Selasa, 14 April 2020

Kebaikan yang Disamarkan

Apa kamu yakin bahwa segala hal yang ada di sekitarmu, yang kamu anggap baik, memang benar-benar baik? Aku percaya bahwa kamu sangat yakin Allah sudah mengatur segala yang baik untuk kamu. Khusnuzan memang harus selalu kamu tanamkan dalam diri, dalam hal apa pun. Namun, Teman, ada kalanya yang kita anggap baik, tidak selalu benar-benar baik. Ada dimensi lain yang harus kamu saksikan sebelum kamu memasuki dimensi kebaikan itu. Ibaratnya, selalu ada kulit sebelum daging. Nikmatnya daging hanya dapat dirasakan jika kamu mengenali kulit dan mampu mengulitinya dengan benar. Ingat, benar, ya, Teman! Semua yang Allah ciptakan pasti baik. Masalahnya, semua yang baik itu belum tentu tumbuh dan berkembang dengan benar. Bukan suuzan, hanya menyakini bahwa semua tumbuh dan besar dengan cara yang berbeda. Inilah yang membuat semuanya beragam. Ada yang kasar, buruk, dan menyeramkan kulit luarnya, tetapi manis, nikmat, dan menyegarkan bagian dagingnya. Ada juga yang sebaliknya. Selain itu, ada yang mulus dan menarik bagian kuliatnya serta enak dan nikmat bagian dagingnya, tetapi tidak menutup kemungkinan, ada juga yang kulit dan dagingnya tidak bisa dikonsumsi sama sekali. Begitupun dengan manusia. Allah Maha Pengasih, menyayangi semua hamba-Nya. Semoga kita termasuk yang diberi rahmat dan hidayah-Nya, termasuk dalam melihat sisi baik dari setiap hal yang ada di sekitar kita. Aamiin. Teman, sebagai manusia hidup dengan jiwa dan raga, kita memiliki kecenderungan untuk memikirkan beragam hal. Ada hal yang positif dan negatif. Semuanya bergantung pada bagaimana dan sejauh mana pemahaman serta pengalaman kita. Mungkin, bagi sebagian orang mudah membedakan yang baik dan tidak. Cukup dengan memperhatikan hal-hal tertentu seperti gerak tubuh dan cara bicara seseorang, dapat diketahui tabiat sebenarnya. Namun, ini tidak mudah bagi sebagian orang. Apalagi, jika orang yang sedang kita identifikasi itu memperlihatkan sisi-sisi yang menurut pemahaman dan pengalaman kita menunjukkan sisi baik. Wasalam. Kalau kamu tidak berusaha mencari tahu watak aslinya, kamu akan dilenakan olehnya. Untung kalau orang tersebut memang memiliki kulit luar dan daging yang baik. Bagaimana kalau ada tabiat buruk di balik cangkangnya? Menjadi manusia yang selalu waspada terhadap segala hal bukanlah suatu kejahatan. Ini menunjukkan bahwa kamu termasuk orang yang selalu yakin bahwa setiap orang memiliki potensi untuk selalu memilih jalannya sendiri. Tidak semua orang mau menerima cinta yang diberi Sang Maha Cinta. Hanya yang benar-benar yakin atas ketetapan-Nya yang akan dengan suka rela menunjukkan kebaikan, baik di luar maupun di dalam dirinya. Namun, ternyata, seiring bertambahnya usia seorang manusia, semakin kompleks dan bertambah pengalamannya tentang kehidupan. Cara yang dipilih untuk menjalani hidup pun semakin berliku. Kalau kamu memang baru di panggung sandiwara ini, selamat datang. Sebagai aktor baru, ada beberapa hal yang kamu bisa pelajari dalam melakoni skenario kehidupan. Pertama, yakinlah bahwa Allah selalu memberikan kebaikan pada setiap makhluk-Nya. Namun, tidak semua makhluk memiliki cara yang sama dalam menunjukkan kebaikan tersebut. Kuncinya, jangan pernah dilenakan oleh visual. Nampak luar memang menggairahkan, tetapi bagian dalam belum tentu sama baiknya. Kedua, bujuk rayu setan memang nyata. Bukan hanya bagi segala hal di sekitarmu, tetapi juuga bagi dirimu sendiri. Kalau ada yang membuatmu ragu, jangan mengambil kesimpulan sendiri. Berusahalah untuk mencari tahu kebenaran dari kekhawatiranmu itu. Barengi ikhtiarmu dengan doa dan yakini bahwa semua yang baik akan menunjukkan sisi baiknya. Ketiga, yang kamu temukan belum tentu sama dengan yang orang lain tentukan. Kebaikan sangat relatif. Tidak mungkin sama perlakuan seseorang terhadap orang lain. Kamu pasti menyaksikannya sendiri, seiring berjalannya waktu. Keempat, orang baik akan selalu baik, bagaimanapun keadaannya. Jangan heran kalau kamu menjadi korban kebaikan seseorang. Maksudku, kamu mungkin “dieksplotasi” dalam berbagai aspek, bahkan yang tidak kamu sadari. Namun, yakinlah, ada kebaikan di balik semuanya. Ada hikmah yang bisa kamu ambil dari semua yang terjadi. Kelima, yang baik hanya akan berbicara tentang kebaikan. Kamu baik, berilah manfaat untuk orang lain dengan selalu berbicara tentang kebaikan. Berikan realisasi nyata, jangan cuman bicara. Allah tidak akan meninggalkanmu sendirian, yakin. Ketika kita yakin bahwa segala hal yang terjadi pada diri kita serta segala yang ada di lingkungan kita pasti memiliki derajat kebaikan, Allah pasti akan menuntun kita pada kebenaran. Baik dan tidak baik akan menjadi sangat jelas. Dengan begitu, kamu pasti menemukan cara terbaik untuk menempatkan dirimu. Namun, hati-hati mengambil sikap setelahnya. Jangan sampai karena terlalu berhati-hati, kamu menjadi bagian dari yang berkulit mulus dan menggairahkan tetapi berdaging busuk. Pertahanan diri memang perlu, tapi Allah sudah menyiapkan skenario terbaik-Nya untukmu. Bukankah sertiap kebaikan yang kamu lakukan hanya akan berbalik kebaikan juga? Cobalah untuk tidak hanya menilai sesuatu di luar dirimu. Sekali-kali, nilai juga dirimua. Adakah sesuatu di dalam dirimu yang tidak sejalan dengan nuranimu? Jangan-jangan diri yang selama ini kamu kira selalu berada pada jalan yang benar justru melakukan kesalahan. Bukankah yang paling sulit adalah mengenali diri sendiri? Bukankah yang paling menyebalkan adalah mengendalikan diri sendiri? Kamu mungkin bisa mengetahui mana yang benar-benar baik menurutmu, tapi kamu akan kesulitan mengenali kebaikan macam apa yang ada dalam dirimu. Sungguh, Teman, yang paling bebal adalah diri sendiri. Aku hampir menyerah pada diriku, untungnya aku masih bisa bertahan sampai sekarang. Untungnya Allah masih menunjukkan dimensi kehidupan yang lain. Jadi, setidaknya, ada bahan untukku mengurus diri. Mengaduh dan mengeluh saja tidak akan membuat kebenaran muncul dengan sendirinya. Nikmati dan pelajari adalah cara yang paling ampuh mengusir kebutaan. Kalau memang ada tembok yang menjulang, coba lihat dari jendela. Mungkin, tengah malam kamu bisa bercengkerama dengan Sang Maha Pembuka Mata agar tidak lagi buta. Kebaikan yang datangnya dari ketulusan akan selalu menyejukkan. Meski pasti ada sesak, itu hanya akan terjadi sesekali. Selebihnya, hanya akan ada syukur yang terpatri dalam hati karena telah dipertemukan dan dilibatkan dalam skenario kehidupan yang penuh misteri ini. Kalau kamu tidak juga menemukan rumus terbaik dalam mengenali kebaikan di kehidupanmu, mungkin kamu harus mulai berbenah. Terus-terusan mencari juga akan percuma kalau kamu tidak melihat ke dalam diri. Kamu harus lebih mawas diri, bisa jadi ada yang perlu kamu perbaiki. Jiwa dan raga mungkin perlu diakurkan agar sejalan, seirama, serima. “Biarkan dirimu diam-diam dihela Oleh tarikan ajaib Apa yang benar-benar kaucintai. Dia takkan menyesatkanmu.” (Rumi dalam “Belajar Hidurp dari Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Penerang Jiwa karya Haidar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar