Covid-19,
pandemi yang meresahkan seluruh penduduk bumi. Dampaknya tidak hanya terhadap
satu aspek, tetapi memengaruhi berbagai lini kehidupan manusia. Di Indonesia,
wabah ini cenderung terlambat menyerang. Negara-negara tetangga telah
mengumumkan warga negaranya yang terinfeksi virus corona. Indonesia
mampu bertahan meskipun teryata tidak bertahan lama. Benteng pertahanan yang
diupayakan ternyata dapat ditembus virus berukuran sekira 125 nanometer atau
0,125 mikrometer ini. Masyarakat mulai terusik. Indonesia mulai khawatir.
Di tengah penyebaran
informasi penularan virus corona, aku tiba-tiba terserang gejala flu dan
batuk. Aku tipikal orang yang tidak mudah sakit. Daya tahan tubuhku cukup baik
untuk menangkal virus yang hendak menyerang. Namun, kali ini aku diruntuhkan.
Pagi hari, tubuhku pegal-pegal, tidak seperti biasanya. Siang harinya, aku
mulai bersin. Padahal, suhu di luar ruangan sedang panas-panasnya. Suhu tubuhku
sepertinya mulai berubah. Hidungku mulai memproduksi ingus. Tenggorokanku saat
itu belum sakit. Menjelang malam, bersinku tidak juga behenti. Kepalaku mulai
sakit. Tenggorokanku pun sakit. Aku langsung mengonsumsi obat yang biasa aku
makan. Sedikit membantu, tapi tidak cukup kuat mengalahkan virus yang sedang
berkembang di tubuhku.
Keesokkan
harinya, produksi ingusku menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Bersinku
berubah menjadi batuk yang menyakitkan tenggorokkan. Gejala flu dan batukku
berada pada puncaknya. Aku semakin khawatir, takut menjadi “tersangka” penyebar
virus corona bagi orang-orang terdekatku. Dengan pemahaman yang minim
mengenai covid-19, aku mulai mempelajari gejala-gejala penderita covid-19.
Setelah mempelajarinya, aku yakin bahwa penyakitku ini berbeda dengan covid-19.
Ini hanya flu dan batuk seperti biasanya. Aku bisa segera sembuh dengan
memperbaiki pola hidupku. Aku mulai makan tiga kali sehari. Makanan yang
kukonsumsi perlahan kuperbaiki. Harus ada karbohidrat, serat, dan protein di
makanan yang kumakan. Aku juga mulai rajin minum susu. Vitamin yang belakangan
ini kutinggalkan, perlahan mulai kukonsumsi lagi. Aku juga menyadari bahwa
beberapa hari terakhir, waktu tidurku tidak baik. Aku sering begadang karena
alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Biasanya waktu tidurku pukul
22.00 WIB. Namun, aku sering beralasan tidak bisa tidur karena menonton film, drama
korea, drama cina, atau membaca novel. Biasanya, aku akan ngantuk dan tidur
pukul 00.00 WIB. Strategiku sekarang adalah mendisiplinkan diriku sendiri.
Selain makanan dan jam makan, aku harus mengatur ulang jam tidurku. Pukul 21.00
WIB, aku meninggalkan semua rutinitasku. Kulakukan semuanya walau enggan. Aku
harus sembuh. Perlahan, gejala flu dan batukku ini mulai membaik. Tubuhku
kembali bersahabat. Namun, aku tetap harus memeriksakan tubuhku ke dokter.
Sepertinya, ada bagian yang salah dalam diriku. Aku harus melakukannya dengan
benar agar tidak terulang lagi. Aku harus mengenali diriku sendiri agar
mengetahui cara terbaik untuk memperlakukannya.
Maksudku,
jangan kamu terlalu panik dan latah atas merebaknya covid-19 di
Indonesia. Kalau kamu memang tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan suspect
atau orang yang sudah terinfeksi, tenang saja. Gejala yang kamu alami, meski
mirip, kemungkinan besarnya bukan disebabkan oleh virus coronoa. Yang
harus kamu lakukan adalah menyadari bahwa kamu sakit sehingga ada perlakuan-perlakuan
khusus yang harus kamu lakukan terhadap dirimu sendiri. Caramu berinteraksi
dengan orang lain juga harus menjadi pertimbanganmu. Kamu mungkin hanya perlu
mendapatkan perlakuan khusus. Sayangilah dirimu mulai saat ini. (Palangka Raya, 17 Maret 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar