Senin, 27 Juli 2020

Orang-Orang Rantau

Jangan meremehkan orang-orang rantau, tekad mereka sudah lebih tinggi daripada yang kamu bayangkan. Mereka berada di tempatmu tanpa ada seorang pun yang dikenal sebelumnya. Kekhawatiran yang masih menjadi pertimbanganmu untuk melangkah telah mereka kalahkan dengan cara yang masih belum kamu pahami. Mereka sudah belajr berjalan saat kamu masih berusaha berdiri.  

Orang-orang rantau berbeda denganmu dalam banyak hal, banyak aspek. Bisa jadi, mereka lebih baik darimu, pun sebaliknya dalam beberapa hal. Namun, jangan menganggap mereka terlalu luar biasa atau biasa-biasa saja. Masalahnya, mereka mampu menjalani hidup di tanah rantau, tanah asing yang bukan tempat kelahirannya. Berbeda denganmu. Meskipun begitu, mungkin kamu juga mampu menjalaninya, apalagi kalau dalam keterhimpitan.

Orang-orang rantau tidak punya pelindung dalam melangkah di tanah rantau, kecuali Sang Maha Pelindung. Tidak ada latar belakang yang dapat menjadi back up saat problematika muncul dan menghantam prinsip. Orang-orang rantau tetap melangkah, apa pun yang menghadang. Saat duka, artinya rela menanggungnya sendiri. Saat suka, mungkin ada yang mau membersamai. Tidak semua orang rantau beruntung karena menemukan teman senasib atau yang mau mengerti. Tidak semua orang rantau diterima pribumi dengan suka hati. Tidak semua perantau memiliki kehidupan yang lebih baik di tanah rantau. Akan tetapi, tidak semua juga demikian.

Orang-orang rantau selalu belajar tentang toleransi dan budaya yang berbeda dengan yang diamini. Saat ada yang tidak sesuai dengan kehendak hati, orang-orang rantau tidak menghakimi. Mereka berusaha memahami dan mengerti bahwa tradisi memang perlu dipelajari. Tidak boleh menilai baik dan buruk hanya berdasarkan persepsi yang telanjur mendarah daging. Mungkin, sesekali disalahpahami, dipandang menzalimi. Bukan masalah karena orang-orang rantau akan segera bangkit lagi. Bukannya tidak berperasaan, tetapi mereka memaksa dirinya untuk selalu kuat. Kalau tidak demikian, mereka hanya akan tergerus dan dikalahkan keadaan.

Orang-orang rantau bukan ingin menjadi penguasa tanah rantau. Mereka hanya sedang membumikan harapan di tempat yang baru. Setelah dilangitkan, doa-doa yang berisi harapan itu akhirnya berbuah pengabulan. Jalan Sang Maha Pencipta untuk setiap orang seringnya penuh misteri. Kadang tidak sesuai dengan kehendak hati. Orang-orang rantau tidak mampu menghindari saat merantau adalah pilihan satu-satunya yang menghampiri. Berusaha menjalani adalah satu-satunya hal yang dilakukan orang-orang rantau. Meskipun demikian, tetap saja ada yang menganggapnya berlebihan. Ada yang berasumsi bahwa menjadi orang rantau artinya menjadi penakluk kehidupan, bergelimang kemewahan. Dengan sesuka hati, menyerang dari berbagai sisi. Padahal, kamu tahu sendiri, bukan? Menjadi orang rantau tidak semudah itu, tidak segampang itu. Keluar dari zona ternyaman dalam hidup itu membutuhkan penyesuaian. Kalau tidak percaya, coba lakukan sendiri. Jalani dan rasakan sensasinya, baru kamu akan mengerti bahwa paradigma yang selama ini kamu tanamkan tidak seutuhnya benar. Bahkan, kadang tidak berdasar.

Untuk orang-orang rantau, cara paling mudah untuk bertahan adalah dengan menguatkan hati, mematangkan sanubari. Jangan biarkan segala yang mendistraksi menjadi tembok yang membentengi langkah serta tekad kuat yang mendasari. Berusahalah untuk selalu melihat kebaikan, jangan biarkan ada sedikit pun kesalahan yang menggoda iman. Ini mungkin akan menjadi tidak mudah, apalagi kalau kamu tipikal orang yang perasa. Masalahnya, menjadi orang yang baik tidak akan selalu berterima dengan keadaan juga dengan perseorangan. Yang baik belum tentu benar dan yang benar kadang tersamarkan. Seperti menyelam di air payau, begitulah kira-kira. Ikannya terlihat banyak dari permukaan, tetapi saat menyelam tidak satu pun yang tertangkap mata. Mabuk air payau.

Menyesuaikan diri juga dapat menjadi cara untuk mampu bertahan di tanah rantau. Bukan menjadi orang lain atau menyesuaikan dalam setiap keadaan, termasuk dalam melakukan kesalahan, tetapi menyesuaikan yang lebih bertujuan menjadi manusia sewajarnya. Tidak menonjolkan perbedaan, juga tidak menjadi kurang di antara lingkungan yang berlebih. Orang-orang rantau tetap punya pilihan untuk menjadi diri sendiri, tetapi mampu menyesuaikan dengan lingkungan barunya, tanah rantau.

Itulah nikmatnya menjalani kehidupan di tanah orang, menjadi orang-orang rantau. Merekalah orang-orang rantau yang selama ini kamu perbincangkan. Bukankah menarik menjalani kehidupan orang-orang rantau? Tentu saja. (Palangka Raya, 27 Juli 2020)

 

Minggu, 19 Juli 2020

Cara Instan biar Cepat Kaya, Adakah?

Apa tolok ukur kekayaan yang kamu tentukan? Harta yang tidak akan habis hingga tujuh turunan, tajir melintir? Atau bisa membeli dunia dan seluruh isinya? Pasti menyenangkan kalau memiliki kekayaan seperti itu, kamu menjadi pusat dari segala perputaran yang bergejolak di muka bumi. Tidak terkira suka rianya karena tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Merasa bebas, sebebas-bebasnya karena semua kebutuhan dunia tercukupi. Memang, tidak ada salahnya memimpikan hal seperti itu. Akan tetapi, semua itu fana dan yang fana tidak akan bertahan lama. Iya, bukannya kamu juga hanya manusia yang sebentar saja diberi waktu hidup di dunia? Untuk apa memimpikan harta berlimpah jika semua itu hanya digunakan untuk memenuhi nafsu dunia? Kalau hanya untuk diwariskan, apakah kamu yakin harta itu yang kelak keturunanmu butuhkan? Mereka juga akan mendidik dirinya sendiri untuk menjemput rezeki-Nya.

Selain dunia, ada kehidupan akhirat yang pasti menghampiri, Kawan. Mati adalah ketetapan yang tidak bisa dihindari. Sementara itu, kamu masih belum memikirkan tentangnya? Kamu justru hanya berkutat dengan harta dunia yang melenakan, coba renungkan. Sepertinya kamu juga perlu lebih bijak menggunakan harta yang dikaruniakan. Tidak semua orang diberi keberlimpahan seperti dirimu. Coba lihat di sekitarmu, bukankah masih ada yang membutuhkan uluran tangan dan kebaikan hatimu? Cobalah menggunakan sedikit hartamu untuk memenuhi kepentingan akhiratmu. Iya, biar kamu tidak menyesal.

Kamu tidak akan miskin karena membelanjakan hartamu untuk urusan-urusan akhiratmu. Insyaallah. Banyak cara untuk belanja, banyak jenis barang yang bisa dibeli. Kamu hanya perlu memilih dengan cara apa akan membelanjakan hartamu itu. Bersedekah adalah satu cara yang paling mudah. Untuk dua orang yang telah bersedia mendidik dan membesarkanmu, kamu bisa mulai dari mereka. Sisihkan sebagian harta yang kamu cintai itu untuk mereka. Tidak perlu banyak, cukup kamu ikhlas memberikannya, sedikit pun akan menjadi sangat luar biasa dampaknya. Hanya bahagia dan legalah yang akan kamu rasakan setelahnya. Tidak akan ada sesal, apalagi saat melihat senyum yang tergaris di wajah mereka. Rasanya lebih dari sekadar suka cita karena bisa membeli gawai dengan spesifikasi paling tinggi.

Jangan lupa persiapkan dirimu, Kawan, karena kenikmatan berbagi akan menimbulkan candu. Semoga apa pun yang kamu usahakan, bisa menyelamatkanmu di dunia dan akhirat. Yakinlah, bahwa harta yang dibelanjakan untuk menjemput rida-Nya tidak akan pernah habis dan sia-sia. Kamu bukan sedang menghambur-hamburkan kekayaanmu ketika menyedekahkan sebagiannya untuk orang lain, justru itu adalah ikhtiarmu melipatgandakan rezeki yang Sang Maha Pengasih amanahkan kepadamu. Inilah cara biar bisa cepat kaya yang bisa mulai dipraktikkan. Memang tidak instan-instan banget. Tetapi, memangnya ada yang benar-benar instan di dunia ini? Mie instan saja tetap perlu dimasak dulu sebum disajikan. Semoga kamu tertarik untuk mau berbagi juga serta Sang Maha Pengasih memberimu rezeki yang berlimpah dan barakah. Amin. (Palangka Raya, 19 Juli 2020)

 

Sabtu, 18 Juli 2020

Hidup Biasa-Biasa Saja, Cukupkah?

Kali ini aku ingin jadi biasa-biasa saja, tidak mau terlalu banyak menuntut diri mampu melakukan ini dan itu. Aku ingin melangkah dengan biasa, sebisanya. Pikiran-pikiran seperti itu mungkin pernah muncul dan menjadi sumber ketenangan tersendiri bagimu. Kata-kata yang menjadi seperti obat itu berdampak besar dalam menyugesti diri untuk menjalani hidup dengan lebih bahagia. Rasa bersalah yang sering kali muncul karena ketidakmampuan mencapai target-target yang sebenarnya dibuat sendiri pun dapat teralihkan walaupun sementara. Iya, tidak mungkin bertahan lama karena biasanya obat hanya bereaksi terhadap orang yang sakit. Terhadap orang yang tidak berpenyakit atau sudah sembuh, kata-kata seperti itu tidak mempan lagi. Kalau kamu sedang baik-baik saja, tentu kecenderunganmu ingin menjalani hidup dengan lebih dari sekadar biasa, bukan? Untukku ini sangat berlaku.

Hidup yang biasa-biasa saja itu seperti apa? Ketika ekspresi diri dibatasi? Ketika orang lain banyak melakukan sesuatu dan kamu pun ikut melakukannya? Atau justru melakukan hal-hal yang di bawah ekspektasi sebelumnya, di bawah target awal yang sudah kamu rencanakan? Bukan seperti itu juga, Kawan. Hidup yang biasa-biasa saja menurutku tidak akan pernah ada tolok ukurnya. Biasa menurutmu belum tentu sama dengan versiku. Aku tidak dapat mengikuti milikmu, pun sebaliknya. Ada capaian-capaian yang hanya aku inginkan, hanya aku yang menganggapnya penting, dan hanya aku yang mau melakukannya. Mungkin, ada yang bersedia menghabiskan masa hidupnya dengan sia-sia dan jauh dari-Nya, tapi banyak juga yang tidak.  

Menjadi biasa-biasa saja juga perlu strategi. Mengapa? Agar targetmu untuk menjadi biasa-biasa saja itu bisa tercapai. Padahal sudah memilih menjadi biasa-biasa saja, apakah kamu rela kalah juga? Yakinkan diri bahwa kamu bisa melakukannya. Buat inspirasi yang dapat memotivasi diri sendiri. Usahakan jangan sampai bergantung kepada orang atau sesuatu yang kamu sukai. Tidak selamanya hal tersebut akan menarik perhatianmu. Cukup hanya diri sendiri yang menjadi sumber motivasimu. Jangan merasa bahwa dirimu yang paling terpuruk dan sengsara. Sesungguhnya, kamu sudah dianugerahi banyak hal yang dapat menjadi sumber motivasi untukmu sendiri. Tinggal kamu cari cara untuk menemukannya.

Sudah menemukan motivasi untuk menjadi biasa-biasa saja? Cobalah untuk terbiasa menjadi biasa-biasa saja. Selama ini, mungkin kamu terlalu terbiasa melakukan hal-hal yang luar biasa. Target-target besar yang dituliskan di buku harianmu itu menuntutmu untuk selalu melangkah lebih cepat, melakukan dengan terukur, dan melalui tantangan yang melintang. Mungkin itu memberatkan dan menyulitkanmu. Bahkan, waktu khusyuk yang harusnya diluangkan untuk bercengkerama dengan-Nya pun tidak terealisasikan. Iya, seringnya kamu menjadi seperti tamu yang hanya bertamu lalu segera pulang. Rela meluangkan waktu tetapi hati dan pikiran masih berkutat dengan langkah-langkah strategis untuk mencapai target besarmu itu. Lalu, kamu berharap semua itu tercapai? Coba renungkan lagi, Kawan.

Agar target menjadi biasa-biasa saja ini tercapai, perlu dituliskan rencana dan strategi untuk mencapainya. Langkah-langkah nyata yang direncanakan ini harus biasa saja dan spesifik. Tetap luangkan waktu untuk bermunajat kepada Sang Pencipta. Jangan lupa juga luangkan waktu untuk berkontemplasi. Iya, kamu memerlukan waktu untuk dirimu sendiri. Bukankah alasanmu menjadi biasa-biasa saja karena rasa bermasalah dengan padatnya rencana sebelumnya? Tidak ada waktu untuk diri sendiri, padahal kamu sendirilah yang tidak meluangkannya.

Pikiran yang tidak tenang serta hati yang tidak bahagia dan selalu tidak puas, pasti pernah menghampiri saat tuntutan terhadap sesuatu menjadi terlalu tinggi. Menjadi biasa-biasa saja memang bukan satu-satunya solusi. Perlu ilmu yang tepat dan semangat yang tidak putus agar semuanya menjadi lebih mudah. Yang paling penting adalah jangan lupa untuk selalu  berusaha memperbaiki hubungan dengan Dia Yang Maha Mengetahui segala isi hati. Dengan begitu, segalanya akan menjadi lebih dari sekadar cukup. Kalau tidak percaya, cobalah buktikan sendiri. (Palangka Raya, 18 Juli 2020)