Selasa, 17 Maret 2020

Aku dan Covid-19


Covid-19, pandemi yang meresahkan seluruh penduduk bumi. Dampaknya tidak hanya terhadap satu aspek, tetapi memengaruhi berbagai lini kehidupan manusia. Di Indonesia, wabah ini cenderung terlambat menyerang. Negara-negara tetangga telah mengumumkan warga negaranya yang terinfeksi virus corona. Indonesia mampu bertahan meskipun teryata tidak bertahan lama. Benteng pertahanan yang diupayakan ternyata dapat ditembus virus berukuran sekira 125 nanometer atau 0,125 mikrometer ini. Masyarakat mulai terusik. Indonesia mulai khawatir.
            Di tengah penyebaran informasi penularan virus corona, aku tiba-tiba terserang gejala flu dan batuk. Aku tipikal orang yang tidak mudah sakit. Daya tahan tubuhku cukup baik untuk menangkal virus yang hendak menyerang. Namun, kali ini aku diruntuhkan. Pagi hari, tubuhku pegal-pegal, tidak seperti biasanya. Siang harinya, aku mulai bersin. Padahal, suhu di luar ruangan sedang panas-panasnya. Suhu tubuhku sepertinya mulai berubah. Hidungku mulai memproduksi ingus. Tenggorokanku saat itu belum sakit. Menjelang malam, bersinku tidak juga behenti. Kepalaku mulai sakit. Tenggorokanku pun sakit. Aku langsung mengonsumsi obat yang biasa aku makan. Sedikit membantu, tapi tidak cukup kuat mengalahkan virus yang sedang berkembang di tubuhku.
            Keesokkan harinya, produksi ingusku menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Bersinku berubah menjadi batuk yang menyakitkan tenggorokkan. Gejala flu dan batukku berada pada puncaknya. Aku semakin khawatir, takut menjadi “tersangka” penyebar virus corona bagi orang-orang terdekatku. Dengan pemahaman yang minim mengenai covid-19, aku mulai mempelajari gejala-gejala penderita covid-19. Setelah mempelajarinya, aku yakin bahwa penyakitku ini berbeda dengan covid-19. Ini hanya flu dan batuk seperti biasanya. Aku bisa segera sembuh dengan memperbaiki pola hidupku. Aku mulai makan tiga kali sehari. Makanan yang kukonsumsi perlahan kuperbaiki. Harus ada karbohidrat, serat, dan protein di makanan yang kumakan. Aku juga mulai rajin minum susu. Vitamin yang belakangan ini kutinggalkan, perlahan mulai kukonsumsi lagi. Aku juga menyadari bahwa beberapa hari terakhir, waktu tidurku tidak baik. Aku sering begadang karena alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Biasanya waktu tidurku pukul 22.00 WIB. Namun, aku sering beralasan tidak bisa tidur karena menonton film, drama korea, drama cina, atau membaca novel. Biasanya, aku akan ngantuk dan tidur pukul 00.00 WIB. Strategiku sekarang adalah mendisiplinkan diriku sendiri. Selain makanan dan jam makan, aku harus mengatur ulang jam tidurku. Pukul 21.00 WIB, aku meninggalkan semua rutinitasku. Kulakukan semuanya walau enggan. Aku harus sembuh. Perlahan, gejala flu dan batukku ini mulai membaik. Tubuhku kembali bersahabat. Namun, aku tetap harus memeriksakan tubuhku ke dokter. Sepertinya, ada bagian yang salah dalam diriku. Aku harus melakukannya dengan benar agar tidak terulang lagi. Aku harus mengenali diriku sendiri agar mengetahui cara terbaik untuk memperlakukannya.
            Maksudku, jangan kamu terlalu panik dan latah atas merebaknya covid-19 di Indonesia. Kalau kamu memang tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan suspect atau orang yang sudah terinfeksi, tenang saja. Gejala yang kamu alami, meski mirip, kemungkinan besarnya bukan disebabkan oleh virus coronoa. Yang harus kamu lakukan adalah menyadari bahwa kamu sakit sehingga ada perlakuan-perlakuan khusus yang harus kamu lakukan terhadap dirimu sendiri. Caramu berinteraksi dengan orang lain juga harus menjadi pertimbanganmu. Kamu mungkin hanya perlu mendapatkan perlakuan khusus. Sayangilah dirimu mulai saat ini. (Palangka Raya, 17 Maret 2020)
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar