Minggu, 22 Maret 2020

Perjuangan di Tanah Rantau


Allah Maha Mengetahui tempat terbaik bagi hamba-Nya. Kamu tidak akan selamanya berada di zona nyaman hidupmu. Roda kehidupan pasti berputar. Ada saatnya kamu harus mengalah kepada kehidupan dan mengikuti alur yang sudah ditetapkan oleh Sang Maha Pengatur skenario kehidupan. Aku pun sedang berusaha menerima semua yang menjadi suratan takdirku.
            Merantau tidak pernah menjadi tujuan hidupku. Prinsip keluargaku, kalau bisa, bekerja di tempat yang paling dekat dengan rumah. Tidak usah membuat semuanya menjadi lebih rumit. Memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi harus memikirkan cara mendekatkan jarak. Namun, Allah mengetahui yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Dia mengetahui kekurangan terbesar keluargaku. Kami terlalu meremehkan kebersamaan. Rasanya, bisa berkumpul dengan orang-orang terkasih merupakan hal yang murah, tidak bermakna. Kami pun dibuat-Nya jauh. Aku dipilihkan-Nya tempat untuk bekerja. Berjarak. Sejak itu, aku menjadi seorang perantau. Pertemuanku dengan keluargaku tidak murah lagi. Alhamdulillah.
            Ternyata, menjadi pejuang di tanah orang tidak semudah yang dibayangkan. Ada perjuangan-perjuangan yang harus disesuaikan. Maksudku, kamu tidak bisa lagi berpangku tangan, berharap bantuan langsung dari keluargamu. Semuanya menjadi tanggung jawabmu sendiri. Setiap pilihan dan keputusan harus kamu tentukan sendiri. Bahkan, konsekuensinya pun kamu yang merasakan sendiri. Aku, jujur saja, sangat terkejut dengan setiap perjalanan hidup yang kulaului sekarang. Penuh dengan tantangan. Adrenalin selalu naik. Degup jantung selalu lebih cepat. Pengharapan terhadap Yang Mahakuasa tidak pernah terlupakan. Pikiran selalu difokuskan untuk selalu ingat kepada-Nya. Takut, kalau suatu saat hilaf, Dia akan melupakanku. Kemudian, aku dibiarkan-Nya sendirian menjalani kehidupan di dunia yang asing ini. Naudzubillah.
            Aku memang belum mahir menjadi perantau. Aku yakin, kamu lebih piawai dariku. Namun, aku mau berbagi caraku bertahan di tanah rantau. Berdasarkan pengalamanku, ada perasaan-perasaan asing yang muncul setelah menjadi perantau.
Pertama, kalau kamu ingin pulang, wajar. Setiap orang yang merantau, meskipun sudah lama, pasti pernah sangat ingin pulang, berkumpul dengan keluarga. Namun, akan selalu ada saat yang tepat yang Allah sediakan untuk berkumpul dengan keluargamu. Tahan sedikit lebih lama, tunggu sampai waktu cutimu bisa kamu maksimalkan. Untuk mengalihkan hasrat itu, cobalah menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal yang kau sukai. Atau, ciptakanlah lingkungan yang membuatmu nyaman sehingga keinginan itu teralihkan. Misalnya, aku selalu menanamkan bahwa di tanah rantau, aku tidak sendirian. Aku memiliki keluarga baru yang Allah pilihkan untukku. Mereka adalah saudara yang Allah rencanakan kehadirannya untuk melengkapi kehidupanku di tanah rantau. Aku menganggap mereka sebagai keluargaku. Berprasangka positif bahwa mereka juga menganggapku sebagai keluarga.
Kedua, tidak nyaman dengan lingkungan baru. Culture shock pasti kamu rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat baru. Apalagi, jika tempat tersebut memiliki latar belakang budaya, suku, dan ras yang berbeda denganmu. Perbedaan memang tidak selalu baik, tapi cobalah untuk menerimanya. Kamu tidak bisa memilih untuk tidak menerima perbedaan. Kamu akan tenggelam dalam ketidakberdayaan jika kamu tidak mau menerimanya. Ambil hikmah dari setiap perbedaan yang kamu temui. Allah-lah yang menciptakan keberagaman terhadap makhluk-Nya. Anggaplah semuanya sebagai bonus untukmu. Allah ingin memperlihatkan kepadamu bahwa kehidupan lebih luas dan kompleks daripada yang kamu bayangkan. Bahkan, yang benar menurut budaya sukumu belum tentu benar di tempat rantaumu. Kamu akan lebih menghargai keberagaman. Toleransimu akan tumbuh dengan sendirinya. Yang terpenting, kamu akan semakin tawadhu, menyadari bahwa hanya Allah Yang Mahabesar. Tidak ada yang mampu menyaingi-Nya dalam hal apa pun. Culture shock tidak akan menjadi hambatan untukmu.
Ketiga, kesulitan mengatur kehidupan. Aku mengalami kesulitan dalam mengatur pola hidupku. Jujur, semuanya berjalan terlalu baik ketika aku di rumah. Mau makan, tinggal makan. Tidak perlu aku berpusing ria menentukan menu makanan. Namun, merantau artinya kamu memiliki pakasaan untuk mampu memenuhi dan melakukan semuanya sendiri. Setiap hari, tiga kali dalam sehari, kamu harus memilih menu makanan sendiri. Mengurus urusan rumah tanggamu sendiri. Rumah tangga bukan berarti hanya untukmu yang sudah menikah. Menurutku, seorang perantau, meskipun belum menikah juga harus mengurusi urusan rumah tangganya sendiri. Pasti ada sulit yang harus dihadapi, tapi semuanya akan menjadi pengalaman terbaik dalam hidupmu. Aku yakin, kamu akan mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalahmu. Di situlah pendewasaan dirimu mulai tumbuh. Kemandirian perlahan akan berkembang dalam dirimu. Itulah yang aku rasakan. Meski ada tekanan, tapi kamu tetap akan melakukan pekerjaan terbaik menurut versimu. InsyaAllah.
Keempat, ingin mencari kesibukan lain. Selain bekerja, aku selalu ingin melakukan kegiatan lain yang bisa mengalihkan perhatianku. Semua orang punya ketertarikan yang berbeda terhadap sesuatu. Aku, misalnya. Bagi orang introvert sepertiku, menikmati waktu sendiri adalah cara terbaik untuk mengisi daya energiku. Dibanding mengikuti kegiatan-kegiatan yang mengharuskanku berinteraksi dengan orang banyak, aku memilih membaca, menulis, menonton film, atau menggambar sebagai kesibukanku. Menyenangkan karena aku biasanya akan merasa sangat bersemangat setelah melakukan kegiatan itu. Hasilnya, kehidupanku di tanah rantau menjadi tidak terlalu menyedihkan. Ada bagian yang kusenangi dalam setiap hari-hariku. Dalam hal ini, aku menyarankanmu untuk belajar mengenali dirimu sendiri. Dengan begitu, kamu akan mengetahui apa saja yang menyenangkan dan dapat mengisi energi semangatmu. Awalnya kamu mungkin merasa kesulitan dan merasa kurang cocok dengan pilihan kegiatan yang kamu lakukan. Namun, semakin kamu meyakinkan dirimu sendiri, kamu akan semakin menyadari sisi positif dari kegiatan yang kamu pilih. Aku sangat merasakannya.
Kelima, merasa kosong, hampa, hilang. Kadang, kalau sedang berada pada titik terendah dalam hidup, aku merasa sendiri. Seolah tidak ada lagi yang bisa menjadi sandaran. Keluarga di rumah seperti orang asing, apalagi orang-orang di tanah rantau. Namun, saat itu, kamu akan semakin menyadari hakikat kehidupan. Hanya ada Allah tempatmu bersandar. Tidak ada yang lebih mengerti dirimu, kecuali Dia. Allah tidak akan meninggalkanmu selama kamu tidak meninggalkan-Nya. Kamu akan semakin menyadari bahwa kelak kamu akan mati, sendiri. Tidak ada keluarga yang akan menemanimu di liang kuburmu. Tidak akan ada yang bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang kamu lakukan selain dirimu sendiri. Kamu adalah dirimu sendiri. Kuat dan besarnya keimananmu kepada Allah adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkanmu sekarang dan kelak. Jadi, ini adalah ajangmu untuk berlatih. Tentunya, haya akan kamu peroleh di tanah rantau.
            Menjadi seorang perantau adalah berkah tersembunyi yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang terpilih. Banyak hal menjadi lebih berharga di mata dan pikiranmu. Tidak perlu menjadi sama dengan orang-orang di sekitarmu. Jadi berbeda dengan rida-Nya adalah cara terbaik yang bisa kamu lakukan dalam menjalani hidup. Mungkin kamu lelah karena banyaknya tantangan yang harus dihadapi. Akan tetapi, kamu akan menjadi lebih baik karenanya. Kuncinya, jangan pernah melupakan-Nya. Niatkan semuanya karena Allah, hanya untuk beribadah kepada-Nya. Semoga Allah selalu  meridai setiap langkah dan keputusan yang kamu ambil. Aamiin. Semangat rantau dari Kota Cantik Palangka Raya. (Palangka Raya, 22 Maret 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar