Selasa, 10 Maret 2020

Perjuangan Berlandaskan Keimanan

Mah, besok sudah mulai puasa, ya? tanyaku pada Mamah. 
     Ini adalah Ramadhan pertamaku tanpa Bapak. Dia sudah dipanggil Sang Maha Pencipta. Aku dan Mamah sudah mengikhlaskannya. Akan tetapi, kami masih sering rindu kepadanya. Rasanya selalu ada yang kurang setiap kami sahur atau berbuka puasa. Iya, kami kehilangan sosok Bapak.
    Aku tidak pernah menyalahkan kepergian Bapak. Mamah pun demikian. Dia tidak pernah sekali pun menyesali keputusan Allah Swt. memanggil Bapak.
“Kha, mamah mau pergi dulu ya,” Mamah membangunkanku dari lamunan.
“Eh, iya, Mah. Mau ke mana?” tanyaku pada Mamah.
“Mamah kan sudah bilang mau jenguk anaknya tante Susi,” jelas Mamah.
“Iya mah. Nanti pulangnya, tolong belikan aku kurma ya.”
Mamah pun berlalu. Dia mau menjenguk anaknya tante Susi, Rahma. Rahma sudah seminggu sakit. Dia jatuh dari motor bersama temannya. Malangnya, keadaannya parah. Kakinya patah dan harus menjalani pengobatan yang cukup lama. Sementara temannya katanya sudah baikan. Menurutku Allah Swt. sangat menyayangi Rahma. Buktinya, meskipun dia jatuh daru ketinggian 15 meter, dia hanya mengalami patah kaki. Ya, kalau Allah Swt. tidak menyayanginya, mungkin dia mengalami cedera lebih dari itu.
Setelah mamah pergi, aku menuju kamarku. Ku ambil buku yang sudah seminggu ini aku baca. Sayangnya, karena terlalu malas menyelesaikannya, buku ini tidak kunjung selesai aku baca. Tema bukunya tentang strategi memperbaiki diri. Aku merasa perlu membaca buku ini. Iya, aku merasa ada sesuatu yang perlu aku berbaiki dalam diri ini. Sesuatu sepertinya telah keluar dari jalurnya. Akan tetapi, aku tidak tahu itu apa. Ketika aku buka lemari bukuku, ternyata aku menemukan buku ini. Aku pun memutuskan untuk membaca buku ini.
Setelah membaca hampir seperempat bagian dari buku ini, aku menyadari beberapa hal. Pertama, ada yang tidak beres dalam hidupku. Entah aku yang salah menjalaninya atau memang jalannya yang sudah tidak sesuai. Kedua, aku terlalu banyak menjadikan sesuatu lebih kompleks. Ketiga, aku tidak pernah menyadari bahwa aku telah melewatkan banya hal. Kulewatkan masa-masa penting yang seharusnya dijalani seorang manusia. Keempat, aku terlalu percaya pada keputusan yang aku ambil. Aku jarang sekali melibatkan Allah Swt. dalam menjalani segala hal. Masalah yang kelima inilah yang sesungguhnya sangat memberatkanku.
Namaku Khadijah Bilqist. Sebagai seorang muslim, aku terlalu sombong. Hanya sesekali aku melibatkan Sang Maha Pemilikku dalam menjalani kehidupan ini. Sedih rasanya, mengingat aku baru menyadarinya di seperempat abad usiaku ini. Iya, sekarang usiaku menjelang seperempat abad. Apakah aku tidak terlalu terlambat?
Kulanjutkan membaca buku. Ah, ternyata ada bagian yang menjelaskan tentang pengorbanan seorang mualaf. Mualaf adalah orang yang sebelumnya bukan seorang muslim, tetapi memutuskan untuk memeluk Islam. Sungguh, aku tidak dapat berkata-kata ketika membaca bagian ini. Aku malu, Ya Allah. Sebagai seorang muslim sejak dalam kandungan, aku tidak ada apa-apanya. Aku kalah dari mereka.
Katanya, mualaf itu harus rela kehilangan keluarganya demi Islam. Dia kira-kira seusia denganku saat memutuskan masuk Islam. Saat itu, dia sudah bekerja sehingga dia mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Orang tuanya mengusirnya dari rumah. Dia pun sempat terlunta-lunta selama beberapa minggu. Selama itu, dia menginap di rumah teman-teman muslimnya. Ketika tidak ada yang bersedia menampungnya, dia memutuskan menginap di masjid. Belum ada niatan dalam dirinya untuk sekedar ngekost. Saat itu dia masih meneguhkan keputusannya itu.
Selama terlunta-lunta itu, dia mengalami perjalanan spiritualnya. Allah Swt. menunjukkan bahwa sesama muslim adalah saudara. Banyak orang yang membantunya. Banyak yang menawarkan untuk menginap di rumah mereka. Akan tetapi, mualaf ini tidak mau menerimanya. Bukan dia terlalu sombong atau gengsi, dia hanya tidak ingin menyusahkan orang lain.
Dia diperkenalkan sebagai Aisyah. Aku berpikir dia adalah orang yang bijaksana. Dia mampu memutuskan hal prinsipel seperti itu seorang diri. Dia tidak egois. Keputusannya pun disampaikan kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima keputusan Aisyah. Ya, aku sedikit mengerti mengenai perasaan kedua orang tuanya. Tentu saja sebagai manusia, kita sering kali menganggap yang kita pegang teguh adalah yang terbaik. Menganggap sesuatu di luar kita tidak sesuai dan tidak baik. Itu wajar saja. Namun, kita pun harus meyakini bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Allah Swt. telah menurunkan wahyunya melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. Kita harus mengimaninya sebagai suatu kebenaran.
Ingatkah pada pengorbanan yang dilakukan Rasulullah saw. ketika beliau berdakwah? Banyak pihak yang menentang mereka. Bahkan, kaum Yahudi tidak mau menerima Rasulullah saw. dan Islam. Meskipun begitu, beliau tetap bertahan dalam menyiarkan Islam. Allah Swt. pun menunjukkan kebesaran-Nya. Islam pun sampai pada kita, hingga sekarang. Alhamdulillah.
Mengetahui hal ini, aku jadi semakin malu. Aku mengaku Islam, tetapi pemahamanku tentangnya masih sangat dangkal. Kebanyakan waktuku kugunakan untuk hal yang tidak berguna. Oh Allah, aku telah menyia-nyiakan waktuku. Ampuni aku, Wahai Zat Yang Maha Pengampun ….
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar