Kali ini aku ingin jadi biasa-biasa saja, tidak mau terlalu banyak menuntut diri mampu melakukan ini dan itu. Aku ingin melangkah dengan biasa, sebisanya. Pikiran-pikiran seperti itu mungkin pernah muncul dan menjadi sumber ketenangan tersendiri bagimu. Kata-kata yang menjadi seperti obat itu berdampak besar dalam menyugesti diri untuk menjalani hidup dengan lebih bahagia. Rasa bersalah yang sering kali muncul karena ketidakmampuan mencapai target-target yang sebenarnya dibuat sendiri pun dapat teralihkan walaupun sementara. Iya, tidak mungkin bertahan lama karena biasanya obat hanya bereaksi terhadap orang yang sakit. Terhadap orang yang tidak berpenyakit atau sudah sembuh, kata-kata seperti itu tidak mempan lagi. Kalau kamu sedang baik-baik saja, tentu kecenderunganmu ingin menjalani hidup dengan lebih dari sekadar biasa, bukan? Untukku ini sangat berlaku.
Hidup yang biasa-biasa saja itu seperti apa? Ketika ekspresi diri dibatasi? Ketika orang lain banyak melakukan sesuatu dan kamu pun ikut melakukannya? Atau justru melakukan hal-hal yang di bawah ekspektasi sebelumnya, di bawah target awal yang sudah kamu rencanakan? Bukan seperti itu juga, Kawan. Hidup yang biasa-biasa saja menurutku tidak akan pernah ada tolok ukurnya. Biasa menurutmu belum tentu sama dengan versiku. Aku tidak dapat mengikuti milikmu, pun sebaliknya. Ada capaian-capaian yang hanya aku inginkan, hanya aku yang menganggapnya penting, dan hanya aku yang mau melakukannya. Mungkin, ada yang bersedia menghabiskan masa hidupnya dengan sia-sia dan jauh dari-Nya, tapi banyak juga yang tidak.
Menjadi biasa-biasa saja juga perlu strategi. Mengapa? Agar targetmu untuk menjadi biasa-biasa saja itu bisa tercapai. Padahal sudah memilih menjadi biasa-biasa saja, apakah kamu rela kalah juga? Yakinkan diri bahwa kamu bisa melakukannya. Buat inspirasi yang dapat memotivasi diri sendiri. Usahakan jangan sampai bergantung kepada orang atau sesuatu yang kamu sukai. Tidak selamanya hal tersebut akan menarik perhatianmu. Cukup hanya diri sendiri yang menjadi sumber motivasimu. Jangan merasa bahwa dirimu yang paling terpuruk dan sengsara. Sesungguhnya, kamu sudah dianugerahi banyak hal yang dapat menjadi sumber motivasi untukmu sendiri. Tinggal kamu cari cara untuk menemukannya.
Sudah menemukan motivasi untuk menjadi biasa-biasa saja? Cobalah untuk terbiasa menjadi biasa-biasa saja. Selama ini, mungkin kamu terlalu terbiasa melakukan hal-hal yang luar biasa. Target-target besar yang dituliskan di buku harianmu itu menuntutmu untuk selalu melangkah lebih cepat, melakukan dengan terukur, dan melalui tantangan yang melintang. Mungkin itu memberatkan dan menyulitkanmu. Bahkan, waktu khusyuk yang harusnya diluangkan untuk bercengkerama dengan-Nya pun tidak terealisasikan. Iya, seringnya kamu menjadi seperti tamu yang hanya bertamu lalu segera pulang. Rela meluangkan waktu tetapi hati dan pikiran masih berkutat dengan langkah-langkah strategis untuk mencapai target besarmu itu. Lalu, kamu berharap semua itu tercapai? Coba renungkan lagi, Kawan.
Agar target menjadi biasa-biasa saja ini tercapai, perlu dituliskan rencana dan strategi untuk mencapainya. Langkah-langkah nyata yang direncanakan ini harus biasa saja dan spesifik. Tetap luangkan waktu untuk bermunajat kepada Sang Pencipta. Jangan lupa juga luangkan waktu untuk berkontemplasi. Iya, kamu memerlukan waktu untuk dirimu sendiri. Bukankah alasanmu menjadi biasa-biasa saja karena rasa bermasalah dengan padatnya rencana sebelumnya? Tidak ada waktu untuk diri sendiri, padahal kamu sendirilah yang tidak meluangkannya.
Pikiran yang tidak tenang serta hati yang tidak bahagia dan selalu tidak puas, pasti pernah menghampiri saat tuntutan terhadap sesuatu menjadi terlalu tinggi. Menjadi biasa-biasa saja memang bukan satu-satunya solusi. Perlu ilmu yang tepat dan semangat yang tidak putus agar semuanya menjadi lebih mudah. Yang paling penting adalah jangan lupa untuk selalu berusaha memperbaiki hubungan dengan Dia Yang Maha Mengetahui segala isi hati. Dengan begitu, segalanya akan menjadi lebih dari sekadar cukup. Kalau tidak percaya, cobalah buktikan sendiri. (Palangka Raya, 18 Juli 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar