Senin, 23 Maret 2020

Setiap Orang Punya Waktunya Masing-Masing


Apakah kamu pernah membandingkan pencapaian hidupmu dengan orang lain? Pernah merasa sangat tidak percaya diri terhadap apa pun? Aku pernah.

Kehidupan memang selalu berbeda bagi setiap orang. Bagi kamu dan aku, kehidupan adalah sisi yang berbeda. Aku memiliki cerita kehidupanku sendiri dengan diriku sendiri sebagai tokoh utamanya. Kamu pun pasti demikian. Namun, caramu memandang dunia ini sangat menentukan penokohan seperti apa yang kamu buat. Jalan cerita yang kamu jalani pun sangat ditentukan oleh sejauh mana penerimaanmu terhadap dunia. Jika dunia yang kamu pandang adalah bagian yang luas dan mengesankan, semuanya akan menjadi lebih mudah dan indah. Berbeda halnya jika kamu menilai dunia sebagai tempat yang suram, penuh kepalsuan.

Di dunia yang katanya panggung sandiwara ini, kamu akan menemukan beragam pementasan. Semuanya menawarkan cerita yang menarik dengan sensasi yang mengesankan. Namun, hati-hati dalam membeli tiket. Kamu tidak akan pernah bisa me-refund tiket yang sudah kamu beli, bahkan satu rupiah. Kecuali merelakan semuanya, kamu tidak akan mendapatkan apa pun. Seandainya kamu memilih tiket yang benar, kamu tidak akan menyesal. Namun, bisa jadi cerita yang ditampilkan tidak menarik, monoton, mengenaskan. Tokoh yang ditampilkan sangat memprihatinkan, penuh kesengsaraan. Jangan banyak mengeluh, nikmati saja. Salahmu sendiri memilih tiket yang benar.

Tentu saja, pilihanmu tidak akan pernah sama dengan pilihan orang lain. Kamu memiliki waktumu sendiri, begitupun denganku. Kita mungkin bertemu pada satu titik waktu, tapi tidak mutlak. Kita mungkin membayar untuk cerita yang sama, tapi kecil kemungkinannya akan duduk berdampingan. Bahkan, untuk sekadar saling jumpa, tidak ada yang dapat memastikannya. Kamu mungkin mendapat kursi terbaik. Dari tempatmu, pertunjukan terlihat dengan sempurna. Tidak ada bagian yang tertutup dinding. Namun, tidak ada jaminan terhadapku. Aku sepertinya ingin berada di posisimu. Kursiku terlalu belakang sehingga cerita menjadi remang, gamang. Tempatmu adalah yang aku dambakan. Caramu menikmati cerita menjadi alasanku mengingkari kenyataan bahwa kita sedang menikmati cerita yang sama. Aku menyesal, mengapa Tuhan tidak membiarkanku bangun lebih awal daripada kamu? Padahal, aku bisa saja mengambil alih posisimu. Aku akan mengakui waktumu sebagai milikku. Rasanya, kamu memang tidak pantas membuka mata lebih awal daripada aku. Namun, aku tahu bahwa waktuku tidak mungkin menjadi waktumu. Setiap orang memiliki waktunya sendiri-sendiri. Aku pasti tergolong manusia yang serakah jika tetap memaksakan kehendakku. Padahal, kamu juga bagian dari cerita kehidupanmu. Kamu ada dengan duniamu. Cerita hidupmu juga pasti menarik menurut versimu. Aku tahu karena aku sadar bahwa kamu ada. Kamu ada karena memang ada sebagaimana adanya dirimu. Ah, rumitnya. Aku telanjur mengada-ada semuanya. Intinya, aku tidak mau lagi mengurusi waktumu. Aku pasti lebih cepat dalam beberapa hal daripadamu dan lebih lambat dalam hal lain. Namun, aku tetap aku dan akan selamanya menjadi aku. Aku akan tetap setia pada waktuku. (Palangka Raya, 23 Maret 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar