Apakah
kamu pernah membandingkan pencapaian hidupmu dengan orang lain? Pernah merasa
sangat tidak percaya diri terhadap apa pun? Aku pernah.
Kehidupan
memang selalu berbeda bagi setiap orang. Bagi kamu dan aku, kehidupan adalah
sisi yang berbeda. Aku memiliki cerita kehidupanku sendiri dengan diriku
sendiri sebagai tokoh utamanya. Kamu pun pasti demikian. Namun, caramu
memandang dunia ini sangat menentukan penokohan seperti apa yang kamu buat.
Jalan cerita yang kamu jalani pun sangat ditentukan oleh sejauh mana
penerimaanmu terhadap dunia. Jika dunia yang kamu pandang adalah bagian yang
luas dan mengesankan, semuanya akan menjadi lebih mudah dan indah. Berbeda
halnya jika kamu menilai dunia sebagai tempat yang suram, penuh kepalsuan.
Di
dunia yang katanya panggung sandiwara ini, kamu akan menemukan beragam
pementasan. Semuanya menawarkan cerita yang menarik dengan sensasi yang
mengesankan. Namun, hati-hati dalam membeli tiket. Kamu tidak akan pernah bisa
me-refund tiket yang sudah kamu beli,
bahkan satu rupiah. Kecuali merelakan semuanya, kamu tidak akan mendapatkan apa
pun. Seandainya kamu memilih tiket yang benar, kamu tidak akan menyesal. Namun,
bisa jadi cerita yang ditampilkan tidak menarik, monoton, mengenaskan. Tokoh
yang ditampilkan sangat memprihatinkan, penuh kesengsaraan. Jangan banyak
mengeluh, nikmati saja. Salahmu sendiri memilih tiket yang benar.
Tentu
saja, pilihanmu tidak akan pernah sama dengan pilihan orang lain. Kamu memiliki
waktumu sendiri, begitupun denganku. Kita mungkin bertemu pada satu titik
waktu, tapi tidak mutlak. Kita mungkin membayar untuk cerita yang sama, tapi
kecil kemungkinannya akan duduk berdampingan. Bahkan, untuk sekadar saling
jumpa, tidak ada yang dapat memastikannya. Kamu mungkin mendapat kursi terbaik.
Dari tempatmu, pertunjukan terlihat dengan sempurna. Tidak ada bagian yang tertutup
dinding. Namun, tidak ada jaminan terhadapku. Aku sepertinya ingin berada di
posisimu. Kursiku terlalu belakang sehingga cerita menjadi remang, gamang. Tempatmu
adalah yang aku dambakan. Caramu menikmati cerita menjadi alasanku mengingkari
kenyataan bahwa kita sedang menikmati cerita yang sama. Aku menyesal, mengapa
Tuhan tidak membiarkanku bangun lebih awal daripada kamu? Padahal, aku bisa
saja mengambil alih posisimu. Aku akan mengakui waktumu sebagai milikku.
Rasanya, kamu memang tidak pantas membuka mata lebih awal daripada aku. Namun,
aku tahu bahwa waktuku tidak mungkin menjadi waktumu. Setiap orang memiliki
waktunya sendiri-sendiri. Aku pasti tergolong manusia yang serakah jika tetap
memaksakan kehendakku. Padahal, kamu juga bagian dari cerita kehidupanmu. Kamu
ada dengan duniamu. Cerita hidupmu juga pasti menarik menurut versimu. Aku tahu
karena aku sadar bahwa kamu ada. Kamu ada karena memang ada sebagaimana adanya
dirimu. Ah, rumitnya. Aku telanjur mengada-ada semuanya. Intinya, aku tidak mau
lagi mengurusi waktumu. Aku pasti lebih cepat dalam beberapa hal daripadamu dan
lebih lambat dalam hal lain. Namun, aku tetap aku dan akan selamanya menjadi
aku. Aku akan tetap setia pada waktuku. (Palangka Raya, 23 Maret 2020)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar