Kamis, 20 Agustus 2020

Mah, Aku Lelah!

Apakah kamu pernah ada dalam keadaan yang rasanya sangat menyesakkan dada? Sulit rasanya mengambil nafas, padahal ruangan sangat lengang, bukan? Seolah semua yang sudah dilakukan hanya akan sia-sia, tidak berdampak apa-apa selain penyesalan dan kegagalan. Tidak perlu malu, apalagi tidak mau mengakui. Ini pun menghampiriku dan aku menyakini bahwa di dunia ini bukan hanya kita yang mengalami ini.

Masalah datang silih berganti kepada siapa pun. Tua dan muda pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Pasti, selalu ada sesuatu yang menyesakkan dada. Tarafnya berbeda untuk setiap orang, bergantung kemampuannya. Sang Maha Pengasih lebih mengetahui kapasitasmu dibanding dirimu sendiri. Tidak ada yang lebih memahami dirimu ketimbang Dia. Jadi, tidak perlu berkeluh-kesah bahwa Dia bertindak tidak adil terhadapmu. Sesungguhnya, tidak ada yang mampu menyaingi keadilan-Nya. Bahkan, caramu sendiri pun belum tentu cara terbaik untuk memperlakukan dirimu.  Bukankah kamu pernah merasakan sakit karena keras kepala yang selalu kamu agung-agungkan? Apalagi, saat kamu tidak melibatkan-Nya.

Hidup ini hanya sekumpulan perkara yang pada akhirnya bergantung kepada caramu menghadapinya, Kawan. Saat kamu dirundung duka, bukan berarti kamu harus bersedih. Pun saat kamu diliputi keberutungan, kamu jangan sampai lupa diri. Perputaran di antara keduanya terlampau cepat untukmu menyadari perubahan yang terjadi. Jadi, jangan sampai kamu dibuat lena.

Tentang sesak yang menimpa dada, kamu perlu merenungkan penyebabnya. Bisa jadi ada penyakit hati yang menggerogoti sanubari. Ada hal yang seharusnya tidak menjadi tanggunganmu, tetapi malah kamu pedulikan terlampau dalam. Apapun itu, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Kamu hanya perlu meyakinkan dirimu sendiri bahwa di dunia ini ada hal yang jauh lebih penting untuk kamu pikirkan. Iya, dirimu sendiri, keberlangsungan hidupmu. Jangan sampai kamu melupakan hakikat kehidupan bahwa ada Sang Maha Pengatur yang akan menjadi Sutradara Terbaik untukmu.

Mencari pembanding untuk setiap langkah dan gerak diri agar menjadi lebih baik adalah hal positif yang dapat kamu lakukan. Akan tetapi, jangan sampai hal tersebut malah menjadikanmu semakin terpuruk, menganggap bahwa diri sudah tertinggal sangat jauh. Bahkan, langkah yang dimulai pun berbeda dengan yang sudah mereka lakukan, mengapa kamu bersusah-payah membandingkan jalanmu dengan jalan mereka? Sesekali, kamu hanya perlu merenungi tindakan apa yang sudah kamu lakukan sehingga kehidupanmu menjadi begini. Langkah besar apa yang sudah kamu lakukan dan hal apa yang sudah kamu korbankan sehingga kamu pantas berada di posisi yang lebih baik dari yang kamu tempati sekarang? Bukankah sampai sekarang kamu masih belum melakukan apa-apa? Bukankah kamu lebih memilih untuk tidur atau sekadar rebahan di atas kasur ketimbang menghasilkan suatu karya ketika ada waktu luang? Jadi, masih pantaskah kamu mengeluhkan semuanya? Hey, Kawan, cobalah bangun dan mulai dari sekarang!

Menjadi manusia artinya berproses menggapai tujuan, Kawan. Ada tujuan yang sudah direncakan dengan sadar, ada juga yang terjadi tanpa disadari. Tujuan dengan perencanaan akan membuatmu melangkah dengan pasti. Sementara itu, tujuan yang tidak dibarengi dengan langkah-langkah strategis, hanya akan membuatmu melangkah dalam ketidakpastian. Kamu tidak perlu terburu-buru. Apalagi, menganggap bahwa jalanmu sekarang perlu segera diperbaiki. Kamu hanya harus mengambil langkah awalmu sendiri. Tidak perlu melakukannya karena dorongan atau paksaan dari siapa pun. Kamu berhak menentukan jalanmu sendiri.

Ah, sudahlah, aku lelah. Mah, aku ingin menyerah! Sesekali, perkataan seperti itu pasti menghampiri, bukan? Tidak perlu kamu menutupinya. Ini bukan aib atau kesalahan. Justru, inilah proses yang akan membuatmu menjadi manusia sukses. Dengan mengeluh, bukan berarti kamu kalah. Kamu hanya sedang berusaha menguatkan dirimu sendiri dengan cara yang tidak kamu sadari. Kamu akan menggapai tujuanmu, sukses yang selama ini kamu impikan. Kamu akan membuktikan bahwa hidupmu tidak sepecundang yang mereka katakan. Kalahkan pemikiran yang menjatuhkan. Beri pembuktian bahwa hidupmu jauh lebih berharga daripada yang mereka gunjingkan. Selamat berjuang, Kawan. (Palangka Raya, 20 Agustus 2020)

 

Sabtu, 01 Agustus 2020

Kamu Bukan Satu-Satunya Aktor Utama

Jangan menjadikan dirimu sendiri sebagai aktor utama kehidupan. Mengapa? Karena di dunia ini kamu tidak hidup sendiri. Kalau kamu berasumsi bahwa dirimu sendirilah aktor utamanya, lalu sebagai apa aku hidup? Bukankah terlalu sombong ketika kamu menganggap dirimu lebih dibanding orang lain? Maaf, bukan maksudku menghakimi. Masalahnya, masih ada orang yang sangking menganggap dirinya sebagai sentral, pusat dari kehidupannya, sampai melupakan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Padahal, kehidupan yang orang lain jalani juga penting, setidaknya bagi mereka sendiri.

Ini hanya tentang persepsi, bukankah hidup harus saling menghargai? Tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa bantuan dan sokongan orang lain. Pasti ada saatnya memerlukan kehadiran sosok manusia lain, baik secara langsung ataupun tidak. Dengan cara apa menghargai orang lain? Dengan cara yang kamu sendiri ingin diperlakukan. Kalau kamu ingin diperlakukan dengan baik, perlakukan orang lain dengan baik juga. Kalau kamu orang yang cenderung ingin diberi, mulailah untuk memberi. Kalau kamu ingin memiliki teman yang setia, jangan kamu mengkhianati. Bukankah apa yang kita tanam akan kita tuai juga? Sesederhana itu, tapi tidak dengan realisasinya.

Cobaan dan ujian kadang menjadi hambatan tersendiri dalam melakukan hal-hal yang katanya sederhana itu. Bukan dorongan orang lain, tetapi justru datang dari diri sendiri. Gengsi, cenderung tidak mau menerima kelebihan orang lain. Biasanya, merasa bahwa diri bisa melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada yang orang lain lakukan sehingga enggan mengakui kelebihan orang lain. Padahal, belum tentu demikian. Tidak semua orang diberi kelebihan dalam segala hal, pun sebaliknya. Jika kamu tidak mengamini, setidaknya ini berlaku bagiku.

Selain gengsi, cenderung menggampangkan orang lain juga mungkin mungelebat di hati. Ah, paling dia begini atau paling begitu, minta dia saja yang melakukannya, dia kan begitu. Pikiran-pikiran seperti itulah yang membuatmu gagal. Terlalu menggampangkan orang lain, artinya merendahkan orang yang bersangkutan. Kamu superior sementara mereka imperior. Padahal, Allah menciptakan manusia sama di muka bumi ini, kecuali berdasarkan keimanannya. Apa memang kamu merasa bahwa taraf keimananmu lebih tinggi dari orang lain? Siapa yang dapat mengukurnya? Hanya Allah.

Alih-alih menggap diri lebih baik daripada orang lain, cobalah untuk selalu mengambil pelajaran dan hikmah dari mereka. Pasti ada kebaikan yang akan meningkatkan kualitas diri. Bukankah spesifikasi tinggi dapat menjadi daya tarik? Itulah yang secara otomatis akan membuatmu berbeda dengan orang lain, bukan dengan cara merendahkan atau mengaggap dirimu superior. Memang tidak mudah, bahkan cenderung sulit. Akan tetapi, yakinlah bahwa setiap niat baik yang direncanakan pasti akan menemukan jalannya. Lihat dari hal yang paling sederhana. Jangan langsung mencari sesuatu yang besar, bombastis, karena itu percuma. Sekali lagi, penilaianmu tentang sesuatu belum tentu sama dengan yang orang lain pikirkan. Jadi, hal yang istimewa menurutmu belum tentu demikian menurut orang lain. Kamu bukan satu-satunya aktor utama di dunia ini. Kalau kamu aktor utama kehidupanmu, banyak juga aktor utama untuk kehidupan yang lain. (Palangka Raya, 1 Agustus 2020)