Rabu, 25 Maret 2020

Memaknai Kesendirian

Sendiri tidak melulu tentang kesepian. Banyak orang memilih sendiri karena mereka memang ingin. Namun, banyak juga yang menyalahartikannya, menganggap bahwa sendiri adalah ketidakmampuan menyesuaikan diri sehingga tidak ada orang yang mau menemani. Padahal, sendiri sering kali lebih menarik daripada yang terlihat.
Hidup sebagai manusia, memang selalu berbanding lurus dengan paradigma manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, perlu kawan yang menemani. Memang, tidak ada manusia yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga selalu ada peran orang lain dalam setiap kehidupannya. Tidak ada satu orang pun yang mengingkari itu. Namun, pandangan bahwa makhluk sosial harus selalu bergantung kepada orang lain adalah  tidak tepat. Menjadi makhluk sosial berbeda artinya dengan ketergantungan. Menjadi makhluk sosial artinya seorang manusia berkontribusi dalam memberi dan menerima. Tidak ada yang hanya berperan sebagai pemberi atau penerima. Seorang manusia pasti memiliki kapasitas untuk memberi, tidak hanya menerima. Kodratnya manusia memang demikian.
            Berkaitan dengan perannya sebagai makhluk sosial, ada yang berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk yang selalu bersosialisasi. Manusia memiliki kebutuhan untuk selalu berinteraksi dengan manusia lain dalam berbagai aspek. Kecenderungan ini membuat manusia tidak mungkin sendiri. Manusia memerlukan sesamanya sebagai rekan dalam menjalani kehidupannya. Pemikiran-pemikiran seperti itu memang benar, tetapi banyak orang yang sering salah merealisasikannya, misalnya dalam hal menentukan pasangan hidup. Pernihakan adalah hal yang sakral bagi sebagian orang. Akan tetapi, banyak juga yang menganggap pernikahan sebagai fase-fase kehidupan yang pasti terlewati. Bagi mereka yang diberi kemudahan untuk menemukan pasangan hidupnya, tentu memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang-orang yang terlahir untuk lebih lama sendirian atau bahkan selamanya tidak menemukan pasangan hidup. Masalahnya, orang cenderung memiliki pandangan bahwa seseorang yang tidak kunjung menemukan pasangan hidupnya atau memilih untuk tidak hidup bersama orang lain, alias tidak menikah adalah orang-orang yang bermasalah. Paradigma yang selalu disangkutpautkan dengan agama. Padahal, agama pun tidak mewajibkan pernikahan sebagai rukunnya. Apa gunanya menikah jika hanya menjauhkan dari Sang Maha Pencipta? Namun, tidak semua orang mau mengerti. Yang benar adalah mereka yang menikah pada usia yang sewajarnya.
            Menunda untuk menikah atau bahkan tidak menikah artinya memilih untuk lebih lama hidup sendirian. Entah sendiri itu menyenangkan atau tidak, tetapi tidak semua orang yang sendiri merasa kesepian. Kepuasan dalam menjalani kehidupan tidak mesti berasal dari orang lain sehingga sendiri pun bisa sangat menyenangkan. Kesepian hanya akan terjadi saat seseorang tidak puas terhadap kehidupan yang dijalaninya. Biasanya, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi dirinya. Begitulah seseorang yang kesepian hidup. Namun, tidak dengan orang-orang yang menjadikan sendiri sebagai pilihan, bukan suratan. Mereka menikmati hidup, meskipun sendirian. Banyak hal menjadi lebih membahagiakan ketika dilakukan sendirian. Tidak masalah dilihat berbeda dengan orang lain, yang terpenting ada kepuasan selama menjalani kehidupan.
            Sendirian artinya memiliki keteguhan dalam mempertahankan. Prinsip dalam mengarungi bahtera kehidupan memang bisa diruntuhkan kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Namun, jika pada waktu, di tempat, dan oleh orang yang tepat, tentu tidak akan menjadi masalah. Bagaimana jika sebaliknya? Pasti akan muncul pertanyaan bahwa sendirian lebih baik, lebih menyenangkan. Bukankah itu artinya sendirian tidak melulu soal kesepian?
            Waktu memang selalu mengejar, termasuk usia muda. Tidak selamanya manusia menjadi muda, mustahil. Bagaimana jika tua sudah di pelupuk mata, tetapi masih tetap sendirian? Bukan masalah, selama itu adalah pilihan. Kenyataan memang tidak selalu berbuah kebersamaan. Pernikahan memang tidak selalu milik mereka yang memperjuangkan. Kadang, pasangan hidup hampir di kursi pelaminan. Akan tetapi, ada tembok penghalang yang sulit dirubuhkan. Mau bagaimana lagi, memang sendirian harus menjadi pilihan. Yang penting sanggup menelan keruhnya perkataan manusia, sudah cukup untuk bisa hidup sendirian. Yang penting tidak mengeluh saat ada kesulitan, tidak akan kesepian. Semuanya akan baik-baik saja selama hidup bisa dinikmati setiap tahapan dan prosesnya. Bukankah kesepian hanya akan muncul jika dipikirkan? Bahkan, mereka yang memiliki pasangan pun sering merasa sendiri. Jadi, jangan serampangan menilai kesendirian. Begini-begini, kesendirian juga perlu diperjuangkan. Untuk apa merasa kesepian? Sia-sia. (Palangka Raya, 25 Maret 2020)

http://tipsmotivasi/">

Tidak ada komentar:

Posting Komentar