Jumat, 02 Desember 2022

Menjadi Yang Kedua

Judulnya saja menjadi yang kedua, bagaimana mungkin aku berharap diutamakan. Aku adalah bagian yang tidak terlalu didambakan, tidak juga dibenci. Aku adalah anak yang lahir dengan kasih dan sayang yang cukup. Betapa tidak? Sejak dalam kandungan pun, kasih sayang untukku sudah tak utuh. Bagaimana mau penuh? Mereka saja sudah cukup bahagia dengan anak pertamanya. Apalah aku yang hanya jadi anak kedua ini. Akan tetapi, tidak apa-apa. Aku akan membuktikan kepada mereka bahwa aku adalah anak yang tangguh. Aku tidak akan lemah hanya karena tidak pernah merasakan kasih dan sayang yang penuh.

            Harus kuakui, tidak mudah merealisasikan semangatku itu. Ternyata, cukup sulit mencuri kasih dari orang tua yang sedang sayang-sayangnya terhadap anak pertama. Apalagi, saudaraku itu sedang lucu-lucunya. Rasanya, tanpa ada aku pun di dunia mereka, kehidupan kedua orang tuaku sudah sempurna. Meskipun, sesekali mereka masih mau berkomunikasi denganku. Sesekali, mereka masih menghiraukan keberadaanku. Sesekali, mereka masih memberiku kesempatan untuk mensyukuri kehadiranku di antara mereka. Namun, itu hanya sesekali.

            Ketika dilahirkan ke dunia, aku merasakan udara yang sangat asing. Baunya tidak seperti dalam kandungan ibuku. Pikirku, mungkin itu adalah aroma kehidupan. Semakin kuhirup, semakin aku menyadari bahwa bau itu hanya ilusiku. Dunia ini harusnya semerbak mewangi. Dunia ini harusnya memberiku kebahagiaan-kebahagiaan yang melenakan. Mana mungkin kelenaan dunia itu berbau amis? Untuk meyakinkan indra penciumanku itu, kubelalakkan kedua mataku dan coba mencari sumber bau. Namun, tak kunjung kutemukan. Akhirnya aku menyerah. Karena kecewa atas ketidakmampuanku, aku pun menangis menodong sunyi. Orang tuaku terbahak. Saudaraku ikut tertawa. Apakah mereka sedang meleluconkan hidupku? Padahal, mereka adalah orang-orang terdekatku. Kandungan dalam darah kami sama. Teganya mereka. Pikirku lagi.

            Selang beberapa waktu, aku menyadari tubuhku telah dibalut kain. Inikah pakaian yang tidak pernah kukenakan selama sembilan bulan berada dalam perut ibuku? Rasanya cukup nyaman dan hangat, hampir mirip seperti dulu di kandungan ibu. Akan tetapi, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Rasanya tidak lebih lembut daripada gumpalan daging yang menyelimutiku. Baunya pun tidak begitu menyegarkan. Ternyata, itu adalah apak yang tercium karena terlalu lama tersimpan di lemari juga kasar itu merupakan akibat pemakaian sebelumnya. Iya, nasib menjadi yang kedua adalah hampir bisa dipastikan tidak pernah mendapatkan sesuatu yang baru. Aku harus menerima kenyataan bahwa semua yang kugunakan pernah juga digunakan oleh saudaraku. Meskipun demikian, tidak mengapa. Aku masih sanggup hidup dengan semua itu. Aku tetaplah anak kedua orang tuaku yang harus mereka penuhi setiap hak-hakku. Tentu saja, aku pun mengetahui tanggung jawabku.

            Waktu berlalu. Hidup di luar rahim ibu sungguh sangat menyenangkan. Ternyata, mereka memperlakukanku hampir sama dengan saudaraku. Bahkan, kini aku selalu menjadi yang pertama. Saudaraku harus rela berbagi denganku. Aku akan mengambil suapan pertama makanan yang dibuatkan ibu untuk kami. Sedikit merasa bersalah, tetapi aku biasa saja. Ini adalah balasan karena kamu sudah menjadi yang pertama. Kamu harus rela berkorban untukku.

            Kenikmatan yang kurasakan ternyata sangat melenakan hingga aku lupa batasan. Terlalu nikmat dibuai dan mendapatkan kasih sayang, aku hampir menghabiskan momen berhargaku dengan kesia-siaan. Orang tuaku hampir memiliki yang ketiga, sedangkan aku masih belum seutuhnya menjadi diriku. Aku bahkan harus memulai dengan sudah dibagi, apakah aku juga harus membaginya lagi? Aku bahkan masih belum bisa membersihkan keringatku sendiri, masa mereka sudah mau membagi lagi kasih dan sayang itu? Padahal, mereka tidak pernah memberiku bagian yang utuh.

            Benar saja, seketika sang ketiga datang. Dia tidak perlu berkhawatir ria seperti halnya aku dan saudaraku. Dia sudah dideklarasikan menjadi yang terakhir. Aku sudah tidak memiliki tempat lagi. Bahkan, saudaraku yang pertama pun sudah tidak berdaya lagi. Sungguhpun demikian, aku tetaplah yang paling tidak memiliki tempat lagi. Aku hanya yang kedua. Mereka tidak pernah memberiku utuh, bahkan untuk sebuah telur mata sapi. Aku, anak kedua, sudah siap berbagi dengan dia yang pertama dan terakhir. Aku mampu membawa diriku sendiri karena aku sudah terbiasa dinomorduakan. Aku mungkin keras kepala, tetapi itu merupakan caraku bertahan. Kalau bukan diriku sendiri yang melindungiku, siapa lagi yang bisa kuandalkan. Karena terkadang, aku hanya pelarian. Sungguh, aku, anak kedua. Meskipun begitu, aku tidak pernah ingin di urutan kedua. 

Minggu, 30 Oktober 2022

Tak Hanya Mandiri, Anak Pertama Harus Segala Bisa

Stereotip masyarakat terhadap sosok anak pertama itu memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Anak pertama, baik laki-laki maupun perempuan, merupakan anugerah pertama yang diberikan kepada sebuah keluarga. Dia tidak pernah minta dilahirkan sebagai yang pertama, tapi tak bisa juga menolaknya. Anak pertama lahir ke dunia dengan lapang dada.

Dinantikan.

Sebagai yang pertama, tentunya orang tua sangat menantikan kehadiran sang anak pertama. Kadang, jenis kelamin bukan masalah. Akan tetapi, tak jarang yang pria-lah yang lebih didambakan. Katanya, biar nantinya bisa menggantikan sosok bapak di dalam keluarga saat dia senja. Katanya juga, biar bisa bantu perekonomian keluarga. Tak apa, perempuan juga tetap diterima. Katanya, nanti biar bisa bantu ibunya. Masak, nyuci, dan beres-beres rumah itu bukan perkara mudah. Ibu memang perlu rekan untuk mengatur rumah tangga dan anak pertama perempuan pasti bisa diharapkan. Namun, laki-laki tetap bernilai lebih.

Dikasihi.

Anak pertama terlahir di keluarga yang masih terhitung muda. Kasih sayang yang dilimpahkan orang tuanya masih murni, belum terbagi. Anak pertama mendapatkan seluruh belai dan buai ibu dan bapak. Anak pertama juga dibelai sang nenek dan kakek. Menjadi anak pertama akan membuatmu terlena karena segala keinginan hampir pasti dipenuni. Nikmat dunia rasanya di dalam genggaman sehingga sering kali membuat lupa diri. Anak pertama mungkin saja menyangsikan bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Hampir pasti, akan datang anak-anak selanjutnya yang akan mengambil porsi kasih yang banyak dia peroleh.

Mandiri.

Anak pertama belum cukup dewasa, tapi sang adik sudah lahir ke dunia. Kasih telah terbagi dan anak pertama dituntut menjadi lebih mandiri. Anak pertama risau, bagaimana caranya menjadi seorang kakak? Mengapa dia harus rela berbagi dengannya? Anak pertama kecewa karena inginnya tak lagi jadi prioritas orang tua. Bahkan, dia kini harus mengisi perut yang lebih sering keroncongan daripada terisi penuh. Anak pertama harus berbagi, anak pertama dipaksa mandiri. Dia mengambil sebuah mangkuk, mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk. Orang tua mengarahkan pada awalnya, dia mengeksekusi pada akhirnya. Anak pertama harus bertahan dan menyesuaikan diri. Dia juga menyadari bahwa menjadi anak pertama artinya harus siap menjadi seorang kakak yang berarti pula harus siap memiliki seorang adik. Dalam artian yang lebih ekstrim, menjadi anak pertama artinya harus siap menjadi mandiri.

Panutan.

Segala hal yang dilakukan orang tua adalah contoh terbaik bagi anak pertama. Dia menirukan gerak, bicara, hingga kelakuan orang tua. Bagi beberapa orang tua yang berbekal ilmu mumpuni untuk mengurus anak pertama, mereka membekali anaknya dengan kemampuan-kemampuan dasar yang akan diperlukan. Namun, dalam kebanyakan kasus, orang tua hanya sibuk memanjakan sang anak pertama sehingga saat sang anak kedua dan seterusnya lahir, anak pertama tidak memiliki kemampuan untuk bertahan. Padahal, dia harus memberikan contoh bagi adik-adiknya. Padahal, orang tualah yang sering kali menjadikan anak pertama sebagai pigur anutan bagi adik-adiknya. Lalu, bagaimana anak pertama harus bersikap? Dia memutar otak, mengerahkan segala kemampuannya. Anak pertama menanamkan segala nilai-nilai luhur yang sempat dia peroleh selama menjadi satu-satunya anak di dalam keluarga. Anak pertama juga tak kalah akal. Dia memanfaatkan setiap momen kesedihan, kesendirian, dan ketegangan yang terjadi saat harus berbagi dengan adiknya menjadi bekal dan pelajaran. Dia menyadari bahwa hidup ini keras, bahkan sejak di lingkungan keluarga. Jangan berharap akan menjadi lebih mudah hanya dengan menangis. Konsep menanam dan menuai sudah terpatri dalam dirinya. Anak pertama bertekad menjadi pribadi yang kuat. Tanpa sadar, sang anak pertama telah tumbuh mencakram, menjulang, dan merekah dengan kemandiriannya. Sang adik sangat mengaguminya hingga menjadikan sang kakak sebagai panutan. Bagi sang adik, sosok kakak merupakan inspirasi sekaligus tolok ukur kesuksesannya kelak. Sang adik merasa termotivasi sekaligus terintimidasi oleh setiap keberhasilan sang kakak. Lalu, bagaimana dengan kisah anak pertama yang disalahpahami gagal? Mereka hanya telah bertumbuh dengan caranya sendiri. Bukankah standar kesuksesan itu tidak mutlak dan yang berkembang di masyarakat itu adalah pandangan segelintir orang? Bagi sang adik, anak pertama tetaplah panutan.

Kasihan.

Anak pertama seringnya buntu. Dia memiliki tujuan, tetapi hilang arah. Mata kompasnya lebih banyak menunjukkan jalan yang tidak membawanya ke mana-mana. Anak pertama pun harus mencari rutenya sendiri. Dia berlari, terperosok, terpelanting, hingga tercebur ke dasar sungai. Kalau tidak kuat bertahan, anak pertama pasti terbawa arus. Meskipun terlihat jernih dan tenang, air sungai banyak menyimpan misteri. Buaya dan hewan buas lain bisa saja mengincar nyawanya. Anak pertama yang mampu bertahan akan menjadi lebih biajksana. Akan tetapi, dia yang terseret arus, hanya luka yang akan diperoleh. Meskipun begitu, anak pertama tetaplah anak pertama, dia pasti bisa meraih ruangnya sendiri. (PKY/30/10/2022)

Senin, 23 Mei 2022

Laju Kendaraan

Pernakah kamu sengaja melambatkan laju kendaraanmu saat dalam perjalanan dari tempat kerja menuju ke tempat tinggalmu? Atau, pernahkah kamu dengan sengaja membuat laju kendaraan atau gerak langkahmu menjadi lebih lambat dari yang biasanya kamu lakukan? Atau mungkin kamu tidak pernah menyadarinya?

Jalan yang kita lalui sering kali sama, hanya laju kendaraan atau langkah kita saja yang berbeda. Ada bagian jalan yang ingin kita lewati dengan begitu cepat, ada juga yang ingin kita lalui dengan penuh penghayatan. Bukan karena suasana atau kondisi jalan tersebut, tetapi hati kita tidak pernah sama saat melaluinya. Bukankah demikian?

Saya bukan orang yang senang mengerjakan hal yang baru dan tidak terukur, bahkan untuk sekadar memilih jalan pulang. Jalan yang saya lalui cenderung sama. Meskipun ada alternatif jalan yang bisa dilewati, saya tidak pernah tertarik untuk mencobanya. Alasannya karena saya tidak tahu medan yang akan saya lalui, seperti di mana letak lubang jalan yang harus dihindari. Melewati jalan yang sama membuat saya sangat memahami kondisi yang akan saya lalui selama perjalanan. Tidak perlu lagi saya mengingat bagian jalan mana yang harus saya hindari agar tidak merasakan guncangan karena otak saya sudah mengingat dengan otomatis bagian yang harus saya hindari. Tentu saja keotomatisan kerja otak ini sangat menguntungkan bagi orang yang sering kali berubah suasana hatinya. Saya sangat merasakan manfaat sekaligus akibatnya.

Kendaraan yang melesat cepat menandakan bahwa ada yang tidak seperti biasa dalam diri si pengendara. Suasana hatinya sedang berkejaran dengan kecepatan mesin kendaraan. Adrenalin yang keluar memberikan efek tenang dan seolah berkata, “Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Semua akan baik-baik saja. Bahkan, kendaraan yang kamu gunakan pun mengikuti dan sejaran dengan isi hatimu.” Begitulah, seolah ada orang lain dalam diri yang membisikkan kata-kata penenang yang menenteramkan. Fatamorgana yang tergambar di atas aspal jalan yang terpapar sinar matahari juga memberi kesan lebih mendalam terhadap perjalanan yang singkat dan penuh ketegangan itu. Seandainya jalan yang dilalui tak dikenali, habislah riwayat jiwa yang bersemayam di dalam raga. Bagaimana mungkin kulit yang menyelimuti daging dan tulang ini dapat bertahan saat bertumbukan dengan aspal jalan yang panas lagi kasar?

Ketika semua yang terjadi sesuai dengan rencana yang digambarkan dalam pikiran, jalan pulang akan terasa menyenangkan. Hati yang riang memang selalu memberikan kesahajaan. Perilaku menjadi lebih terkendali, bahkan untuk sekadar menarik dan menghembuskan napas pun menjadi lebih berirama. Semuanya berjalan sesuai yang kuinginkan. “Aku yakin, jalan ini mengerti keadaanku. Aku yakin bahwa hidupku akan lebih baik dari ini,” aura posutif yang tidak pernah ada jaminan akan bersemayam selamanya di dalam sanubari. Terlalu positif hingga membuat semuanya tidak lagi terperhitungkan.

Lupa diri, tidak menyadari bahwa semua yang terjadi pada diri sendiri bisa berbanding terbalik. Hidup tidak pernah sedatar itu. Selalu ada pasang dan surut untuk air di lautan, begitu juga kehidupan. Entah lambat atau cepat, semua tidak akan pernah konstan. Seperti detak jantung, ada degupan di antara jeda, begitulah konflik pasti terjadi. Masalah yang sesungguhnya, yaitu saat hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan tidak lagi selaras. Konflik batin selalu lebih menyeramkan daripada yang muncul ke permukaan. Bukankah kita semua kelelahan saat bergulat dengan pikiran sendiri? Bukankah sulit menemukan solusi atas masalah-masalah yang itu-itu saja? Sesekali, kita memang perlu melaju lebih cepat dan memutuskan untuk menikmati jalanan dengan lebih lambat. (Palangka Raya, 23 Mei 2022)