Allah
Maha Mengetahui tempat terbaik bagi hamba-Nya. Kamu tidak akan selamanya berada
di zona nyaman hidupmu. Roda kehidupan pasti berputar. Ada saatnya kamu harus
mengalah kepada kehidupan dan mengikuti alur yang sudah ditetapkan oleh Sang
Maha Pengatur skenario kehidupan. Aku pun sedang berusaha menerima semua yang
menjadi suratan takdirku.
Merantau tidak pernah menjadi tujuan hidupku. Prinsip
keluargaku, kalau bisa, bekerja di tempat yang paling dekat dengan rumah. Tidak
usah membuat semuanya menjadi lebih rumit. Memenuhi kebutuhan sehari-hari saja
sudah sulit, apalagi harus memikirkan cara mendekatkan jarak. Namun, Allah
mengetahui yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Dia mengetahui kekurangan
terbesar keluargaku. Kami terlalu meremehkan kebersamaan. Rasanya, bisa
berkumpul dengan orang-orang terkasih merupakan hal yang murah, tidak bermakna.
Kami pun dibuat-Nya jauh. Aku dipilihkan-Nya tempat untuk bekerja. Berjarak.
Sejak itu, aku menjadi seorang perantau. Pertemuanku dengan keluargaku tidak
murah lagi. Alhamdulillah.
Ternyata, menjadi pejuang di tanah orang tidak semudah
yang dibayangkan. Ada perjuangan-perjuangan yang harus disesuaikan. Maksudku,
kamu tidak bisa lagi berpangku tangan, berharap bantuan langsung dari
keluargamu. Semuanya menjadi tanggung jawabmu sendiri. Setiap pilihan dan
keputusan harus kamu tentukan sendiri. Bahkan, konsekuensinya pun kamu yang
merasakan sendiri. Aku, jujur saja, sangat terkejut dengan setiap perjalanan hidup yang kulaului sekarang. Penuh
dengan tantangan. Adrenalin selalu naik. Degup jantung selalu lebih cepat.
Pengharapan terhadap Yang Mahakuasa tidak pernah terlupakan. Pikiran selalu
difokuskan untuk selalu ingat kepada-Nya. Takut, kalau suatu saat hilaf, Dia
akan melupakanku. Kemudian, aku dibiarkan-Nya sendirian menjalani kehidupan di
dunia yang asing ini. Naudzubillah.
Aku memang belum mahir menjadi perantau. Aku yakin, kamu
lebih piawai dariku. Namun, aku mau berbagi caraku bertahan di tanah rantau. Berdasarkan
pengalamanku, ada perasaan-perasaan asing yang muncul setelah menjadi perantau.
Pertama, kalau kamu ingin
pulang, wajar. Setiap orang yang merantau, meskipun sudah lama, pasti pernah
sangat ingin pulang, berkumpul dengan keluarga. Namun, akan selalu ada saat
yang tepat yang Allah sediakan untuk berkumpul dengan keluargamu. Tahan sedikit
lebih lama, tunggu sampai waktu cutimu bisa kamu maksimalkan. Untuk mengalihkan
hasrat itu, cobalah menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal yang kau sukai.
Atau, ciptakanlah lingkungan yang membuatmu nyaman sehingga keinginan itu
teralihkan. Misalnya, aku selalu menanamkan bahwa di tanah rantau, aku tidak
sendirian. Aku memiliki keluarga baru yang Allah pilihkan untukku. Mereka
adalah saudara yang Allah rencanakan kehadirannya untuk melengkapi kehidupanku
di tanah rantau. Aku menganggap mereka sebagai keluargaku. Berprasangka positif
bahwa mereka juga menganggapku sebagai keluarga.
Kedua, tidak nyaman
dengan lingkungan baru. Culture shock pasti
kamu rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat baru. Apalagi,
jika tempat tersebut memiliki latar belakang budaya, suku, dan ras yang berbeda
denganmu. Perbedaan memang tidak selalu baik, tapi cobalah untuk menerimanya.
Kamu tidak bisa memilih untuk tidak menerima perbedaan. Kamu akan tenggelam
dalam ketidakberdayaan jika kamu tidak mau menerimanya. Ambil hikmah dari
setiap perbedaan yang kamu temui. Allah-lah yang menciptakan keberagaman
terhadap makhluk-Nya. Anggaplah semuanya sebagai bonus untukmu. Allah ingin
memperlihatkan kepadamu bahwa kehidupan lebih luas dan kompleks daripada yang
kamu bayangkan. Bahkan, yang benar menurut budaya sukumu belum tentu benar di
tempat rantaumu. Kamu akan lebih menghargai keberagaman. Toleransimu akan
tumbuh dengan sendirinya. Yang terpenting, kamu akan semakin tawadhu, menyadari bahwa hanya Allah
Yang Mahabesar. Tidak ada yang mampu menyaingi-Nya dalam hal apa pun. Culture shock tidak akan menjadi
hambatan untukmu.
Ketiga, kesulitan mengatur
kehidupan. Aku mengalami kesulitan dalam mengatur pola hidupku. Jujur, semuanya
berjalan terlalu baik ketika aku di rumah. Mau makan, tinggal makan. Tidak
perlu aku berpusing ria menentukan menu makanan. Namun, merantau artinya kamu memiliki
pakasaan untuk mampu memenuhi dan melakukan semuanya sendiri. Setiap hari, tiga
kali dalam sehari, kamu harus memilih menu makanan sendiri. Mengurus urusan
rumah tanggamu sendiri. Rumah tangga bukan berarti hanya untukmu yang sudah
menikah. Menurutku, seorang perantau, meskipun belum menikah juga harus mengurusi
urusan rumah tangganya sendiri. Pasti ada sulit yang harus dihadapi, tapi
semuanya akan menjadi pengalaman terbaik dalam hidupmu. Aku yakin, kamu akan
mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalahmu. Di situlah pendewasaan
dirimu mulai tumbuh. Kemandirian perlahan akan berkembang dalam dirimu. Itulah
yang aku rasakan. Meski ada tekanan, tapi kamu tetap akan melakukan pekerjaan
terbaik menurut versimu. InsyaAllah.
Keempat, ingin mencari
kesibukan lain. Selain bekerja, aku selalu ingin melakukan kegiatan lain yang
bisa mengalihkan perhatianku. Semua orang punya ketertarikan yang berbeda
terhadap sesuatu. Aku, misalnya. Bagi orang introvert sepertiku, menikmati
waktu sendiri adalah cara terbaik untuk mengisi daya energiku. Dibanding
mengikuti kegiatan-kegiatan yang mengharuskanku berinteraksi dengan orang
banyak, aku memilih membaca, menulis, menonton film, atau menggambar sebagai
kesibukanku. Menyenangkan karena aku biasanya akan merasa sangat bersemangat
setelah melakukan kegiatan itu. Hasilnya, kehidupanku di tanah rantau menjadi
tidak terlalu menyedihkan. Ada bagian yang kusenangi dalam setiap hari-hariku.
Dalam hal ini, aku menyarankanmu untuk belajar mengenali dirimu sendiri. Dengan
begitu, kamu akan mengetahui apa saja yang menyenangkan dan dapat mengisi
energi semangatmu. Awalnya kamu mungkin merasa kesulitan dan merasa kurang
cocok dengan pilihan kegiatan yang kamu lakukan. Namun, semakin kamu meyakinkan
dirimu sendiri, kamu akan semakin menyadari sisi positif dari kegiatan yang
kamu pilih. Aku sangat merasakannya.
Kelima, merasa kosong,
hampa, hilang. Kadang, kalau sedang berada pada titik terendah dalam hidup, aku
merasa sendiri. Seolah tidak ada lagi yang bisa menjadi sandaran. Keluarga di
rumah seperti orang asing, apalagi orang-orang di tanah rantau. Namun, saat
itu, kamu akan semakin menyadari hakikat kehidupan. Hanya ada Allah tempatmu
bersandar. Tidak ada yang lebih mengerti dirimu, kecuali Dia. Allah tidak akan
meninggalkanmu selama kamu tidak meninggalkan-Nya. Kamu akan semakin menyadari
bahwa kelak kamu akan mati, sendiri. Tidak ada keluarga yang akan menemanimu di
liang kuburmu. Tidak akan ada yang bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang
kamu lakukan selain dirimu sendiri. Kamu adalah dirimu sendiri. Kuat dan besarnya
keimananmu kepada Allah adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkanmu sekarang
dan kelak. Jadi, ini adalah ajangmu untuk berlatih. Tentunya, haya akan kamu
peroleh di tanah rantau.
Menjadi seorang perantau adalah berkah tersembunyi yang
Allah berikan kepada hamba-Nya yang terpilih. Banyak hal menjadi lebih berharga
di mata dan pikiranmu. Tidak perlu menjadi sama dengan orang-orang di
sekitarmu. Jadi berbeda dengan rida-Nya adalah cara terbaik yang bisa kamu lakukan
dalam menjalani hidup. Mungkin kamu lelah karena banyaknya tantangan yang harus
dihadapi. Akan tetapi, kamu akan menjadi lebih baik karenanya. Kuncinya, jangan
pernah melupakan-Nya. Niatkan semuanya karena Allah, hanya untuk beribadah
kepada-Nya. Semoga Allah selalu meridai
setiap langkah dan keputusan yang kamu ambil. Aamiin. Semangat rantau dari Kota
Cantik Palangka Raya. (Palangka Raya, 22 Maret 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar