Sendiri tidak melulu tentang kesepian.
Banyak orang memilih sendiri karena mereka memang ingin. Namun, banyak juga
yang menyalahartikannya, menganggap bahwa sendiri adalah ketidakmampuan
menyesuaikan diri sehingga tidak ada orang yang mau menemani. Padahal, sendiri
sering kali lebih menarik daripada yang terlihat.
Hidup sebagai manusia, memang selalu
berbanding lurus dengan paradigma manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tidak
bisa hidup sendiri, perlu kawan yang menemani. Memang, tidak ada manusia yang
dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga selalu ada peran orang lain dalam
setiap kehidupannya. Tidak ada satu orang pun yang mengingkari itu. Namun,
pandangan bahwa makhluk sosial harus selalu bergantung kepada orang lain adalah
tidak tepat. Menjadi makhluk sosial berbeda artinya dengan
ketergantungan. Menjadi makhluk sosial artinya seorang manusia berkontribusi
dalam memberi dan menerima. Tidak ada yang hanya berperan sebagai pemberi atau
penerima. Seorang manusia pasti memiliki kapasitas untuk memberi, tidak hanya
menerima. Kodratnya manusia memang demikian.
Berkaitan dengan perannya sebagai makhluk sosial, ada yang berpendapat bahwa
manusia merupakan makhluk yang selalu bersosialisasi. Manusia memiliki kebutuhan
untuk selalu berinteraksi dengan manusia lain dalam berbagai aspek.
Kecenderungan ini membuat manusia tidak mungkin sendiri. Manusia memerlukan
sesamanya sebagai rekan dalam menjalani kehidupannya. Pemikiran-pemikiran
seperti itu memang benar, tetapi banyak orang yang sering salah
merealisasikannya, misalnya dalam hal menentukan pasangan hidup. Pernihakan
adalah hal yang sakral bagi sebagian orang. Akan tetapi, banyak juga yang
menganggap pernikahan sebagai fase-fase kehidupan yang pasti terlewati. Bagi
mereka yang diberi kemudahan untuk menemukan pasangan hidupnya, tentu memiliki
pemikiran yang berbeda dengan orang-orang yang terlahir untuk lebih lama
sendirian atau bahkan selamanya tidak menemukan pasangan hidup. Masalahnya,
orang cenderung memiliki pandangan bahwa seseorang yang tidak kunjung menemukan
pasangan hidupnya atau memilih untuk tidak hidup bersama orang lain, alias
tidak menikah adalah orang-orang yang bermasalah. Paradigma yang selalu
disangkutpautkan dengan agama. Padahal, agama pun tidak mewajibkan pernikahan
sebagai rukunnya. Apa gunanya menikah jika hanya menjauhkan dari Sang Maha
Pencipta? Namun, tidak semua orang mau mengerti. Yang benar adalah mereka yang
menikah pada usia yang sewajarnya.
Menunda untuk menikah atau bahkan tidak menikah artinya memilih untuk lebih
lama hidup sendirian. Entah sendiri itu menyenangkan atau tidak, tetapi tidak
semua orang yang sendiri merasa kesepian. Kepuasan dalam menjalani kehidupan
tidak mesti berasal dari orang lain sehingga sendiri pun bisa sangat
menyenangkan. Kesepian hanya akan terjadi saat seseorang tidak puas terhadap
kehidupan yang dijalaninya. Biasanya, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai
eksistensi dirinya. Begitulah seseorang yang kesepian hidup. Namun, tidak
dengan orang-orang yang menjadikan sendiri sebagai pilihan, bukan suratan.
Mereka menikmati hidup, meskipun sendirian. Banyak hal menjadi lebih
membahagiakan ketika dilakukan sendirian. Tidak masalah dilihat berbeda dengan
orang lain, yang terpenting ada kepuasan selama menjalani kehidupan.
Sendirian artinya memiliki keteguhan dalam mempertahankan. Prinsip dalam
mengarungi bahtera kehidupan memang bisa diruntuhkan kapan saja, di mana saja,
dan oleh siapa saja. Namun, jika pada waktu, di tempat, dan oleh orang yang
tepat, tentu tidak akan menjadi masalah. Bagaimana jika sebaliknya? Pasti akan
muncul pertanyaan bahwa sendirian lebih baik, lebih menyenangkan. Bukankah itu
artinya sendirian tidak melulu soal kesepian?
Waktu memang selalu mengejar, termasuk usia muda. Tidak selamanya manusia
menjadi muda, mustahil. Bagaimana jika tua sudah di pelupuk mata, tetapi masih
tetap sendirian? Bukan masalah, selama itu adalah pilihan. Kenyataan memang
tidak selalu berbuah kebersamaan. Pernikahan memang tidak selalu milik mereka
yang memperjuangkan. Kadang, pasangan hidup hampir di kursi pelaminan. Akan
tetapi, ada tembok penghalang yang sulit dirubuhkan. Mau bagaimana lagi, memang
sendirian harus menjadi pilihan. Yang penting sanggup menelan keruhnya perkataan
manusia, sudah cukup untuk bisa hidup sendirian. Yang penting tidak mengeluh
saat ada kesulitan, tidak akan kesepian. Semuanya akan baik-baik saja selama
hidup bisa dinikmati setiap tahapan dan prosesnya. Bukankah kesepian hanya akan
muncul jika dipikirkan? Bahkan, mereka yang memiliki pasangan pun sering merasa
sendiri. Jadi, jangan serampangan menilai kesendirian. Begini-begini,
kesendirian juga perlu diperjuangkan. Untuk apa merasa kesepian? Sia-sia.
(Palangka Raya, 25 Maret 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar