, coba lihat dari jendela. Mungkin, tengah malam kamu bisa bercengkerama dengan Sang Maha Pembuka Mata agar tidak lagi buta. Kebaikan yang datangnya dari ketulusan akan selalu menyejukkan. Meski pasti ada sesak, itu hanya akan terjadi sesekali. Selebihnya, hanya akan ada syukur yang terpatri dalam hati karena telah dipertemukan dan dilibatkan dalam skenario kehidupan yang penuh misteri ini. Kalau kamu tidak juga menemukan rumus terbaik dalam mengenali kebaikan di kehidupanmu, mungkin kamu harus mulai berbenah. Terus-terusan mencari juga akan percuma kalau kamu tidak melihat ke dalam diri. Kamu harus lebih mawas diri, bisa jadi ada yang perlu kamu perbaiki. Jiwa dan raga mungkin perlu diakurkan agar sejalan, seirama, serima. “Biarkan dirimu diam-diam dihela Oleh tarikan ajaib Apa yang benar-benar kaucintai. Dia takkan menyesatkanmu.” (Rumi dalam “Belajar Hidurp dari Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Penerang Jiwa karya Haidar