Sabtu, 01 Agustus 2020

Kamu Bukan Satu-Satunya Aktor Utama

Jangan menjadikan dirimu sendiri sebagai aktor utama kehidupan. Mengapa? Karena di dunia ini kamu tidak hidup sendiri. Kalau kamu berasumsi bahwa dirimu sendirilah aktor utamanya, lalu sebagai apa aku hidup? Bukankah terlalu sombong ketika kamu menganggap dirimu lebih dibanding orang lain? Maaf, bukan maksudku menghakimi. Masalahnya, masih ada orang yang sangking menganggap dirinya sebagai sentral, pusat dari kehidupannya, sampai melupakan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Padahal, kehidupan yang orang lain jalani juga penting, setidaknya bagi mereka sendiri.

Ini hanya tentang persepsi, bukankah hidup harus saling menghargai? Tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa bantuan dan sokongan orang lain. Pasti ada saatnya memerlukan kehadiran sosok manusia lain, baik secara langsung ataupun tidak. Dengan cara apa menghargai orang lain? Dengan cara yang kamu sendiri ingin diperlakukan. Kalau kamu ingin diperlakukan dengan baik, perlakukan orang lain dengan baik juga. Kalau kamu orang yang cenderung ingin diberi, mulailah untuk memberi. Kalau kamu ingin memiliki teman yang setia, jangan kamu mengkhianati. Bukankah apa yang kita tanam akan kita tuai juga? Sesederhana itu, tapi tidak dengan realisasinya.

Cobaan dan ujian kadang menjadi hambatan tersendiri dalam melakukan hal-hal yang katanya sederhana itu. Bukan dorongan orang lain, tetapi justru datang dari diri sendiri. Gengsi, cenderung tidak mau menerima kelebihan orang lain. Biasanya, merasa bahwa diri bisa melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada yang orang lain lakukan sehingga enggan mengakui kelebihan orang lain. Padahal, belum tentu demikian. Tidak semua orang diberi kelebihan dalam segala hal, pun sebaliknya. Jika kamu tidak mengamini, setidaknya ini berlaku bagiku.

Selain gengsi, cenderung menggampangkan orang lain juga mungkin mungelebat di hati. Ah, paling dia begini atau paling begitu, minta dia saja yang melakukannya, dia kan begitu. Pikiran-pikiran seperti itulah yang membuatmu gagal. Terlalu menggampangkan orang lain, artinya merendahkan orang yang bersangkutan. Kamu superior sementara mereka imperior. Padahal, Allah menciptakan manusia sama di muka bumi ini, kecuali berdasarkan keimanannya. Apa memang kamu merasa bahwa taraf keimananmu lebih tinggi dari orang lain? Siapa yang dapat mengukurnya? Hanya Allah.

Alih-alih menggap diri lebih baik daripada orang lain, cobalah untuk selalu mengambil pelajaran dan hikmah dari mereka. Pasti ada kebaikan yang akan meningkatkan kualitas diri. Bukankah spesifikasi tinggi dapat menjadi daya tarik? Itulah yang secara otomatis akan membuatmu berbeda dengan orang lain, bukan dengan cara merendahkan atau mengaggap dirimu superior. Memang tidak mudah, bahkan cenderung sulit. Akan tetapi, yakinlah bahwa setiap niat baik yang direncanakan pasti akan menemukan jalannya. Lihat dari hal yang paling sederhana. Jangan langsung mencari sesuatu yang besar, bombastis, karena itu percuma. Sekali lagi, penilaianmu tentang sesuatu belum tentu sama dengan yang orang lain pikirkan. Jadi, hal yang istimewa menurutmu belum tentu demikian menurut orang lain. Kamu bukan satu-satunya aktor utama di dunia ini. Kalau kamu aktor utama kehidupanmu, banyak juga aktor utama untuk kehidupan yang lain. (Palangka Raya, 1 Agustus 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar