Bagimana
rasanya pulang? Mungkin akan menjadi sangat hambar. Padahal, ini akan menjadi
kali pertamaku menginjakkan kaki setelah berperang dengan nurani. Kalau tidak
pernah berjanji pada diri untuk berjuang lebih keras dari sebelumnya, tidak
ingin aku mengorbankan masa mudaku di sini. Memuakkan hidup dengan keegoisan.
Sungguh.
Memang
ragu mengiringi keberangkatanku, tapi aku tidak menyangka dampaknya bisa
seperti ini. Tujuanku hanya satu, memberikan kebahagiaan bagi mereka yang ingin
kuperjuangkan. Meski memilukan, kesedihan akan segera berakhir seiring dengan
waktu yang akan berlalu. Benar saja, tidak perlu lama untuk mengobati luka
karena goresan harapan. Mereka yang kutinggalkan mampu memulihkan luka dengan
cepat. Namun, tidak dengan diriku. Lukaku justru semakin dalam dan menyisakan
sakit yang sulit dihilangkan. Pengharapan tidak mampu menyembuhkanku. Doa
mereka tidak memberikan kontribusi pada penyembuhan luka batinku.
Dalam
kerasnya batu kerikil, aku harus berjuang sendirian. Mereka yang selalu berkata
mendukung, memang hanya bisa melakukannya dari belakang. Aku harus tetap
menerima konsekuensi karena batu kerikil yang kuinjak. Aku harus memilih
sendiri sandal atau sepatu yang akan kugunakan untuk menghindari luka karena
kerikil. Aku harus menentukan langkah dengan mantap agar kerikil tidak
membuatku tersandung. Padahal, kerikil ini sangat liar. Aku tidak pernah
menemukan semua ini di kehidupanku sebelumnya. Kerikil di tempat ini dipenuhi
duri tajam. Sekali kau kena tusukannya, kau harus menerima sakit karena duri
selamanya. Kau tidak akan mampu menyembuhkannya. Bayangkan.
Mereka
yang kau perjuangkan mungkin juga menangis sendu karena menahan rindu. Akan tetapi,
aku tidak mau terlalu percaya diri. Siapa yang lebih mengasihani diri selain
Sang Pemilik Hati? Adakah manusia yang rela memberikan jantungnya dan mati
setelahnya? Mungkin ada, tapi aku tidak dapat memastikannya atas mereka. Tidak
akan ada yang dirugikan jika aku dipanggil Sang Pemilik Ruh. Namun, mungkin
yang menyesal akan banyak.
Kerikil
memang akan selamanya jadi kerikil. Mereka mungkin terkikis oleh air hujan yang
turun dari genting secara berkelanjutan dan bergerombol. Akan tetapi, tidak ada
air hujan yang setia. Mereka sealu terkalahkan oleh cahaya yang menelisik,
terik matahari. Oleh karena itu, kerikil akan selamanya tajam. Membuat luka
pada siapa pun yang mengusik keberadaanya, daerah kekuasaannya.
***
“Tuhan tidak akan meninggalkanmu sendirian, bahkan saat kau
merasa sendiri.”
Meski sendiri, aku selalu mengingat-Nya. Seorang bijak
pernah megatakan kepadaku bahwa kelak aku akan mati, sendiri. Tidak mungkin
minta ditemani. Tidak mungkin minta diberikan fasilitas dan tempat tidur
terbaik, di kuburan. Jadi, apa bedanya dengan keadaanku sekarang? Aku di sini, di
hutan belantara. Tidak ada petunjuk arah dan papan keterangan. Semuanya serba
baru dan penuh risiko. Semili saja salah melangkah, aku akan tersesat, menjadi
sampah masyarakat. Korban perbudakan kehidupan.
Penghuni hutan belantara tidak hanya hanoman, ada juga tingang.
Tidak seperti hanoman, tingang cenderung hitam. Yang menyeramkan, tingang suka
beradu peran. Teater adalah dunia mereka. Menjadi pelakon adalah kesenangan
tidak terhingga bagi mereka. Aku adalah badut penghibur pertunjukkan teater.
Tidak berhidung merah, tapi berwajah pasrah.
***
“Aku ingin pulang, tapi tidak kunjung kutemukan rumah. Aku
ingin memberikan kedamaian, tapi tidak kunjung mereka melihat beratnya
perjuangan. Aku ingin melihatmu tersenyum penuh kebanggaan, tapi kau hanya
mengukur dengan dunia. Aku ingin rumahku sendiri. Akan tetapi, aku belum
memilikinya.”
(Palangka Raya, 10 Maret 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar