Palangka Raya kota cantik. Kota ini menjadi tempat pertamaku menginjakkan
kaki di luar pulau Jawa. Tidak pernah sekali pun tebersit dalam benakku untuk
berkunjung ke tempat ini, apalagi untuk tinggal dan menetap. Bahkan, aku tidak
pernah benar-benar mengetahui di mana letak kota ini di peta Indonesia. Apa
kamu tahu bahwa Palangka Raya adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah? Apa
kamu peduli di mana letak Kalimantan Tengah di peta?
Palangka Raya menarikku untuk menjadi bagian dari
penghuninya. 2018, aku mengikuti seleksi CPNS. Inginku bekerja sesuai dengan
bidangku selama kuliah. Kuputuskan untuk mengambil bidang itu, tetapi daerahnya
belum aku putuskan. Ternyata, Kalimantan Tengah yang kupilih. Dengan
ketidakpercayaan pada diriku sendiri, aku putuskan untuk mengambil formasi di
Kalimantan Tengah. Sungguh, meski nilaiku cukup bagus semasa kuliah, tapi aku
tidak cukup percaya diri. Bagiku, takdir manusia tidak ditentukan oleh IPK.
Kamu mampu meski IPK-mu tidak tinggi. Jangan berkecil hati.
2018 akhir menjadi saksi. Aku harus percaya pada diriku
sendiri. Ternyata, aku mampu bertanggung jawab atas pilihan yang telah
kutentukan. Aku dinyatakan lolos. Mei 2019, aku kembali ditantang untuk
mempertanggungjawabkan semuanya. Saatnya bagiku untuk pergi, menginjakkan kaki
di Kota Cantik Palangka Raya. Gamang, bimbang, tapi aku harus pergi. Padahal,
bisa saja aku meninggalkan semuanya dan tetap di tempatku sekarang, di zona
aman dan nyamanku. Namun, aku tidak bisa. Aku harus pergi.
Berat memang meninggalkan tanah satu-satunya yang
dikenal. Meski begitu, aku tetap harus merasakan menginjakkan kaki di tanah
lain, tanah baru yang asing. Benar saja, tanah itu sangat hambar. Aku tidak
mengenalinya. Kupikir aku telah dibuang ke tempat tanpa kehidupan, atau mungkin
tidak.
Palangka Raya tidak seperti Sumedang, apalagi Bandung,
apalagi Jakarta. Palangka Raya memang kota cantik. Terlalu cantik sehingga
lebih baik tidak terhanyut di dalamnya. Seperti halnya perempuan cantik,
Palangka Raya menyimpan banyak misteri. Ia membawa siapa pun yang dikehendaki.
Tidak peduli kamu mengenalnya atau tidak, ia akan tetap memilihmu jika ia
menginginkan. Sungguh, kamu tidak akan diberi kesempatan untuk memilih, bahkan
menolak saat ia sudah memanggilmu, menemuinya. Walaupun kamu bersikukuh
menghindari, tapi ia selalu punya cara menjemputmu dengan cara terbaiknya. Aku
pun tidak mampu menghindarinya. Sungguh. (Palangka Raya, 1 Maret 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar