Ini adalah Ramadhan
pertamaku tanpa Bapak. Dia sudah dipanggil Sang Maha Pencipta. Aku dan Mamah sudah
mengikhlaskannya. Akan tetapi, kami masih sering rindu kepadanya. Rasanya
selalu ada yang kurang setiap kami sahur atau berbuka puasa. Iya, kami
kehilangan sosok Bapak.
Aku
tidak pernah menyalahkan kepergian Bapak. Mamah pun demikian. Dia tidak pernah
sekali pun menyesali keputusan Allah Swt. memanggil Bapak.
“Kha, mamah mau pergi dulu ya,” Mamah
membangunkanku dari lamunan.
“Eh, iya,
Mah. Mau ke mana?” tanyaku pada Mamah.
“Mamah kan sudah bilang mau jenguk anaknya tante
Susi,” jelas Mamah.
“Iya mah. Nanti pulangnya, tolong belikan aku
kurma ya.”
Mamah pun
berlalu. Dia mau menjenguk anaknya tante Susi, Rahma. Rahma sudah seminggu
sakit. Dia jatuh dari motor bersama temannya. Malangnya, keadaannya parah.
Kakinya patah dan harus menjalani pengobatan yang cukup lama. Sementara
temannya katanya sudah baikan. Menurutku Allah Swt. sangat menyayangi Rahma.
Buktinya, meskipun dia jatuh daru ketinggian 15 meter, dia hanya mengalami
patah kaki. Ya, kalau Allah Swt. tidak menyayanginya, mungkin dia mengalami
cedera lebih dari itu.
Setelah mamah
pergi, aku menuju kamarku. Ku ambil buku yang sudah seminggu ini aku baca.
Sayangnya, karena terlalu malas menyelesaikannya, buku ini tidak kunjung
selesai aku baca. Tema bukunya tentang strategi memperbaiki diri. Aku merasa
perlu membaca buku ini. Iya, aku merasa ada sesuatu yang perlu aku berbaiki
dalam diri ini. Sesuatu sepertinya telah keluar dari jalurnya. Akan tetapi, aku
tidak tahu itu apa. Ketika aku buka lemari bukuku, ternyata aku menemukan buku
ini. Aku pun memutuskan untuk membaca buku ini.
Setelah
membaca hampir seperempat bagian dari buku ini, aku menyadari beberapa hal. Pertama, ada yang tidak beres dalam
hidupku. Entah aku yang salah menjalaninya atau memang jalannya yang sudah
tidak sesuai. Kedua, aku terlalu
banyak menjadikan sesuatu lebih kompleks. Ketiga,
aku tidak pernah menyadari bahwa aku telah melewatkan banya hal. Kulewatkan
masa-masa penting yang seharusnya dijalani seorang manusia. Keempat, aku terlalu percaya pada
keputusan yang aku ambil. Aku jarang sekali melibatkan Allah Swt. dalam
menjalani segala hal. Masalah yang kelima inilah yang sesungguhnya sangat
memberatkanku.
Namaku Khadijah Bilqist. Sebagai seorang muslim, aku terlalu sombong. Hanya sesekali aku melibatkan Sang Maha Pemilikku dalam menjalani kehidupan ini. Sedih rasanya, mengingat aku baru menyadarinya di seperempat abad usiaku ini. Iya, sekarang usiaku menjelang seperempat abad. Apakah aku tidak terlalu terlambat?
Namaku Khadijah Bilqist. Sebagai seorang muslim, aku terlalu sombong. Hanya sesekali aku melibatkan Sang Maha Pemilikku dalam menjalani kehidupan ini. Sedih rasanya, mengingat aku baru menyadarinya di seperempat abad usiaku ini. Iya, sekarang usiaku menjelang seperempat abad. Apakah aku tidak terlalu terlambat?
Kulanjutkan
membaca buku. Ah, ternyata ada bagian yang menjelaskan tentang pengorbanan
seorang mualaf. Mualaf adalah orang yang sebelumnya bukan seorang muslim,
tetapi memutuskan untuk memeluk Islam. Sungguh, aku tidak dapat berkata-kata
ketika membaca bagian ini. Aku malu, Ya Allah. Sebagai seorang muslim sejak
dalam kandungan, aku tidak ada apa-apanya. Aku kalah dari mereka.
Katanya,
mualaf itu harus rela kehilangan keluarganya demi Islam. Dia kira-kira seusia
denganku saat memutuskan masuk Islam. Saat itu, dia sudah bekerja sehingga dia
mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Orang tuanya mengusirnya dari rumah.
Dia pun sempat terlunta-lunta selama beberapa minggu. Selama itu, dia menginap
di rumah teman-teman muslimnya. Ketika tidak ada yang bersedia menampungnya,
dia memutuskan menginap di masjid. Belum ada niatan dalam dirinya untuk sekedar
ngekost. Saat itu dia masih meneguhkan keputusannya itu.
Selama
terlunta-lunta itu, dia mengalami perjalanan spiritualnya. Allah Swt.
menunjukkan bahwa sesama muslim adalah saudara. Banyak orang yang membantunya.
Banyak yang menawarkan untuk menginap di rumah mereka. Akan tetapi, mualaf ini
tidak mau menerimanya. Bukan dia terlalu sombong atau gengsi, dia hanya tidak
ingin menyusahkan orang lain.
Dia
diperkenalkan sebagai Aisyah. Aku berpikir dia adalah orang yang bijaksana. Dia
mampu memutuskan hal prinsipel seperti itu seorang diri. Dia tidak egois.
Keputusannya pun disampaikan kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, mereka
tidak mau menerima keputusan Aisyah. Ya, aku sedikit mengerti mengenai perasaan
kedua orang tuanya. Tentu saja sebagai manusia, kita sering kali menganggap
yang kita pegang teguh adalah yang terbaik. Menganggap sesuatu di luar kita
tidak sesuai dan tidak baik. Itu wajar saja. Namun, kita pun harus meyakini
bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Allah Swt. telah menurunkan
wahyunya melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. Kita harus mengimaninya
sebagai suatu kebenaran.
Ingatkah pada
pengorbanan yang dilakukan Rasulullah saw. ketika beliau berdakwah? Banyak pihak
yang menentang mereka. Bahkan, kaum Yahudi tidak mau menerima Rasulullah saw.
dan Islam. Meskipun begitu, beliau tetap bertahan dalam menyiarkan Islam. Allah
Swt. pun menunjukkan kebesaran-Nya. Islam pun sampai pada kita,
hingga sekarang. Alhamdulillah.
Mengetahui
hal ini, aku jadi semakin malu. Aku mengaku Islam, tetapi pemahamanku
tentangnya masih sangat dangkal. Kebanyakan waktuku kugunakan untuk hal yang
tidak berguna. Oh Allah, aku telah menyia-nyiakan waktuku. Ampuni aku, Wahai
Zat Yang Maha Pengampun ….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar