Rabu, 18 Maret 2020

Dalam Mimpinya, Aku Mati


“Apa kabarmu di sana?” tanya seorang saudara kepadaku. Tidak biasanya dia mengirimiku pesan Whatsapp seperti itu. Kami memang sudah lama tidak bertemu, tapi kami masih berbagi informasi mengenai kabar masing-masing. Aneh. Apa yang mendorongnya mengajukan pertanyaan itu? Aku terganggu.
Mimpi. Bagi sebagian orang, mimpi hanyalah bunga tidur, tapi tidak baginya. Saudaraku ini lahir hampir bersamaan denganku. Kami lahir pada bulan dan tahun yang sama, hanya tanggal yang berbeda. Dia lahir tanggal 15, sementara aku tanggal 2. Memang, aku yang lebih tua secara usia, tetapi dia jauh lebih matang secara pemikiran. Maksudku, dia lebih pandai mengatur urusan rumah tangga. Dia dipaksa menua oleh kehidupannya, jalan hidup yang dia putuskan sendiri. Kuakui, tidak mudah menjadi dirinya. Kehidupannya tidak berjalan lancar sejak awal. Sejak dilahirkan, dia menderita berbagai penyakit. Akibatnya, dia harus berhenti dan mengulang sekolah dasarnya. Kami mulai sekolah dasar bersama. Namun, menginjak kelas dua, dia berhenti. Sakitnya menjadi penghambat. Kemudian, dia mengulang kelas satu sekolah dasarnya. Dia menjadi juniorku di sekolah. Pasti tidak mudah baginya. Aku yakin.
Masa-masa sekolah menengahnya, tidak kuketahui secara pasti. Untungnya, sakitnya perlahan sembuh dengan sendirinya. Dia menjadi lebih ceria. Namun, dia terbuai arus pergaulan. Puncaknya terjadi saat memasuki masa puber. Aku memang tidak tergiring arus, tapi dia memilih untuk menikmati masa-masa itu. Karena pilihannya itu, akhirnya dia menikah pada usia yang sangat muda. Padahal, aku masih belum mengenal dunia ini. Semuanya masih terlihat terang dan gemerlap. Prinsipku saat itu, menikah pada usia muda bukanlah hal yang baik. Memang, di satu sisi pernikahan dapat menghindarkan dari dosa dan perbuatan zina. Namun, menikah muda artinya memilih untuk mengarungi bahtera yang ilmu untuk mengemudikannya belum mumpuni. Bagaimana caranya menjadi seorang nakhoda dan membawa bahtera ke tujuan kalau cara mengendarainya saja tidak tahu. Aku tidak mau menghakimi. Aku tidak mau ikut campuri. Namun, Sang Pemilik bahtera menunjukkan kuasa-Nya. Bahtera itu dibiarkan-Nya oleng dan hancur. Pasangan itu dirubuhkan oleh ego dan ketidakpercayaan. Padahal, aku masih menikmati mencari buku yang tepat untuk mempelajari cara mengemudikan bahtera.
Memang, praktik langsung di lapangan adalah cara yang paling efektif untuk belajar. Dia menjadi sangat jauh lebih mahir dariku. Pengalaman mengajarkannya banyak hal. Aku masih tidak tahu diri. Hingga dia kembali menemukan tambatan hati dan menikah lagi, aku masih belajar untuk mengarungi lautan kehidupan. Aku bersyukur, sekarang dia sudah lebih matang. Pada usiaku yang sekarang, aku sudah mulai memahami perbedaan antara benar dan salah. Aku yakin, dia pun demikian. Terkait mimpi, dia pasti punya keyakinan sendiri. Itulah alasannya mengirimiku pesan pagi ini. Ternyata, di tengah mewabahnya penyakit karena virus corona, dia memimpikanku. Katanya, aku sangat menyedihkan dalam mimpinya. Aku dipanggil Sang Pemilik Jiwa. Ragaku dikuburkan di sebelah kuburan kakekku. Padahal, aku yakin sekali, sudah tidak ada tanah kosong di sebelah kuburan kakekku itu. Pemakaman umum di sana memang sudah terlalu banyak menimbun raga. Perlu ada pembaruan lahan. Siapa yang mau menyumbang? Barangkali kamu berencana mewakafkan sebagian tanah yang kamu miliki.
Dalam mimpinya, aku meninggal. Tidak ada yang salah dengan mimpinya. Aku di sini memang sudah mati. Impianku sudah tidak lagi menyala seperti dulu. Mungkin, ini adalah cara Sang Penguasa Alam Semesta untuk mengingatkanku bahwa hidup memang perlu untuk selalu dihidupkan. Tidak mungkin makhluk hidup selamanya. Harus selalu ada mimpi yang akan kekal. Setidaknya, harus ada yang aku tinggalkan sebagai ladang amalku kelak. Aku harus membangkitkan kembali semangatku, mimpiku. Pasti tidak mudah, tapi aku harus mencoba. Kalau aku mau, akan selalu ada jalan menuju kemudahan. Tidak ada yang sulit di dunia ini. Kematianlah yang akan membuat semuanya menjadi sulit. Dunia dan kematian adalah dua sisi mata uang. Kalau telanjur berada di sisi mata uang yang satu, tidak ada kesempatan untuk kembali. Semua sudah menjadi bubur. (Palangka Raya, 17 Maret 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar