Selasa, 10 Maret 2020

Pulang


Bagimana rasanya pulang? Mungkin akan menjadi sangat hambar. Padahal, ini akan menjadi kali pertamaku menginjakkan kaki setelah berperang dengan nurani. Kalau tidak pernah berjanji pada diri untuk berjuang lebih keras dari sebelumnya, tidak ingin aku mengorbankan masa mudaku di sini. Memuakkan hidup dengan keegoisan. Sungguh.
Memang ragu mengiringi keberangkatanku, tapi aku tidak menyangka dampaknya bisa seperti ini. Tujuanku hanya satu, memberikan kebahagiaan bagi mereka yang ingin kuperjuangkan. Meski memilukan, kesedihan akan segera berakhir seiring dengan waktu yang akan berlalu. Benar saja, tidak perlu lama untuk mengobati luka karena goresan harapan. Mereka yang kutinggalkan mampu memulihkan luka dengan cepat. Namun, tidak dengan diriku. Lukaku justru semakin dalam dan menyisakan sakit yang sulit dihilangkan. Pengharapan tidak mampu menyembuhkanku. Doa mereka tidak memberikan kontribusi pada penyembuhan luka batinku.
Dalam kerasnya batu kerikil, aku harus berjuang sendirian. Mereka yang selalu berkata mendukung, memang hanya bisa melakukannya dari belakang. Aku harus tetap menerima konsekuensi karena batu kerikil yang kuinjak. Aku harus memilih sendiri sandal atau sepatu yang akan kugunakan untuk menghindari luka karena kerikil. Aku harus menentukan langkah dengan mantap agar kerikil tidak membuatku tersandung. Padahal, kerikil ini sangat liar. Aku tidak pernah menemukan semua ini di kehidupanku sebelumnya. Kerikil di tempat ini dipenuhi duri tajam. Sekali kau kena tusukannya, kau harus menerima sakit karena duri selamanya. Kau tidak akan mampu menyembuhkannya. Bayangkan.
Mereka yang kau perjuangkan mungkin juga menangis sendu karena menahan rindu. Akan tetapi, aku tidak mau terlalu percaya diri. Siapa yang lebih mengasihani diri selain Sang Pemilik Hati? Adakah manusia yang rela memberikan jantungnya dan mati setelahnya? Mungkin ada, tapi aku tidak dapat memastikannya atas mereka. Tidak akan ada yang dirugikan jika aku dipanggil Sang Pemilik Ruh. Namun, mungkin yang menyesal akan banyak.
Kerikil memang akan selamanya jadi kerikil. Mereka mungkin terkikis oleh air hujan yang turun dari genting secara berkelanjutan dan bergerombol. Akan tetapi, tidak ada air hujan yang setia. Mereka sealu terkalahkan oleh cahaya yang menelisik, terik matahari. Oleh karena itu, kerikil akan selamanya tajam. Membuat luka pada siapa pun yang mengusik keberadaanya, daerah kekuasaannya.
***
“Tuhan tidak akan meninggalkanmu sendirian, bahkan saat kau merasa sendiri.”
            Meski sendiri, aku selalu mengingat-Nya. Seorang bijak pernah megatakan kepadaku bahwa kelak aku akan mati, sendiri. Tidak mungkin minta ditemani. Tidak mungkin minta diberikan fasilitas dan tempat tidur terbaik, di kuburan. Jadi, apa bedanya dengan keadaanku sekarang? Aku di sini, di hutan belantara. Tidak ada petunjuk arah dan papan keterangan. Semuanya serba baru dan penuh risiko. Semili saja salah melangkah, aku akan tersesat, menjadi sampah masyarakat. Korban perbudakan kehidupan.
            Penghuni hutan belantara tidak hanya hanoman, ada juga tingang. Tidak seperti hanoman, tingang cenderung hitam. Yang menyeramkan, tingang suka beradu peran. Teater adalah dunia mereka. Menjadi pelakon adalah kesenangan tidak terhingga bagi mereka. Aku adalah badut penghibur pertunjukkan teater. Tidak berhidung merah, tapi berwajah pasrah.
***
“Aku ingin pulang, tapi tidak kunjung kutemukan rumah. Aku ingin memberikan kedamaian, tapi tidak kunjung mereka melihat beratnya perjuangan. Aku ingin melihatmu tersenyum penuh kebanggaan, tapi kau hanya mengukur dengan dunia. Aku ingin rumahku sendiri. Akan tetapi, aku belum memilikinya.”

(Palangka Raya, 10 Maret 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar