Penulis : Ahmad Tohari
Cetakan : Pertama, Juli 2002
Penerbit : Penerbit Jendela
Kota Terbit : Yogyakarta
“Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?”
(Tohari, 2002)
Orang-Orang Proyek menyuguhkan realitas di lahan basah, yaitu proyek pembangunan jembatan yang menjadi sasaran keserakahan para pelaku politik. Mencungkil setiap lekuk keberlangsungan hidup para tokoh, baik yang terlibat langsung maupun tidak dengan proses pembangunan proyek, Ahmad Tohari sangat detil menyampaikan ceritanya. Seperti disampaikan dalam Pengantar Penerbit (Tohari, 2002:ix) bahwa, “Novel Orang-Orang Proyek adalah dokumentasi sosial masa kekuasaan Orde Baru yang sampai saat ini masih menyisakan kebobrokan,” memang benar adanya. Realitas yang disampaikan dalam novel ini banyak merangkum kebobrokan dalam keberlangsungan lahan basah bernama proyek. Mengenai bagian ini, bagaimanapun Ahmad Tohari tidak menawarkan alternatif solusi melalui ceritanya. Dia hanya menyampaikan adanya realitas kebobrokan yang mungkin terjadi hampir di setiap proyek yang dilakukan, dalam bidang apa pun. Akan tetapi, hanya sebatas itu. Selebihnya, pergolakan batin para tokohlah yang menggambarkan keresahan masyarakat sebagai implikasi adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Orang-orang proyek yang terlibat dalam proyek pembangunan jembatan itu berasal dari berbagai golongan sosial dan ekonomi. Mereka bukan hanya yang terlibat langsung dalam proses pembangunan, tetapi juga pihak-pihak yang terkena dampak dari dilaksanakannya proyek tersebut. Ada mereka yang melaksanakan proyek secara langsung, seperti Wati, Dalkijo, dan kuli. Ada Pak Tarya yang diceritakan sebagai tokoh yang berpengalaman, memiliki perspektif berbeda dalam menyikapi setiap perilaku orang-orang proyek. Ada juga tokoh-tokoh yang senang bersarang di warung Mak Sumeh. Warung tegal adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proyek sehingga sering kali warung mejadi cerminan keberlangsungan proyek itu sendiri. Beragam konflik dan isu hangat yang berkembang di proyek akan dengan sangat pesat tumbuh di warung tegal. Di puncak penokohan yang dimunculkan, ada tokoh Kabul yang mengalami pergulatan psikologis karena keterlibatannya sebagai insinyur yang terlibat dalam terlaksananya proyek tersebut. Pak Tarya-lah sang penasihat bagi Kabul. Keduanya memiliki topik yang sama untuk dibicarakan, proyek. Bedanya, Pak Tarya sudah lebih dulu merasakan getir pahitnya terlibat dalam proyek-proyek yang memancing para pemancing lahan basah, sementara Kabul adalah seorang insinyur muda yang baru beberapa kali terlibat dalam proyek.
Pak Tarya hampir selalu diceritakan sedang atau akan pergi memancing ketika bertemu dengan Kabul. Memancing ikan di sungai yang di atasnya akan dibangun jembatan oleh Kabul. Berhubung Pak Tarya adalah seorang pensiunan, dia tidak masalah terhadap akibat dari dilaksanakannya pembangunan jembatan meskipun dia termasuk penduduk sekitar. Akan tetapi, pelaksanaan proyek memberikan dampak yang mematikan perekonomian penduduk yang telanjur menggantungkan kehidupannya kepada sungai. Seorang pengemudi sampan harus merelakan pekerjaannya karena diambil alih. Ada duka, ada juga bahagia. Ada yang dirugikan, ada juga yang diuntungkan. Bagi sebagian penduduk yang katanya beruntung karena dapat berkerja menjadi kuli panggul batu di proyek, kehadiran proyek di desa itu adalah keberuntungan. Proyek adalah berkah tersendiri yang meningkatkan perekonomian. Akan tetapi, tidak demikian bagi pihak lainnya. Mereka tidak berdaya menghadapi kedigdayaan orang-orang proyek sungguhan yang senang memancing di lahan basah.
Tentang kebobrokan yang disampaikan dalam novel ini, Ahmad Tohari menggambarkan keprematuran dalam pelaksanaan proyek menghasilkan produk yang juga prematur. Semakin berkurangnya dana proyek karena terus dikorek-korek para pemimpin politik membuat kualitas jembatan yang dihasilkan tidak sesuai standar sehingga hasilnya, bangunan tersebut hanya mampu bertahan di bawah standar pula. Menggelitik karena pada pemerintahan sekarang pun realitas seperti itu masih sering ditemukan. Proses pembangunan sarana publik yang dilakukan pemerintah sering kali terbengkalai, ditinggalkan tanpa diselesaikan. Entah apa yang melatarbelakanginya. Ada juga yang selesai dengan prematur. Satu tahun adalah masa paling lama penggunaan fasilitas yang dibangun. Sisanya, kalau tidak runtuh, muncul lubang atau retakan di sana-sini. Begitulah gambaran kebobrokan yang terpatri dalam cerita Orang-Orang Proyek.
Di tengah kebobrokan-kebobrokan yang disampaikan, sosok Kabul adalah gambaran kontras yang tidak mudah ditemui di lingkungan orang-orang proyek. Sebagai insinyur dan mantan aktivis kampus, Kabul memiliki pola pikir yang pantas untuk dikagumi. Didikan dan asuhan Bapak dan Biyung-lah yang membentuk pribadi Kabul. Selain itu, pengalamannya menjalani kehidupan juga membuatnya berbeda. Saat orang lain yang memiliki kedudukan dan memiliki akses seperti yang dimilikinya akan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau golongannya, Kabul menunjukkan perilaku yang berbeda. Meskipun sempat digambarkan menghadapi dilema, Kabul akhirnya tidak pernah menyerah terhadap prinsipnya. Sayangnya, pilihannya untuk meninggalkan proyek yang belum selesai cukup membuat coreng terhadap penokohannya. Bagaimana bisa seorang tokoh utama dengan penokohan yang luar biasa memilih untuk meninggalkan? Apakah tidak ada kemungkinan untuk menang bagi orang-orang seperti Kabul? Menjadi orang yang selalu memegang prinsip dan memilih tidak terlibat artinya memilih untuk meninggalkan, seperti itukah Ahmad Tohari menitipkan pesannya kepada Kabul? Entahlah. Yang jelas, proyek adalah lahan yang selalu basah sehingga selalu menarik untuk dirongrong. Orang-orang proyek adalah orang-orang yang heterogen yang lebih sering mengorbankan idealisme demi memenuhi dan menutupi kepentingan-kepentingan. Memilih memegang erat idealisme, artinya memilih untuk meninggalkan proyek. Kabul-lah manifestasinya. (Palangka Raya, 4 Juli 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar