“Apa
kabarmu di sana?” tanya seorang saudara kepadaku. Tidak biasanya dia
mengirimiku pesan Whatsapp seperti itu. Kami memang sudah lama tidak bertemu,
tapi kami masih berbagi informasi mengenai kabar masing-masing. Aneh. Apa yang
mendorongnya mengajukan pertanyaan itu? Aku terganggu.
Mimpi.
Bagi sebagian orang, mimpi hanyalah bunga tidur, tapi tidak baginya. Saudaraku
ini lahir hampir bersamaan denganku. Kami lahir pada bulan dan tahun yang sama,
hanya tanggal yang berbeda. Dia lahir tanggal 15, sementara aku tanggal 2.
Memang, aku yang lebih tua secara usia, tetapi dia jauh lebih matang secara
pemikiran. Maksudku, dia lebih pandai mengatur urusan rumah tangga. Dia dipaksa
menua oleh kehidupannya, jalan hidup yang dia putuskan sendiri. Kuakui, tidak
mudah menjadi dirinya. Kehidupannya tidak berjalan lancar sejak awal. Sejak
dilahirkan, dia menderita berbagai penyakit. Akibatnya, dia harus berhenti dan
mengulang sekolah dasarnya. Kami mulai sekolah dasar bersama. Namun, menginjak
kelas dua, dia berhenti. Sakitnya menjadi penghambat. Kemudian, dia mengulang
kelas satu sekolah dasarnya. Dia menjadi juniorku di sekolah. Pasti tidak mudah
baginya. Aku yakin.
Masa-masa
sekolah menengahnya, tidak kuketahui secara pasti. Untungnya, sakitnya perlahan
sembuh dengan sendirinya. Dia menjadi lebih ceria. Namun, dia terbuai arus
pergaulan. Puncaknya terjadi saat memasuki masa puber. Aku memang tidak
tergiring arus, tapi dia memilih untuk menikmati masa-masa itu. Karena
pilihannya itu, akhirnya dia menikah pada usia yang sangat muda. Padahal, aku
masih belum mengenal dunia ini. Semuanya masih terlihat terang dan gemerlap.
Prinsipku saat itu, menikah pada usia muda bukanlah hal yang baik. Memang, di
satu sisi pernikahan dapat menghindarkan dari dosa dan perbuatan zina. Namun, menikah
muda artinya memilih untuk mengarungi bahtera yang ilmu untuk mengemudikannya
belum mumpuni. Bagaimana caranya menjadi seorang nakhoda dan membawa bahtera ke
tujuan kalau cara mengendarainya saja tidak tahu. Aku tidak mau menghakimi. Aku
tidak mau ikut campuri. Namun, Sang Pemilik bahtera menunjukkan kuasa-Nya.
Bahtera itu dibiarkan-Nya oleng dan hancur. Pasangan itu dirubuhkan oleh ego
dan ketidakpercayaan. Padahal, aku masih menikmati mencari buku yang tepat
untuk mempelajari cara mengemudikan bahtera.
Memang,
praktik langsung di lapangan adalah cara yang paling efektif untuk belajar. Dia
menjadi sangat jauh lebih mahir dariku. Pengalaman mengajarkannya banyak hal.
Aku masih tidak tahu diri. Hingga dia kembali menemukan tambatan hati dan
menikah lagi, aku masih belajar untuk mengarungi lautan kehidupan. Aku
bersyukur, sekarang dia sudah lebih matang. Pada usiaku yang sekarang, aku
sudah mulai memahami perbedaan antara benar dan salah. Aku yakin, dia pun
demikian. Terkait mimpi, dia pasti punya keyakinan sendiri. Itulah alasannya
mengirimiku pesan pagi ini. Ternyata, di tengah mewabahnya penyakit karena
virus corona, dia memimpikanku.
Katanya, aku sangat menyedihkan dalam mimpinya. Aku dipanggil Sang Pemilik
Jiwa. Ragaku dikuburkan di sebelah kuburan kakekku. Padahal, aku yakin sekali,
sudah tidak ada tanah kosong di sebelah kuburan kakekku itu. Pemakaman umum di
sana memang sudah terlalu banyak menimbun raga. Perlu ada pembaruan lahan.
Siapa yang mau menyumbang? Barangkali kamu berencana mewakafkan sebagian tanah
yang kamu miliki.
Dalam
mimpinya, aku meninggal. Tidak ada yang salah dengan mimpinya. Aku di sini
memang sudah mati. Impianku sudah tidak lagi menyala seperti dulu. Mungkin, ini
adalah cara Sang Penguasa Alam Semesta untuk mengingatkanku bahwa hidup memang
perlu untuk selalu dihidupkan. Tidak mungkin makhluk hidup selamanya. Harus
selalu ada mimpi yang akan kekal. Setidaknya, harus ada yang aku tinggalkan
sebagai ladang amalku kelak. Aku harus membangkitkan kembali semangatku,
mimpiku. Pasti tidak mudah, tapi aku harus mencoba. Kalau aku mau, akan selalu
ada jalan menuju kemudahan. Tidak ada yang sulit di dunia ini. Kematianlah yang
akan membuat semuanya menjadi sulit. Dunia dan kematian adalah dua sisi mata
uang. Kalau telanjur berada di sisi mata uang yang satu, tidak ada kesempatan
untuk kembali. Semua sudah menjadi bubur. (Palangka Raya, 17 Maret 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar