Jangan meremehkan orang-orang rantau, tekad mereka sudah lebih tinggi daripada yang kamu bayangkan. Mereka berada di tempatmu tanpa ada seorang pun yang dikenal sebelumnya. Kekhawatiran yang masih menjadi pertimbanganmu untuk melangkah telah mereka kalahkan dengan cara yang masih belum kamu pahami. Mereka sudah belajr berjalan saat kamu masih berusaha berdiri.
Orang-orang rantau berbeda denganmu dalam banyak hal, banyak aspek. Bisa jadi, mereka lebih baik darimu, pun sebaliknya dalam beberapa hal. Namun, jangan menganggap mereka terlalu luar biasa atau biasa-biasa saja. Masalahnya, mereka mampu menjalani hidup di tanah rantau, tanah asing yang bukan tempat kelahirannya. Berbeda denganmu. Meskipun begitu, mungkin kamu juga mampu menjalaninya, apalagi kalau dalam keterhimpitan.
Orang-orang rantau tidak punya pelindung dalam melangkah di tanah rantau, kecuali Sang Maha Pelindung. Tidak ada latar belakang yang dapat menjadi back up saat problematika muncul dan menghantam prinsip. Orang-orang rantau tetap melangkah, apa pun yang menghadang. Saat duka, artinya rela menanggungnya sendiri. Saat suka, mungkin ada yang mau membersamai. Tidak semua orang rantau beruntung karena menemukan teman senasib atau yang mau mengerti. Tidak semua orang rantau diterima pribumi dengan suka hati. Tidak semua perantau memiliki kehidupan yang lebih baik di tanah rantau. Akan tetapi, tidak semua juga demikian.
Orang-orang rantau selalu belajar tentang toleransi dan budaya yang berbeda dengan yang diamini. Saat ada yang tidak sesuai dengan kehendak hati, orang-orang rantau tidak menghakimi. Mereka berusaha memahami dan mengerti bahwa tradisi memang perlu dipelajari. Tidak boleh menilai baik dan buruk hanya berdasarkan persepsi yang telanjur mendarah daging. Mungkin, sesekali disalahpahami, dipandang menzalimi. Bukan masalah karena orang-orang rantau akan segera bangkit lagi. Bukannya tidak berperasaan, tetapi mereka memaksa dirinya untuk selalu kuat. Kalau tidak demikian, mereka hanya akan tergerus dan dikalahkan keadaan.
Orang-orang rantau bukan ingin menjadi penguasa tanah rantau. Mereka hanya sedang membumikan harapan di tempat yang baru. Setelah dilangitkan, doa-doa yang berisi harapan itu akhirnya berbuah pengabulan. Jalan Sang Maha Pencipta untuk setiap orang seringnya penuh misteri. Kadang tidak sesuai dengan kehendak hati. Orang-orang rantau tidak mampu menghindari saat merantau adalah pilihan satu-satunya yang menghampiri. Berusaha menjalani adalah satu-satunya hal yang dilakukan orang-orang rantau. Meskipun demikian, tetap saja ada yang menganggapnya berlebihan. Ada yang berasumsi bahwa menjadi orang rantau artinya menjadi penakluk kehidupan, bergelimang kemewahan. Dengan sesuka hati, menyerang dari berbagai sisi. Padahal, kamu tahu sendiri, bukan? Menjadi orang rantau tidak semudah itu, tidak segampang itu. Keluar dari zona ternyaman dalam hidup itu membutuhkan penyesuaian. Kalau tidak percaya, coba lakukan sendiri. Jalani dan rasakan sensasinya, baru kamu akan mengerti bahwa paradigma yang selama ini kamu tanamkan tidak seutuhnya benar. Bahkan, kadang tidak berdasar.
Untuk orang-orang rantau, cara paling mudah untuk bertahan adalah dengan menguatkan hati, mematangkan sanubari. Jangan biarkan segala yang mendistraksi menjadi tembok yang membentengi langkah serta tekad kuat yang mendasari. Berusahalah untuk selalu melihat kebaikan, jangan biarkan ada sedikit pun kesalahan yang menggoda iman. Ini mungkin akan menjadi tidak mudah, apalagi kalau kamu tipikal orang yang perasa. Masalahnya, menjadi orang yang baik tidak akan selalu berterima dengan keadaan juga dengan perseorangan. Yang baik belum tentu benar dan yang benar kadang tersamarkan. Seperti menyelam di air payau, begitulah kira-kira. Ikannya terlihat banyak dari permukaan, tetapi saat menyelam tidak satu pun yang tertangkap mata. Mabuk air payau.
Menyesuaikan diri juga dapat menjadi cara untuk mampu bertahan di tanah rantau. Bukan menjadi orang lain atau menyesuaikan dalam setiap keadaan, termasuk dalam melakukan kesalahan, tetapi menyesuaikan yang lebih bertujuan menjadi manusia sewajarnya. Tidak menonjolkan perbedaan, juga tidak menjadi kurang di antara lingkungan yang berlebih. Orang-orang rantau tetap punya pilihan untuk menjadi diri sendiri, tetapi mampu menyesuaikan dengan lingkungan barunya, tanah rantau.
Itulah nikmatnya menjalani kehidupan di tanah orang, menjadi orang-orang rantau. Merekalah orang-orang rantau yang selama ini kamu perbincangkan. Bukankah menarik menjalani kehidupan orang-orang rantau? Tentu saja. (Palangka Raya, 27 Juli 2020)