Senin, 23 Mei 2022

Laju Kendaraan

Pernakah kamu sengaja melambatkan laju kendaraanmu saat dalam perjalanan dari tempat kerja menuju ke tempat tinggalmu? Atau, pernahkah kamu dengan sengaja membuat laju kendaraan atau gerak langkahmu menjadi lebih lambat dari yang biasanya kamu lakukan? Atau mungkin kamu tidak pernah menyadarinya?

Jalan yang kita lalui sering kali sama, hanya laju kendaraan atau langkah kita saja yang berbeda. Ada bagian jalan yang ingin kita lewati dengan begitu cepat, ada juga yang ingin kita lalui dengan penuh penghayatan. Bukan karena suasana atau kondisi jalan tersebut, tetapi hati kita tidak pernah sama saat melaluinya. Bukankah demikian?

Saya bukan orang yang senang mengerjakan hal yang baru dan tidak terukur, bahkan untuk sekadar memilih jalan pulang. Jalan yang saya lalui cenderung sama. Meskipun ada alternatif jalan yang bisa dilewati, saya tidak pernah tertarik untuk mencobanya. Alasannya karena saya tidak tahu medan yang akan saya lalui, seperti di mana letak lubang jalan yang harus dihindari. Melewati jalan yang sama membuat saya sangat memahami kondisi yang akan saya lalui selama perjalanan. Tidak perlu lagi saya mengingat bagian jalan mana yang harus saya hindari agar tidak merasakan guncangan karena otak saya sudah mengingat dengan otomatis bagian yang harus saya hindari. Tentu saja keotomatisan kerja otak ini sangat menguntungkan bagi orang yang sering kali berubah suasana hatinya. Saya sangat merasakan manfaat sekaligus akibatnya.

Kendaraan yang melesat cepat menandakan bahwa ada yang tidak seperti biasa dalam diri si pengendara. Suasana hatinya sedang berkejaran dengan kecepatan mesin kendaraan. Adrenalin yang keluar memberikan efek tenang dan seolah berkata, “Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Semua akan baik-baik saja. Bahkan, kendaraan yang kamu gunakan pun mengikuti dan sejaran dengan isi hatimu.” Begitulah, seolah ada orang lain dalam diri yang membisikkan kata-kata penenang yang menenteramkan. Fatamorgana yang tergambar di atas aspal jalan yang terpapar sinar matahari juga memberi kesan lebih mendalam terhadap perjalanan yang singkat dan penuh ketegangan itu. Seandainya jalan yang dilalui tak dikenali, habislah riwayat jiwa yang bersemayam di dalam raga. Bagaimana mungkin kulit yang menyelimuti daging dan tulang ini dapat bertahan saat bertumbukan dengan aspal jalan yang panas lagi kasar?

Ketika semua yang terjadi sesuai dengan rencana yang digambarkan dalam pikiran, jalan pulang akan terasa menyenangkan. Hati yang riang memang selalu memberikan kesahajaan. Perilaku menjadi lebih terkendali, bahkan untuk sekadar menarik dan menghembuskan napas pun menjadi lebih berirama. Semuanya berjalan sesuai yang kuinginkan. “Aku yakin, jalan ini mengerti keadaanku. Aku yakin bahwa hidupku akan lebih baik dari ini,” aura posutif yang tidak pernah ada jaminan akan bersemayam selamanya di dalam sanubari. Terlalu positif hingga membuat semuanya tidak lagi terperhitungkan.

Lupa diri, tidak menyadari bahwa semua yang terjadi pada diri sendiri bisa berbanding terbalik. Hidup tidak pernah sedatar itu. Selalu ada pasang dan surut untuk air di lautan, begitu juga kehidupan. Entah lambat atau cepat, semua tidak akan pernah konstan. Seperti detak jantung, ada degupan di antara jeda, begitulah konflik pasti terjadi. Masalah yang sesungguhnya, yaitu saat hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan tidak lagi selaras. Konflik batin selalu lebih menyeramkan daripada yang muncul ke permukaan. Bukankah kita semua kelelahan saat bergulat dengan pikiran sendiri? Bukankah sulit menemukan solusi atas masalah-masalah yang itu-itu saja? Sesekali, kita memang perlu melaju lebih cepat dan memutuskan untuk menikmati jalanan dengan lebih lambat. (Palangka Raya, 23 Mei 2022)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar